Logo
>

Harga Nikel Turun, Laba INCO 2025 Justru Naik 32 Persen

Produksi stabil, efisiensi biaya, dan tambahan pendapatan saprolit menopang kinerja di tengah tekanan harga global.

Ditulis oleh Syahrianto
Harga Nikel Turun, Laba INCO 2025 Justru Naik 32 Persen
Kinerja ini terjadi saat harga realisasi nikel turun 7 persen menjadi USD12.157 per ton. (Foto: Dok. Vale Indonesia)

KABARBURSA.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba bersih USD76,1 juta pada 2025, meningkat 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini terjadi saat harga realisasi nikel turun 7 persen menjadi USD12.157 per ton.

Direktur dan Chief Financial Officer (CFO) Vale Indonesia Rizky Putra menyampaikan kinerja tersebut mencerminkan ketahanan operasional perusahaan. Ia menyebut capaian ini ditopang produksi yang stabil serta pengelolaan biaya yang disiplin di tengah tekanan pasar global.

“Perseroan mencatat kinerja operasional yang solid pada 2025 dengan produksi yang terjaga dan efisiensi yang terus diperkuat,” ujar Rizky dalam siaran pers perusahaan, dikutip Kamis, 19 Maret 2026.

Produksi nikel dalam matte mencapai 72.027 ton sepanjang 2025, meningkat dari 71.311 ton pada 2024. Sementara volume penjualan tercatat 73.093 ton, naik dari 72.625 ton.

Secara triwulanan, produksi 4T25 sebesar 17.052 ton, turun dibandingkan 3T25 sebesar 19.391 ton. Penurunan ini terjadi seiring dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 sejak November 2025 yang ditargetkan selesai pada Mei 2026.

Pendapatan INCO tercatat USD990,2 juta pada 2025, meningkat 4 persen dibandingkan USD950,4 juta pada tahun sebelumnya. Secara kuartalan, pendapatan 4T25 mencapai USD284,8 juta, naik 2 persen dari triwulan sebelumnya.

EBITDA mencapai USD228,2 juta, sedikit meningkat dari USD225,9 juta pada 2024. Namun secara triwulanan, EBITDA 4T25 sebesar USD61,9 juta, turun 17 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Dari sisi biaya, cash cost nikel matte tercatat USD9.339 per ton, turun dari USD9.374 per ton dan menjadi level terendah dalam empat tahun terakhir. Sementara biaya bijih nikel berada di kisaran USD17 hingga USD19 per ton.

INCO juga mencatat kontribusi baru dari penjualan bijih nikel saprolit sebesar 2.316.023 wet metric tons. Kontribusi terbesar berasal dari Blok Bahodopi sebesar 2.017.764 wmt, sementara Blok Pomalaa menyumbang 298.259 wmt.

Kinerja operasional ini turut tercermin pada arus kas. Arus kas operasi mencapai USD234,7 juta, meningkat dari USD207,5 juta pada tahun sebelumnya. Posisi kas akhir tahun tercatat USD376,3 juta.

Belanja modal mencapai USD485,9 juta, meningkat 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Alokasi ini digunakan untuk pengembangan proyek dan sustaining capital.

Dari sisi neraca, total aset tercatat USD3,34 miliar dengan ekuitas USD2,77 miliar dan liabilitas USD570,7 juta.

Sepanjang 2025, INCO menghadapi sejumlah dinamika operasional, termasuk insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus 2025. Perusahaan juga menjalani audit IRMA pada triwulan IV serta mencatat skor ESG Sustainalytics sebesar 23,7.

Pada Juli 2025, INCO mulai melakukan penjualan bijih nikel dari Bahodopi sebagai sumber pendapatan tambahan. Perseroan juga mencatat peningkatan payability nikel matte yang mendukung kinerja pendapatan.

Di sisi pengembangan, proyek Pomalaa mencatat progres tambang sekitar 60 persen dan proyek HPAL sekitar 50 persen. Penyelesaian mekanis awal ditargetkan pada kuartal III 2026. (*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.