Logo
>

Harga Emas Dunia Melemah, Dolar dan Yield jadi Penekan

Harga emas turun ke kisaran USD5.000 per troy ounce akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi global.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Harga Emas Dunia Melemah, Dolar dan Yield jadi Penekan
Ilustrasi harga emas dunia. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Harga emas dunia kembali melemah dalam perdagangan terbaru, turun ke kisaran USD5.020 hingga USD5.080 per troy ounce. Penurunan ini terjadi seiring tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi global.

Berdasarkan data pasar, emas mencatat penurunan harian sekitar USD55 hingga USD70, atau setara -1,0 persen hingga -1,2 persen dan mencerminkan berlanjutnya tekanan jual dalam jangka pendek.

Secara intraday, harga sempat menyentuh level tertinggi di sekitar USD5.080 per ons, sebelum terkoreksi hingga mendekati USD4.960 per ons. Adapun harga penutupan sebelumnya berada di kisaran USD5.022 per troy ounce.

Dalam lima hari terakhir, pergerakan emas menunjukkan tren koreksi bertahap. Harga yang sebelumnya sempat berada di atas USD5.200 per ons kini terus melemah, dengan penurunan tajam terjadi saat harga turun dari kisaran USD5.130 menuju area psikologis USD5.000.

Tekanan terhadap emas terutama datang dari faktor makro global. “Kenaikan dolar dan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil,” kata analis pasar komoditas, dikutip dari Reuters, 21 Maret 2026.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang masih tinggi juga menjadi faktor utama yang menahan penguatan harga emas.

“Ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi menjadi faktor utama yang menekan harga emas saat ini,” kata analis pasar, dikutip dari Reuters, 21 Maret 2026.

Penguatan imbal hasil obligasi dan dolar AS juga mendorong investor mengalihkan dana ke aset berbasis yield.

“Kenaikan imbal hasil dan dolar yang lebih kuat membuat investor menjauh dari emas meskipun ketegangan geopolitik meningkat,” kata analis pasar global, dikutip dari Reuters, 22 Maret 2026.

Pelemahan ini terjadi setelah emas mencatat reli signifikan sejak awal tahun dan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di sekitar USD5.594 per troy ounce pada Januari 2026.

Meski terkoreksi, posisi harga saat ini masih tergolong tinggi secara historis dan berada tidak jauh dari level puncak 52 minggu di atas USD5.500 per ons.

Secara umum, pasar saat ini berada dalam fase konsolidasi, dengan pelaku pasar menunggu arah kebijakan moneter global berikutnya sebagai penentu pergerakan emas selanjutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.