KABARBURSA.COM – Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sideways pada kisaran 6.745 hingga 7.323 sepanjang pekan perdagangan 30 Maret hingga 2 April 2026.
Pergerakan ini dipengaruhi tekanan global, arus keluar dana asing, serta kenaikan harga energi.
Imam mengatakan pergerakan IHSG pada pekan sebelumnya relatif terbatas. Ia mencatat indeks hanya melemah 0,14 persen dalam tiga hari perdagangan akibat libur panjang Idul Fitri.
“Pasar masih cenderung wait and see di tengah kombinasi tekanan global dan capital outflow,” ujar Imam dalam pernyataan tertulis yang diterima Kabarbursa.com, Senin, 30 Maret 2026.
Ia menyebut tekanan jual investor asing masih menjadi faktor dominan. Sepanjang pekan lalu, arus keluar dana asing tercatat sekitar Rp3,8 triliun.
Dari sisi global, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung tanpa penyelesaian. Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi.
Harga minyak mentah tercatat naik hingga USD99 per barel. Sementara itu, harga batu bara menembus USD140 per ton.
Kenaikan harga energi turut memengaruhi pola konsumsi global. Jepang mulai meningkatkan penggunaan batu bara sebagai alternatif energi di tengah ketidakpastian pasokan minyak dan gas.
Di sektor agrikultur, harga crude palm oil (CPO) Malaysia berada di kisaran MYR4.600 per ton. Kenaikan ini didukung peningkatan ekspor dan permintaan biofuel.
Dari dalam negeri, implementasi program B50 menjadi salah satu faktor pendukung sektor tersebut. Namun, pasar juga mencermati potensi penurunan permintaan dari India serta perlambatan ekonomi China.
Imam menyebut dinamika tersebut memberikan dampak beragam bagi pasar domestik. Pelemahan rupiah dan arus keluar dana asing menjadi tekanan bagi IHSG.
“Di sisi lain, kenaikan harga komoditas memberikan dukungan bagi emiten sektor energi dan berbasis ekspor,” kata dia.
Memasuki pekan ini, perdagangan hanya berlangsung empat hari karena libur Jumat Agung. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi arah pasar.
Pada awal pekan, perhatian tertuju pada pidato Ketua The Fed Jerome Powell. Pernyataan tersebut akan menjadi acuan arah kebijakan moneter ke depan.
“Pasar akan mencari sinyal arah kebijakan The Fed yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan aset berisiko,” ujar Imam.
Selanjutnya, investor mencermati data NBS Manufacturing PMI China pada 31 Maret. Konsensus memperkirakan indeks berada di level 50 dari sebelumnya 49.
Dari domestik, data S&P Global Manufacturing PMI dan inflasi akan dirilis pada 1 April. Data tersebut menjadi indikator kondisi sektor industri dan arah kebijakan Bank Indonesia.
Menjelang akhir pekan, pasar global akan mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Non-Farm Payrolls diproyeksikan naik menjadi 48 ribu dari sebelumnya minus 92 ribu.
Tingkat pengangguran diperkirakan meningkat ke 4,5 persen dari 4,4 persen. Data ini menjadi indikator kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga.
“Data tenaga kerja akan menjadi faktor penting dalam menentukan ekspektasi kebijakan The Fed,” kata Imam.
Dengan berbagai sentimen tersebut, IHSG diperkirakan bergerak terbatas dalam kisaran yang telah ditentukan. Pergerakan indeks masih dipengaruhi perkembangan global dan rilis data ekonomi.(*)