KABARBURSA.COM – Saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bergerak menguat di tengah rebound harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global dan munculnya perhatian pasar terhadap rencana ekspor satu pintu lewat Danantara.
Pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, saham AALI naik 2,66 persen atau menguat 175 poin ke level 6.750. Saham perkebunan milik Grup Astra tersebut bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.850.
Penguatan AALI terjadi ketika harga CPO berjangka Malaysia kembali melanjutkan kenaikan mingguan keduanya. Kontrak acuan pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik ke 4.552 ringgit per ton metrik.
Sepanjang pekan berjalan, harga sawit Malaysia tercatat sudah menguat sekitar 1,47 persen. Kenaikan tersebut dipicu penguatan minyak nabati pesaing di pasar Dalian dan ekspektasi perdagangan menjelang libur panjang awal Juni.
Pasar langsung bereaksi. Dari data perdagangan intraday, antrean bid AALI terlihat cukup tebal di area 6.600 hingga 6.725. Minat beli mulai muncul saat harga CPO kembali menguat.
Tekanan beli juga terlihat lebih dominan dibanding antrean jual. Total antrean bid mencapai 14.420 lot dengan frekuensi 732 kali, sedangkan antrean offer hanya sekitar 2.905 lot dengan frekuensi 178 kali.
Ekspor Satu Pintu DSI
Namun di tengah penguatan harga sawit, perhatian pasar kini juga tertuju pada rencana pemerintah terkait kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Menanggapi hal tersebut, AALI mengaku belum dapat menyimpulkan dampak kebijakan tersebut terhadap operasional maupun kondisi keuangan perusahaan. Pernyataan itu disampaikan manajemen dalam jawaban resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan AALI Tinghin Sukowigjono, menyebut perseroan hingga kini belum menerima salinan resmi regulasi terkait tata kelola ekspor sumber daya alam tersebut.
Karena itu, AALI belum dapat memberikan penjelasan lebih rinci mengenai dampak kebijakan ekspor satu pintu terhadap kegiatan usaha maupun kerja sama bisnis yang sudah berjalan.
“Perseroan belum dapat memberikan tanggapan secara lebih terperinci ataupun menyimpulkan secara komprehensif dampak penerapan kebijakan tersebut terhadap perseroan,” tulis manajemen dalam surat kepada BEI.
Sebelumnya, pemerintah berencana menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam. Dalam skema tersebut, ekspor sejumlah komoditas strategis termasuk CPO akan dilakukan secara terpusat melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.
Kebijakan ini mulai memunculkan perhatian pasar karena berpotensi mengubah mekanisme perdagangan dan rantai distribusi ekspor CPO nasional. Terlebih Indonesia merupakan salah satu eksportir sawit terbesar dunia.
Impor Minyak Nabati Melambat
Di sisi lain, pasar global juga masih mencermati perlambatan impor minyak nabati dunia. Data Komisi Eropa menunjukkan impor minyak sawit Uni Eropa musim 2025/2026 turun 4 persen menjadi 2,55 juta ton hingga 24 Mei 2026.
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan harga CPO berpotensi kembali turun menuju 4.501 ringgit per ton setelah gagal menembus resistance di 4.583 ringgit. Artinya, volatilitas harga sawit global diperkirakan masih akan cukup tinggi dalam jangka pendek.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan saham AALI kini berada di antara dua sentimen besar. Di satu sisi harga CPO mulai pulih dan mendorong optimisme sektor sawit, tetapi di sisi lain pasar masih menunggu kejelasan aturan ekspor satu pintu melalui Danantara.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.