KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia melonjak tajam sepanjang Maret 2026 di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Analis menyebut, kenaikan ini adalah salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Melansir Reuters, harga minyak Brent berada di kisaran USD116 per barel pada perdagangan 29–30 Maret 2026. Sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai sekitar USD102,69 per barel. Keduanya mencatat kenaikan harian sekitar 3 persen dan memperpanjang tren penguatan sejak awal bulan.
Secara bulanan, lonjakan harga terlihat lebih signifikan. Brent tercatat naik sekitar 59 persen sepanjang Maret, menjadikannya salah satu kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah pasar energi modern. Sementara itu, WTI juga mencatat reli tajam dengan kenaikan lebih dari 40 persen dalam periode yang sama.
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Salah satu titik krusial berada di Selat Hormuz, yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Pengamat ekonomi dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai gangguan di jalur tersebut menjadi faktor utama lonjakan harga.
“Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair, telah mendorong harga Brent berjangka naik 59 persen sejauh ini pada bulan Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada, sementara WTI naik 58 persen bulan ini, yang tertinggi sejak Mei 2020,” kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Rabu, 1 April 2026.
Berdasarkan data yang dikumpulkan KabarBursa.com, harga WTI beberapa kali mencatat lonjakan signifikan dalam berbagai periode krisis energi global.
Pada 2020, harga minyak mengalami rebound tajam setelah kejatuhan akibat pandemi Covid-19. Pada 2 April 2020, WTI tercatat melonjak sekitar 24,7 persen dalam satu hari, dari kisaran USD20 menjadi USD25,32 per barel. Kenaikan ini didorong ekspektasi pemangkasan produksi besar oleh OPEC+.
Memasuki 2021, kenaikan harga berlangsung lebih bertahap seiring pemulihan permintaan global. Pada Juni 2021, WTI mencatat kenaikan bulanan sekitar 10 persen, bergerak dari kisaran USD63 hingga menembus USD70 per barel, didorong oleh pemulihan ekonomi pasca vaksinasi dan pembatasan produksi oleh OPEC+.
Pada 2022, lonjakan harga kembali terjadi secara tajam akibat konflik Rusia–Ukraina. Dalam periode awal Maret 2022, WTI melonjak sekitar 35 persen secara mingguan, dari kisaran USD90 hingga sempat menembus USD130 per barel secara intraday, mencerminkan kekhawatiran besar terhadap pasokan global.
Tren kenaikan berlanjut pada 2023, meskipun dengan karakter yang berbeda. Sepanjang kuartal ketiga 2023, harga WTI naik sekitar 20 hingga 25 persen, dari kisaran USD70 hingga USD90 per barel, dipicu oleh pemangkasan produksi oleh Arab Saudi dan Rusia.
Pada 2024, kenaikan harga relatif lebih moderat. Pada awal tahun, WTI mencatat kenaikan sekitar 15 hingga 20 persen, bergerak dari kisaran USD70 menuju USD85 per barel, seiring gangguan logistik global akibat konflik di Laut Merah.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, 2025 tidak mencatat lonjakan signifikan. Sepanjang tahun tersebut, harga minyak cenderung tertekan akibat kelebihan pasokan global dan tingginya produksi Amerika Serikat, dengan harga bergerak dari kisaran USD70 dan turun ke level USD57–60 per barel pada akhir tahun.
Sementara itu pada 2026, lonjakan kembali terjadi dengan intensitas tinggi. Sepanjang Maret 2026, WTI tercatat naik lebih dari 40 persen secara bulanan, dengan pergerakan dari kisaran USD60 hingga menembus USD100 per barel, dan puncak di sekitar USD102–103 per barel.
Reuters pada 3 September 2008 menyebut rekor tertinggi harga WTI terjadi pada 11 Juli 2008. Disebutkan, harga tertinggi WTI mencapai USD147,27 per barel. Pada saat itu, Reuters menyebut kenaikan harga minyak ekstrem itu terjadi karena ketidakmampuan memenuhi permintaan global dan pelemahan dolar AS.
Sementara kenaikan yang terjadi pada 2026 dipicu oleh konflik di Timur Tengah, termasuk risiko gangguan Selat Hormuz yang membawa sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Selain Hormuz, ketegangan juga meluas ke jalur Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi di kawasan tersebut turut memperbesar risiko terhadap distribusi minyak dan gas global.
Situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor permintaan dan produksi, tetapi juga sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik.
Dengan konflik yang masih berlangsung dan risiko gangguan pasokan yang belum mereda, pasar energi global memasuki periode ketidakpastian yang tinggi.(*)