Logo
>

Harapan Damai Iran Bikin Wall Street Hijau Lagi, tapi Pasar Masih Terombang-ambing

Wall Street menguat dan harga minyak turun setelah harapan damai Iran muncul, namun pasar global masih diliputi ketidakpastian.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harapan Damai Iran Bikin Wall Street Hijau Lagi, tapi Pasar Masih Terombang-ambing
Harapan damai Iran dorong Wall Street menguat dan harga minyak turun, namun pasar global masih fluktuatif akibat ketidakpastian konflik. Foto: The Wall Street Experience

KABARBURSA.COM — Harapan meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai memberi napas ke pasar global. Bursa saham di Wall Street kembali menguat, sementara harga minyak turun setelah muncul rencana penghentian sementara perang.

Dilansir dari AP, Kamis, 26 Maret 2026, Indeks S&P 500 naik 0,7 persen dalam perdagangan terbaru. Dow Jones menguat 360 poin atau 0,8 persen, sementara Nasdaq melonjak 1 persen. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat mengajukan rencana jeda perang kepada Iran.

Namun pergerakan pasar belum sepenuhnya stabil. Sepanjang pagi, indeks sempat berbalik arah dan hampir menghapus kenaikan awal yang sempat menyentuh 1,2 persen. Sejak konflik pecah lebih dari tiga pekan lalu, pasar keuangan global bergerak liar dari jam ke jam, mencerminkan ketidakpastian yang belum juga reda.

Ketegangan kembali meningkat setelah Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat. Media pemerintah Iran bahkan mengutip pernyataan pejabat anonim yang menegaskan sikap negaranya. “Iran akan mengakhiri perang ketika Iran memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syaratnya sendiri terpenuhi,” demikian keterangan negeri Mullah tersebut.

Di tengah situasi itu, Iran masih melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Arab Teluk. Salah satu serangan memicu kebakaran besar di Bandara Internasional Kuwait. Di sisi lain, Amerika Serikat juga meningkatkan kehadiran militernya dengan mengerahkan pasukan tambahan ke kawasan tersebut.

Meski begitu, optimisme tetap terlihat di pasar global. Bursa saham di London, Paris, dan Shanghai naik lebih dari 1 persen, sementara indeks Nikkei di Tokyo melonjak hingga 2,9 persen.

Dari sisi energi, harga minyak justru bergerak turun. Harga minyak mentah Brent anjlok 3,5 persen mendekati USD96 per barel atau sekitar Rp1.622.400. Penurunan ini dipicu harapan bahwa ketegangan mereda sehingga distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia bisa kembali lancar.

Sebelumnya, gangguan di Selat Hormuz sempat membuat harga Brent melonjak mendekati USD120 per barel atau sekitar Rp2.028.000. Banyak kapal tanker masih tertahan di jalur tersebut, sehingga pasokan energi global ikut tersendat.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat juga mulai melandai. Yield obligasi tenor 10 tahun turun ke level 4,32 persen dari sebelumnya 4,39 persen. Meski demikian, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan posisi sebelum perang yang berada di kisaran 3,97 persen.

Penurunan yield ini berpotensi menahan kenaikan suku bunga kredit, termasuk kredit perumahan, yang sebelumnya terdorong naik akibat ketegangan geopolitik. Dengan begitu, tekanan terhadap perekonomian global bisa sedikit mereda, meski bayang-bayang konflik masih membayangi pasar.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).