KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi meskipun muncul sinyal de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya percaya bahwa upaya perdamaian akan benar-benar terealisasi di lapangan.
Berdasarkan data terbaru, harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$112,57 per barel, naik sekitar 4,2 persen dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level US$99,64 per barel, menguat sekitar 5,5 persen.
Kenaikan tersebut mencerminkan bahwa pasar masih mempertahankan premi risiko geopolitik, meskipun pembicaraan damai mulai mengemuka.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan pasar minyak saat ini berada dalam fase skeptisisme tinggi terhadap perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
“Pasar minyak saat ini cenderung sangat skeptis dan kemungkinan besar tidak akan melakukan pricing in secara penuh dalam waktu singkat,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Kamis, 26 Maret 2026.
Menurut dia, pengalaman historis membuat pelaku pasar tidak mudah percaya terhadap sinyal perdamaian yang belum memiliki bukti konkret.
“Pasar sering melihat pengumuman serupa yang berakhir gagal di meja perundingan. Investor akan menunggu bukti fisik, seperti kembalinya kapal tanker yang melintas tanpa pengawalan militer ekstra,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan laporan Reuters yang menyebut kenaikan harga minyak terbaru didorong oleh keraguan pelaku pasar terhadap proposal gencatan senjata.
“Kenaikan harga saat ini mencerminkan skeptisisme trader terhadap proposal gencatan senjata,” tulis Reuters dalam laporannya pada 27 Maret 2026.
Selain faktor psikologis pasar, kompleksitas negosiasi juga menjadi penghambat turunnya harga. Wahyu menilai sejumlah syarat dalam pembicaraan, termasuk terkait isu nuklir Iran, tidak mudah disepakati dalam waktu singkat.
“Selama Iran belum memberikan sinyal teknis yang jelas, seperti mengizinkan inspeksi penuh, pasar akan tetap menahan sebagian premi risiko,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, pergerakan harga minyak cenderung berlangsung bertahap dan tidak langsung mencerminkan kabar positif.
“Reaksi awal mungkin hanya berupa penurunan sekitar USD2–3 atau maksimal USD10 sebagai respons terhadap berita baik, namun penurunan total baru terjadi saat implementasi poin-poin krusial benar-benar dimulai,” kata Wahyu.
Analis Julius Baer, Norbert Rucker, juga menilai harga minyak saat ini masih dipenuhi faktor geopolitik. “Harga minyak saat ini mengandung premi risiko geopolitik yang cukup besar,” ujarnya seperti dikutip Reuters, Jumat, 27 Maret 2026.
Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar, mengingat jalur tersebut melayani sekitar 20 persen konsumsi minyak global. Selama risiko gangguan di jalur ini belum benar-benar hilang, investor cenderung mempertahankan posisi defensif.
Di sisi lain, Wahyu mengingatkan arah harga minyak masih sangat bergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Jika kesepakatan damai benar-benar terealisasi dan keamanan jalur distribusi terjamin, harga minyak berpotensi mengalami koreksi lebih dalam.
Namun sebaliknya, jika negosiasi gagal dan konflik kembali meningkat, pasar dapat bereaksi sangat cepat.
“Jika eskalasi terjadi dan diikuti gangguan di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak dalam waktu singkat karena kepanikan pasar dan tidak adanya kapasitas cadangan yang cukup untuk menggantikan pasokan,” ujarnya.
Dengan demikian, harga minyak saat ini tidak hanya mencerminkan kondisi fundamental pasar, tetapi juga tingkat kepercayaan investor terhadap prospek stabilitas geopolitik di Timur Tengah. Selama ketidakpastian masih tinggi, penurunan harga diperkirakan akan berlangsung terbatas meskipun ada sinyal damai. (*)