Logo
>

Harga Minyak Tembus USD100, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Risiko Global

Harga minyak dunia bertahan di atas USD100 per barel akibat premi risiko geopolitik, meski fundamental pasar belum menunjukkan tekanan pasokan.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Harga Minyak Tembus USD100, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Risiko Global
Ilustrasi kenaikan harga minyak dunia. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia bertahan di level tinggi pada perdagangan Rabu, 25 Maret 2026. Harga Brent tetap berada di atas USD100 per barel. Level ini didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, bukan oleh kondisi fundamental pasar.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak Brent berada di kisaran USD101,20 per barel, naik sekitar 1,1 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,3 persen ke level USD96,30 per barel pada sesi Asia hingga awal perdagangan Eropa.

Kenaikan tersebut mencerminkan pasar yang saat ini lebih banyak digerakkan oleh premi risiko geopolitik, terutama terkait eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran serta potensi gangguan distribusi energi global.

Head of Commodities Strategy ING, Warren Patterson, menilai pergerakan harga saat ini belum mencerminkan kondisi pasokan riil.

“Pasar saat ini memasukkan premi risiko geopolitik, bukan karena kekurangan pasokan nyata,” ujar Patterson, dikutip dari Reuters, 23 Maret 2026.

Kekhawatiran utama pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Setiap indikasi gangguan di kawasan tersebut langsung memicu lonjakan harga karena potensi disrupsi besar terhadap suplai global.

Sementara itu, Head of Global Commodity Strategy RBC Capital Markets, Helima Croft, menyebut ketidakpastian di kawasan tersebut menjadi faktor utama penggerak pasar saat ini.

“Penggerak utama saat ini adalah ketidakpastian geopolitik terkait Iran dan potensi gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz,” kata Croft dalam laporan Bloomberg, 22 Maret 2026.

Meski demikian, dari sisi fundamental, pasar tidak menunjukkan tekanan yang sebanding dengan kenaikan harga. Data terbaru menunjukkan stok minyak mentah Amerika Serikat justru meningkat, sementara permintaan global belum mengalami lonjakan signifikan dan produksi relatif stabil.

Kondisi ini membuat sebagian analis menilai reli harga minyak saat ini rentan terhadap koreksi apabila ketegangan geopolitik mereda.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan harga minyak dapat dengan cepat berbalik arah jika faktor risiko mulai mereda.

“Jika ketegangan mereda, harga kemungkinan akan turun karena fundamental saja tidak cukup mendukung level saat ini,” ujar Staunovo, dikutip dari Reuters, 22 Maret 2026.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak saat ini dinilai lebih mencerminkan pasar yang digerakkan oleh sentimen risiko dibandingkan keseimbangan permintaan dan pasokan, membuat volatilitas tetap tinggi dalam jangka pendek. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.