Logo
>

Harga Minyak Cenderung Datar di Tengah Lonjakan Stok AS dan Bayang Konflik Iran

Stok minyak AS melonjak 16 juta barel, namun ketegangan AS–Iran dan rencana OPEC Plus menahan tekanan harga.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Minyak Cenderung Datar di Tengah Lonjakan Stok AS dan Bayang Konflik Iran
Harga minyak Brent dan WTI bergerak datar meski stok AS naik 16 juta barel, pasar tetap cemas konflik AS dan Iran. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia bergerak nyaris tanpa arah pada penutupan perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat yang jauh di atas perkiraan pasar gagal meredakan kegelisahan pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat memanasnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Dilansir dari Reuters, Kamis, 26 Februari 2026, minyak Brent ditutup menguat tipis USD70,85 per barel atau setara sekitar Rp1,19 juta per barel, naik 8 sen. Sementara West Texas Intermediate justru turun 21 sen ke posisi USD65,42 per barel atau sekitar Rp1,10 juta per barel.

Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan persediaan minyak mentah melonjak 16 juta barel dalam sepekan. Angka ini jauh melampaui perkiraan analis yang sebelumnya hanya memproyeksikan kenaikan sekitar 1,5 juta barel. Lonjakan stok terjadi ketika tingkat operasi kilang menurun dan impor meningkat.

Meski secara fundamental kabar ini tergolong negatif bagi harga, dampaknya ke pasar relatif terbatas. Penyesuaian data yang mencatat perubahan stok minyak yang tidak terhitung bahkan mencapai rekor 2,7 juta barel per hari.

“Laporan EIA yang bersifat negatif dengan kenaikan stok yang besar hanya memberi dampak terbatas karena pasar minyak saat ini lebih dipengaruhi faktor lain seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” kata analis komoditas UBS Giovanni Staunovo.

Pasar Lebih Cemas pada Risiko Pasokan

Kekhawatiran pasokan muncul setelah Amerika Serikat menempatkan kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah untuk menekan Iran agar bersedia bernegosiasi terkait program nuklir dan rudal balistik. Situasi ini sebelumnya sempat mendorong harga Brent menyentuh level tertinggi sejak akhir Juli, sementara WTI mencapai posisi tertinggi sejak awal Agustus.

Konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu produksi dan ekspor Iran yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak. Gangguan di kawasan tersebut juga dapat merembet ke negara produsen lain di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidato kenegaraan menyatakan tidak akan membiarkan negara yang ia sebut sebagai sponsor utama terorisme dunia memiliki senjata nuklir. Di saat yang sama, utusan Washington dijadwalkan kembali bertemu delegasi Iran di Jenewa untuk melanjutkan perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kesepakatan dengan Amerika Serikat sebenarnya sudah dekat jika diplomasi dikedepankan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Arab Saudi disebut telah menyiapkan rencana peningkatan produksi dan ekspor minyak dalam jangka pendek untuk menutup potensi kekosongan pasokan jika konflik benar-benar terjadi. Langkah ini dinilai sebagai bantalan agar pasar tidak mengalami guncangan tajam.

Pelaku pasar juga menunggu keputusan OPEC Plus yang diperkirakan mempertimbangkan kenaikan produksi sekitar 137 ribu barel per hari mulai April. Opsi ini muncul setelah tiga bulan penundaan peningkatan output dan seiring persiapan menghadapi puncak permintaan musim panas. Delapan negara utama dalam aliansi tersebut dijadwalkan bertemu pada 1 Maret untuk membahas arah kebijakan produksi.

Menurut Dennis Kissler dari BOK Financial, pertanyaan utama pasar saat ini bukan lagi soal data persediaan, melainkan seberapa besar produksi dan ekspor Iran akan terganggu jika terjadi serangan.

“Banyak pelaku pasar percaya Arab Saudi bisa dengan cepat meningkatkan produksi untuk mengisi kekosongan dan kehadiran militer AS menjaga jalur Selat Hormuz tetap terbuka. Namun harga minyak tetap bergerak dalam kondisi gelisah sambil menunggu hasil pertemuan,” ujarnya.

Di luar faktor geopolitik, pasar juga dibayangi kebijakan tarif global Amerika Serikat. Pengenaan tarif sementara sebesar 10 persen yang berlaku pekan ini disebut berpotensi naik menjadi 15 persen, meski waktu penerapannya belum jelas.

Ketidakpastian arah kebijakan perdagangan tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap prospek permintaan energi global sehingga pergerakan harga minyak cenderung tertahan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).