KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada perdagangan Selasa, 3 Februari, menandai meredanya tekanan yang sempat membayangi pasar pada awal pekan.
Hingga penutupan sesi I, IHSG menguat 124 poin atau 1,57 persen ke level 8.047. Rebound ini berlangsung di tengah aktivitas transaksi yang tetap ramai, dengan volume perdagangan mencapai 384,0 juta lot saham dan nilai transaksi sebesar Rp17,66 triliun.
Penguatan indeks ditopang oleh pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45 yang kembali mencatatkan kenaikan signifikan. Sejumlah saham masuk jajaran top gainers, di antaranya Surya Citra Media (SCMA), Bumi Resources (BUMI), Indah Kiat Pulp & Paper (INKP), Barito Pacific (BRPT), Merdeka Copper Gold (MDKA), XL Axiata (EXCL), dan Merdeka Battery Materials (MBMA).
Di sisi lain, tekanan masih terlihat pada sebagian saham unggulan, dengan Barito Renewables Energy (BREN), Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), Telkom Indonesia (TLKM), Bukit Asam (PTBA), Semen Indonesia (SMGR), dan Bank Central Asia (BBCA) tercatat berada di zona koreksi.
Secara sektoral, mayoritas indeks sektoral bergerak di zona hijau, mencerminkan pemulihan yang relatif merata. Sektor teknologi tampil sebagai pendorong utama dengan kenaikan tertinggi sebesar 5,37 persen.
Penguatan sektor ini dipimpin oleh DCI Indonesia (DCII) yang melonjak 11,80 persen, diikuti Elang Mahkota Teknologi (EMTK) yang naik 4,82 persen, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) menguat 3,28 persen, Indointernet (EDGE) naik 2,40 persen, serta Bukalapak.com (BUKA) yang bertambah 1,44 persen.
Sebaliknya, sektor infrastruktur menjadi yang paling tertinggal dengan pelemahan 0,37 persen, seiring tekanan pada saham-saham seperti ISAT yang turun 1,35 persen, Dayamitra Telekomunikasi (MTEL) melemah 0,91 persen, dan TLKM terkoreksi 0,86 persen.
Kospi Melompat 5,86 Persen, Nikkei Melesar 3,80 Persen
Sentimen positif di pasar domestik sejalan dengan perbaikan suasana di bursa Asia. Pada perdagangan hari ini, pasar saham Asia bergerak menguat setelah volatilitas tajam di pasar global, khususnya logam mulia, mulai mereda.
Kondisi pasar yang lebih tenang turut didukung oleh data aktivitas manufaktur Amerika Serikat yang menunjukkan ekspansi untuk pertama kalinya dalam setahun pada Januari, sebagaimana tercermin dalam data indeks manajer pembelian (PMI).
Di kawasan Asia, hampir seluruh indeks utama mencatatkan penguatan. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin dengan lonjakan 5,86 persen, disusul Nikkei 225 Jepang yang melesat 3,80 persen dan Topix naik 2,99 persen.
Di China, Shanghai Composite menguat 0,38 persen, Shenzhen Component naik 0,93 persen, sementara CSI300 bertambah tipis 0,08 persen. Hang Seng Hong Kong naik 0,21 persen, Taiex Taiwan menguat 1,52 persen, dan ASX200 Australia bertambah 1,08 persen.
Pergerakan positif di Asia juga dipengaruhi kebijakan moneter Australia. Bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) menjadi bank sentral pertama di kelompok negara G10 yang menaikkan suku bunga dalam siklus ini, di luar Jepang yang memiliki jalur kebijakan tersendiri.
RBA secara bulat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,85 persen, dengan alasan inflasi yang masih berada di atas target serta pasar tenaga kerja yang tetap ketat. Keputusan tersebut mendorong penguatan dolar Australia dan menambah sentimen positif di kawasan.
Emas dan Perak Mulai Pulih
Di pasar komoditas, emas dan perak mencatatkan pemulihan tajam setelah tekanan kuat pada akhir pekan lalu. Harga emas melonjak sekitar 3 persen pada perdagangan pagi Asia ke level USD4.800 per ons, atau hampir 9 persen di atas titik terendah yang tercapai pada Senin, 2 Februari 2026.
Perak diperdagangkan sekitar 5 persen lebih tinggi di kisaran USD83,34 per ons. Fluktuasi ekstrem sebelumnya dipicu oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon pimpinan Federal Reserve.
Warsh dipandang cenderung mendorong pengurangan neraca The Fed, yang berpotensi meningkatkan imbal hasil obligasi dan menekan aset-aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.
Namun, koreksi tajam yang terjadi pada Jumat, 30 Januari 2026 dan Senin, 2 Februari 2026, dinilai melampaui faktor fundamental dan lebih mencerminkan proses penyesuaian posisi leverage di pasar global. Tekanan tersebut memaksa pelaku pasar menjual berbagai aset untuk menutup posisi yang merugi, menciptakan guncangan lintas pasar.
Christopher Forbes, kepala Asia dan Timur Tengah di CMC Markets, menyebut kondisi tersebut sebagai proses pembersihan leverage yang telah menumpuk dalam sistem.
Yen dan Rupiah Sama-sama Perkasa
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bergerak relatif stabil. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun bertahan di level 4,275 persen di Tokyo, sementara imbal hasil obligasi dua tahun yang sebelumnya melonjak di New York tetap berada di kisaran 3,57 persen.
Pergerakan ini dinilai belum mengubah ekspektasi pasar terhadap prospek penurunan suku bunga ke depan.
Di pasar valuta asing Asia, pergerakan mata uang cenderung menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,16 persen ke level 155,38 per dolar AS, dolar Singapura menguat 0,16 persen ke 1,2702 per dolar AS, dan dolar Australia melonjak 0,83 persen ke posisi 0,7004 per dolar AS.
Rupiah turut menguat 0,16 persen ke level 16.771 per dolar AS. Mata uang Asia lainnya juga mencatatkan penguatan, dengan rupee India naik 1,33 persen ke 90,2937 per dolar AS, yuan China menguat 0,09 persen ke 6,9392 per dolar AS, dan baht Thailand naik 0,33 persen ke 31,472 per dolar AS.
Secara keseluruhan, rebound IHSG pada sesi I mencerminkan respons positif pasar domestik terhadap perbaikan sentimen global dan stabilisasi volatilitas lintas aset. Penguatan yang ditopang sektor teknologi serta pergerakan positif bursa Asia menunjukkan bahwa pasar mulai kembali mencari keseimbangan, meskipun dinamika global masih akan menjadi faktor penentu arah pergerakan selanjutnya.(*)