KABARBURSA.COM — Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026, setelah konflik Iran memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global. Lonjakan harga terjadi meski sejumlah negara besar sepakat melepas cadangan minyak strategis untuk menahan tekanan pasar.
Dilansir dari Trading Economics, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate tercatat kembali melampaui USD90 per barel atau sekitar Rp1,52 juta per barel. Kenaikan ini sekaligus menjadi penguatan dua hari berturut-turut di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Laporan pasar menyebut konflik yang melibatkan Iran terus menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dinilai lebih kuat dibandingkan upaya negara-negara besar yang mencoba menstabilkan pasar melalui pelepasan cadangan minyak.
Iran disebut menyampaikan kepada pihak perantara bahwa gencatan senjata hanya bisa dipertimbangkan jika Amerika Serikat memberikan jaminan bahwa Washington maupun Israel tidak akan melakukan serangan terhadap Iran di masa depan.
Namun pemerintah Amerika Serikat diperkirakan tidak akan menerima syarat tersebut sehingga peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat semakin kecil.
Situasi di kawasan Selat Hormuz juga masih memanas. Jalur pelayaran energi yang sangat vital itu dilaporkan praktis tidak dapat digunakan setelah sejumlah kapal komersial dilaporkan terkena serangan di perairan Iran.
Kondisi ini mendorong sejumlah produsen minyak besar di Timur Tengah mengurangi produksi secara signifikan. Pengurangan tersebut membuat pasokan minyak dunia semakin ketat dan mendorong harga energi naik lebih tinggi.
Di sisi lain, negara-negara anggota Badan Energi Internasional atau IEA mencoba menahan lonjakan harga dengan menyetujui pelepasan cadangan minyak darurat dalam jumlah besar.
IEA menyetujui pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggotanya. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat akan melepas sekitar 172 juta barel, sementara Jepang berencana melepas sekitar 80 juta barel minyak ke pasar global.
Langkah tersebut menjadi pelepasan cadangan minyak darurat terbesar yang pernah dilakukan lembaga tersebut. Namun hingga kini kebijakan itu belum mampu meredam kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.