Logo
>

IHSG Dekati 7.000 Jelang Lebaran, Tekanan Global Meningkat

Lonjakan harga minyak, perubahan ekspektasi suku bunga global, dan arus dana asing membentuk tekanan simultan pada pasar saham domestik.

Ditulis oleh Syahrianto
IHSG Dekati 7.000 Jelang Lebaran, Tekanan Global Meningkat
Pelemahan terjadi menjelang libur panjang Lebaran di tengah tekanan global dan domestik yang muncul bersamaan. (Foto: Kabarbursa.com/Desty Luthfiani)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis ke level 7.106 pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026. Pelemahan terjadi menjelang libur panjang lebaran di tengah tekanan global dan domestik yang muncul bersamaan.

Dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia yang diterima Kabarbursa.com, menyatakan pasar saham Indonesia bergerak lebih gelisah dibandingkan mayoritas bursa Asia dalam periode tersebut. Tekanan berasal dari kombinasi faktor geopolitik, lonjakan harga energi, arah kebijakan moneter global, serta risiko domestik yang meningkat.

“Pelemahan IHSG saat ini merupakan kombinasi tekanan global dan sensitivitas domestik yang muncul hampir bersamaan,” tulis Kiwoom dalam risetnya, dikutip Rabu, 18 Maret 2026. 

“Menjelang libur panjang, investor cenderung defensif karena pasar tidak dapat merespons perkembangan global secara langsung,” lanjut laporan tersebut.

Tekanan global dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak. Harga minyak Brent sempat mendekati USD120 per barel sebelum turun ke sekitar USD103, jauh di atas level pra-konflik di kisaran USD70.

Gangguan pada Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia turut meningkatkan volatilitas pasar energi. International Energy Agency (IEA) merespons dengan rencana pelepasan cadangan minyak global sebesar 411,9 juta barel untuk menjaga stabilitas pasokan.

Lonjakan harga energi tersebut berdampak pada ekspektasi inflasi global. Goldman Sachs memperkirakan tekanan energi dapat menaikkan inflasi global sekitar 0,5 hingga 0,6 poin persentase dan menurunkan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,3 persen dalam satu tahun ke depan.

Kondisi ini mempengaruhi arah kebijakan moneter global, khususnya di Amerika Serikat. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed turun menjadi kurang dari satu kali hingga akhir tahun, dari sebelumnya sekitar dua kali sebelum konflik meningkat.

Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tekanan yang masih bertahan. Produk domestik bruto kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen, sementara inflasi inti Core PCE tercatat 3,1 persen secara tahunan, berada di atas target 2 persen.

Perubahan ekspektasi tersebut mendorong pergerakan dana global keluar dari pasar negara berkembang. Investor global tercatat melakukan deleveraging dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat dan obligasi pemerintah AS.

Di pasar obligasi, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 4,27 persen, sementara yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat sekitar 6,82 persen. Penyempitan spread ini mengurangi daya tarik relatif aset keuangan domestik.

Tekanan Global Bergeser ke Pasar Domestik

Sejalan dengan tekanan global, IHSG mencatat penurunan signifikan dalam sepekan terakhir. Indeks melemah sekitar 3,05 persen pada Jumat sebelumnya dan terkoreksi hampir 6 persen secara mingguan.

Arus dana asing juga menunjukkan tren keluar dari pasar saham domestik. Sepanjang pekan, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp1,57 triliun, sementara secara year-to-date (ytd) outflow mencapai Rp22,37 triliun di pasar reguler.

Di sisi nilai tukar, rupiah bergerak mendekati level psikologis 17.000 per dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan terakhir, rupiah berada di kisaran 16.978 per dolar AS, mencerminkan tekanan eksternal yang masih berlangsung.

Faktor domestik turut memperkuat tekanan pasar. Pemerintah mencatat cadangan bahan bakar minyak nasional diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 20 hari, sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap lonjakan harga energi global.

Ketidakpastian juga muncul dari sisi fiskal. Wacana pelebaran defisit anggaran di atas 3 persen menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi mempengaruhi persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia.

Di sektor pasar modal, investor juga mencermati pembenahan industri setelah adanya pembekuan izin aktivitas penjamin emisi pada sejumlah perusahaan sekuritas. Kondisi ini dinilai dapat mempengaruhi dinamika pipeline penawaran umum perdana saham.

Dalam perdagangan terakhir, IHSG menguji area support psikologis di level 7.000. Meskipun demikian, data transaksi menunjukkan investor asing mulai mencatat pembelian bersih sekitar Rp1 triliun pada seluruh pasar, setelah tekanan jual dalam beberapa hari sebelumnya.

“Demi keamanan portofolio selama libur panjang, disarankan untuk tidak terlalu agresif dan menyimpan lebih banyak kas,” tulis Kiwoom. 

“Posisi pasar saat ini masih berada dalam kondisi yang sensitif terhadap perkembangan global,” lanjut riset tersebut. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.