Logo
>

Harga Minyak Naik, Bursa Saham AS Tetap Tenang di Tengah Perang Iran

Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran tidak mengguncang Wall Street. S&P 500 dan Nasdaq bergerak stabil meski pasar energi global memanas.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Minyak Naik, Bursa Saham AS Tetap Tenang di Tengah Perang Iran
Harga minyak dunia melonjak akibat perang Iran dan gangguan Selat Hormuz, namun pasar saham Amerika tetap relatif stabil di tengah kekhawatiran inflasi global. Foto: Dok. The Wall Street Experience

KABARBURSA.COM — Pergerakan pasar saham Amerika Serikat cenderung tenang pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026, meski harga minyak dunia kembali melonjak akibat konflik yang melibatkan Iran di Timur Tengah. Dilansir dari AP, indeks S&P 500 hanya turun tipis sekitar 0,1 persen. Pergerakan ini menjadi lanjutan dari perdagangan yang relatif stabil setelah sebelumnya pasar sempat bergejolak akibat dampak perang.

Sementara itu indeks Dow Jones Industrial Average turun sekitar 289 poin atau sekitar 0,6 persen. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq justru naik tipis sekitar 0,1 persen. Sejak konflik dimulai, pergerakan harga minyak yang tajam memicu fluktuasi pasar keuangan global. Kenaikan maupun penurunan harga minyak bahkan bisa memicu perubahan arah pasar dalam hitungan jam.

Pekan ini harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak 2022. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa produksi energi di Timur Tengah dapat terganggu dalam waktu lama. Situasi itu memunculkan kekhawatiran baru tentang potensi lonjakan inflasi global yang dapat menekan perekonomian dunia.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency menyatakan negara-negara anggotanya akan melepas cadangan minyak darurat dalam jumlah besar. Total minyak yang akan dilepas mencapai sekitar 400 juta barel dari cadangan strategis yang disiapkan untuk kondisi krisis.

Langkah tersebut diperkirakan dapat menekan harga minyak dalam jangka pendek. Namun pasar energi global diperkirakan baru benar-benar stabil jika aliran minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia kembali berjalan normal. Kondisi itu membuat investor global menunggu perkembangan konflik dengan penuh kewaspadaan.

Harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik sekitar 4,8 persen menjadi USD91,98 per barel atau sekitar Rp1,55 juta per barel. Sementara itu minyak mentah Amerika Serikat juga naik sekitar 4,6 persen menjadi USD87,25 per barel atau sekitar Rp1,47 juta per barel.

Kekhawatiran terbesar pasar energi saat ini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur laut sempit di dekat pantai Iran itu menjadi jalur penting bagi distribusi minyak dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut setiap harinya.

Perang yang terjadi membuat sebagian besar lalu lintas kapal pengangkut minyak di kawasan itu terhenti. Akibatnya tangki penyimpanan minyak di wilayah sekitar mulai penuh karena minyak tidak dapat segera dikirim ke pasar..Kondisi tersebut mendorong sejumlah produsen minyak mempertimbangkan untuk menurunkan produksi.

Amerika Serikat menyatakan pada Selasa lalu pihaknya menghancurkan lebih dari selusin kapal Iran yang diduga memasang ranjau laut. Sebagai balasan, pemerintah Iran menyatakan akan menghalangi ekspor minyak dari kawasan tersebut. Pemerintah Iran menegaskan tidak akan membiarkan “bahkan satu liter pun minyak dikirim kepada musuh-musuhnya.”

Ketegangan ini terjadi ketika inflasi di Amerika Serikat masih berada pada level relatif tinggi. Laporan terbaru menunjukkan harga kebutuhan rumah tangga seperti bahan makanan, bensin, dan berbagai biaya hidup lainnya pada Februari tercatat 2,4 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Angka inflasi tersebut memang masih sama dengan bulan sebelumnya dan sedikit lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memperkirakan sekitar 2,5 persen. Namun tingkat inflasi tersebut masih berada di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Selain itu data inflasi tersebut juga belum memperhitungkan kenaikan harga bensin yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir akibat perang. Strategis global Wells Fargo Investment Institute Gary Schlossberg memperkirakan lonjakan harga energi akan memicu tekanan inflasi baru dalam beberapa bulan mendatang.

“Kami memperkirakan inflasi akan meningkat pada musim semi karena lonjakan harga energi yang dipicu perang Iran. Durasi konflik ini akan sangat menentukan posisi inflasi hingga akhir tahun,” ujarnya.

Kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat dapat memicu kondisi yang disebut stagflasi..Situasi tersebut dianggap sebagai skenario terburuk bagi perekonomian karena bank sentral memiliki ruang kebijakan yang terbatas untuk mengatasinya.

Kekhawatiran stagflasi meningkat bukan hanya karena harga minyak yang melonjak, tetapi juga karena perlambatan perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat. Di Wall Street, sebagian besar saham mengalami penurunan. Saham Campbell turun sekitar 7,1 persen setelah perusahaan makanan tersebut melaporkan laba kuartalan yang lebih rendah dari perkiraan analis.

Perusahaan juga menurunkan proyeksi pendapatan dan laba untuk tahun fiskal berjalan akibat melemahnya bisnis makanan ringan. Di sisi lain, saham Oracle justru melonjak sekitar 9,2 persen dan membantu menahan penurunan pasar.

Perusahaan teknologi tersebut melaporkan laba dan pendapatan yang lebih tinggi dari perkiraan analis. Oracle juga menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahun depan seiring meningkatnya permintaan layanan komputasi awan untuk kebutuhan kecerdasan buatan.

Secara keseluruhan indeks S&P 500 turun sekitar 5,68 poin menjadi 6.775,80. Indeks Dow Jones turun sekitar 289,24 poin menjadi 47.417,27. Sementara Nasdaq naik sekitar 19,03 poin menjadi 22.716,13. Di pasar saham global, indeks di Eropa melemah setelah sebelumnya pasar Asia mencatatkan kinerja yang lebih baik.

Indeks DAX Jerman turun sekitar 1,4 persen. Sementara indeks Nikkei 225 Jepang naik sekitar 1,4 persen. Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat juga mengalami kenaikan seiring tekanan dari lonjakan harga minyak.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi sekitar 4,22 persen dari posisi sebelumnya sekitar 4,15 persen. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan tekanan terhadap berbagai aset investasi lainnya karena dapat menekan harga aset berisiko.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).