KABARBURSA.COM - PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpikir ulang untuk bisa menambah investor. Caranya, Grup Sinarmas itu mengeluarkan jurus stock split agar harga bisa dibeli investor kecil. Stock split artinya pemecahan nilai saham menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai total kepemilikan investor.
Diketahui, harga DSSA saat ini berada di level 98.225, level yang sangat premium dan sulit dijangkau. Karenanya, perusahaan berencana melakukan pemecahan nilai saham dengan rasio 1:25. Pasar membaca rencana ini sebagai langkah strategis untuk membuka akses likuiditas yang relatif sempit.
Secara fundamental kebijakan, manajemen DSSA menegaskan bahwa harga saham yang mahal membuat nilai transaksi minimal per lot hanya dapat dijangkau sebagian kecil investor. Kondisi ini tercermin dari karakter perdagangan DSSA selama ini yang cenderung tipis dari sisi frekuensi, meski nilai transaksi per hari kerap besar.
Dengan stock split, harga saham secara teoritis akan turun signifikan, sehingga basis investor berpotensi meluas dan likuiditas perdagangan meningkat. Penegasan bahwa aksi ini tidak mengubah nilai kepemilikan pemegang saham juga menjadi penenang bagi pasar, terutama bagi investor eksisting.
Persetujuan prinsip dari Bursa Efek Indonesia (BEI yang telah dikantongi sejak 20 Januari 2026 memperkuat kredibilitas rencana ini. Jadwal yang relatif jelas, mulai dari RUPSLB pada 11 Maret 2026 hingga dimulainya perdagangan saham dengan nominal baru pada 7 April 2026, memberi kepastian waktu bagi pelaku pasar untuk melakukan penyesuaian strategi.
Penegasan manajemen bahwa tidak ada rencana aksi korporasi lain dalam enam bulan pasca stock split juga menutup ruang spekulasi tambahan yang berpotensi mengganggu struktur permodalan.
DSSA Menguat Lima Persen di Sesi Pagi
Sentimen tersebut tercermin pada pergerakan saham DSSA dalam perdagangan hari ini, Jumat, 30 Januari 2026. Saham DSSA bergerak menguat dengan volatilitas intraday yang relatif terkendali. Berdasarkan data perdagangan, DSSA ditutup di level 98.700, menguat sekitar 5 persen dari hari sebelumnya.
Sepanjang sesi, harga sempat bergerak di rentang 94.050 hingga 101.150, menunjukkan adanya tarik-menarik antara aksi beli berbasis sentimen korporasi dan tekanan ambil untung jangka pendek di area psikologis 100.000.
Struktur orderbook memperlihatkan dominasi antrian beli di area 98.000–98.800 dengan frekuensi dan lot yang cukup rapat, menandakan minat akumulasi masih bertahan meski harga sudah naik signifikan.
Total frekuensi transaksi yang mencapai ratusan kali memperlihatkan aktivitas yang lebih hidup dibandingkan pola normal DSSA, sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap peningkatan likuiditas pasca stock split.
Di sisi lain, suplai di atas 99.000 tetap muncul, menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar memanfaatkan momentum ini untuk merealisasikan keuntungan jangka pendek.
Tren Naik Masih Ada
Jika dilihat dari grafik harian, DSSA masih bergerak dalam tren naik menengah yang terbentuk sejak pertengahan 2025. Koreksi yang sempat terjadi pada November lalu tidak mengubah struktur besar tren, dan pergerakan saat ini berada dalam fase konsolidasi sehat di area atas.
Lonjakan volume yang muncul di beberapa titik historis mengindikasikan bahwa saham ini kerap mengalami re-pricing bertahap, bukan lonjakan spekulatif sesaat.
Dengan kombinasi sentimen aksi korporasi yang jelas, dukungan regulasi, serta struktur teknikal yang masih terjaga, arah gerak DSSA dalam jangka pendek cenderung fluktuatif namun dengan bias positif. Selama harga mampu bertahan di atas area konsolidasi 95.000–96.000, ruang untuk kembali menguji area 100.000 masih terbuka.
Namun, menjelang RUPSLB dan semakin dekatnya jadwal pelaksanaan stock split, volatilitas berpotensi meningkat seiring masuknya strategi akumulasi dan profit taking secara bergantian.
Perdagangan hari ini menunjukkan bahwa pasar merespons rencana stock split DSSA secara konstruktif, bukan euforia berlebihan. Sentimen yang terbentuk lebih bersifat struktural, dengan fokus pada potensi likuiditas dan perluasan basis investor, sehingga arah pergerakan harga ke depan akan sangat dipengaruhi oleh konsistensi minat beli dan dinamika transaksi menjelang realisasi aksi korporasi tersebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.