KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali menguji level psikologis 8.300 pada perdagangan 18–20 Februari 2026. Hal ini diprakirakan terjadi di tengah fokus pasar terhadap pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada 19 Februari.
Setelah libur Imlek, 16 dan 17 Februari 2026, pelaku pasar diperkirakan kembali aktif mencermati kombinasi sentimen global dan domestik yang membentuk arah pergerakan indeks.
Dalam sepekan terakhir, IHSG menguat 3,49 persen dan menjadi sinyal awal pemulihan pasca isu indrks Morgan Stanley Capital International (MSCI), meski tekanan eksternal masih membayangi.
Sentimen global sempat tertekan setelah Moody’s memangkas outlook terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk empat bank besar nasional, yang memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas sektor keuangan.
Di sisi lain, FTSE Russell memutuskan menunda perubahan komposisi indeks terkait Indonesia karena masih menunggu hasil reformasi pasar yang tengah dijalankan Bursa Efek Indonesia dan akan melakukan review kembali pada Mei mendatang. Penundaan ini ditegaskan tidak berkaitan dengan country classification seperti yang terjadi pada MSCI.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai meski sentimen yang beredar cenderung campuran, IHSG tetap menunjukkan daya tahan.
Ia menjelaskan penguatan indeks ditopang saham-saham konglomerasi seperti BUMI, RATU dan BUVA. Namun, terjadi tekanan jual asing yang cukup besar pada Bank Central Asia Tbk dengan outflow mencapai Rp3,8 triliun dalam sepekan terakhir sehingga sahamnya terkoreksi 6,19 persen. Secara agregat, IHSG juga mencatat outflow Rp6,1 triliun dalam periode yang sama.
Kondisi tersebut mencerminkan rotasi dan selektivitas investor di tengah dinamika sentimen global dan domestik, di mana dana asing keluar dari saham perbankan besar dan beralih ke sektor atau saham tertentu yang dinilai memiliki momentum jangka pendek.
Dari pasar global, pergerakan indeks utama Amerika Serikat seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite masih akan dipengaruhi kombinasi rilis data ekonomi dan laporan kinerja emiten. Perhatian investor tertuju pada estimasi pertumbuhan GDP serta data belanja dan pendapatan konsumen yang menjadi indikator daya tahan ekonomi Amerika Serikat.
“Ketakutan investor terhadap dampak negatif AI juga berpotensi membuat volatilitas Wall Street tetap tinggi, meski bias pergerakan cenderung konstruktif selama data ekonomi menunjukkan stabilitas pertumbuhan," kata Hari dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com Rabu, 18 Februari 2026.
Sementara itu, pasar domestik diproyeksikan bergerak dinamis dengan fokus utama pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia.
Ekspektasi stabilisasi suku bunga serta sinyal arah kebijakan moneter ke depan dinilai akan sangat memengaruhi pergerakan aset berisiko di dalam negeri, terutama sektor perbankan dan properti.
“Investor juga perlu memerhatikan rilis data inflasi domestik, update neraca perdagangan, serta sentimen korporasi dari laporan keuangan emiten kuartal IV/2025 yang dapat memberikan arahan lanjutan terhadap arah IHSG," kata dia.
Data loan growth perbankan yang menunjukkan ekspansi kredit sehat juga menjadi katalis positif karena mencerminkan perbaikan permintaan di sektor riil.
Di sisi lain, perkembangan reformasi Bursa Efek Indonesia yang mencakup peningkatan transparansi dan tata kelola pasar dinilai progresif dan berpotensi memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang, khususnya untuk menarik kembali partisipasi investor asing.
Secara teknikal, IHSG saat ini berpotensi bergerak konsolidasi setelah belum berhasil menembus area resistance 8.300. Level support berada di kisaran 8.120. Selama resistance tersebut belum terlewati, pergerakan indeks cenderung sideways dengan volatilitas terbatas.(*)