KABARBURSA.COM – Menutup akhir pekan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan karakter yang menarik. Menguat tipis 0,13 persen ke level 8.936,75, indeks masih diintai tekanan jual kecil.
Secara struktural, pasar memang tidak sedang berada dalam fase distribusi besar, melainkan konsolidasi sehat setelah reli panjang sejak kuartal terakhir tahun lalu.
Dan untuk pergerakan IHSG pada Senin, 12 Januari 2026, dari sudut pandang teknikal berbasis wave, posisi IHSG saat ini diperkirakan berada pada bagian dari wave (v) dari wave (iii), yang biasanya menandai fase lanjutan penguatan. Namun dengan catatan, ada volatilitas yang lebih tinggi.
Di sini, area 9.030 hingga 9.077 menjadi zona yang sangat krusial. Jika IHSG mampu menembus dan bertahan di atas 9.030, maka pasar sedang mengonfirmasi bahwa impuls naik masih dominan dan belum selesai.
Namun, karena sudah berada di bagian akhir struktur impuls, risiko koreksi jangka pendek tidak boleh diabaikan. Zona 8.843–8.904 berpotensi menjadi area uji ulang yang wajar, terutama jika terjadi profit taking menjelang akhir pekan atau pembukaan awal pekan depan.
Selama koreksi tersebut masih bertahan di atas area support 8.867 hingga 8.806, maka itu lebih tepat dibaca sebagai pullback teknikal, bukan pembalikan tren.
Untuk perdagangan esok hari, skenario yang paling masuk akal adalah pergerakan yang cenderung fluktuatif dengan bias naik terbatas. Pasar akan menguji daya beli di area resistance 8.996 hingga 9.030.
Jika volume mulai menyusut dan tekanan jual tetap kecil, peluang IHSG untuk kembali mengarah ke atas tetap terbuka. Sebaliknya, jika muncul lonjakan volume jual tanpa disertai kenaikan harga, maka koreksi ke area 8.900-an akan menjadi skenario yang lebih realistis.
Saham-saham yang Menarik Diperdagangkan
Di tengah kondisi ini, saham-saham yang layak diperdagangkan adalah yang secara teknikal masih berada dalam struktur naik dan menunjukkan akumulasi yang relatif sehat.
ARCI menjadi salah satu yang paling menarik. Penguatannya sebesar 4,31 persen ke 1.695 dengan dukungan volume beli menunjukkan bahwa minat pasar belum surut. Selama harga bertahan di atas MA20, ARCI lebih tepat dibaca sebagai saham yang sedang menyusun lanjutan tren naiknya.
Area pullback ke kisaran 1.575–1.610 justru menjadi zona yang rasional untuk akumulasi, dengan potensi pengujian 1.750 hingga 1.950 jika wave berikutnya terkonfirmasi.
BBRI menawarkan karakter yang berbeda. Koreksi 0,81 persen ke 3.680 memang disertai tekanan jual, tetapi secara struktur, posisinya justru menarik karena diperkirakan berada di awal wave (iii) dari wave [c].
Ini biasanya merupakan fase awal impuls naik yang cukup kuat. Jika harga mampu bertahan di atas area 3.630–3.650, maka BBRI berpotensi kembali menguat menuju 3.780 hingga 3.830 dalam waktu relatif dekat.
BUMI tetap menjadi saham trading favorit untuk volatilitas jangka pendek. Meski naik tipis 0,43 persen ke 462, tekanan jual masih terlihat.
Namun selama tidak menembus 442, struktur teknikalnya masih konsisten sebagai bagian dari wave v dari wave (v) dari wave [iii], yang biasanya menandai fase euforia pendek sebelum koreksi lebih besar. Untuk trader, area 450–456 menjadi zona yang menarik, dengan potensi menuju 486 hingga 510.
Sementara itu, BUVA mencuri perhatian dengan lonjakan 15,44 persen ke 1.720 dan volume beli yang sangat dominan. Kenaikan seperti ini sering kali tidak langsung berakhir, apalagi jika struktur wave-nya masih berada di awal wave [iii] dari wave 5.
Artinya, secara teori, ruang naiknya masih cukup panjang. Namun, karena sudah naik tajam, pendekatan yang lebih rasional adalah menunggu pullback ke area 1.580–1.645 sebelum masuk, alih-alih mengejar di puncak.
Secara keseluruhan, pasar sedang berada dalam fase yang menarik. Tren besar masih naik, tetapi jarak dengan area resistance utama sudah semakin dekat. Ini membuat strategi terbaik bukan mengejar harga, melainkan menunggu koreksi-koreksi kecil untuk masuk ke saham-saham yang masih berada dalam struktur naik yang sehat.
Jika IHSG mampu menembus 9.030 dalam beberapa sesi ke depan, maka bias pasar akan bergeser menjadi lebih agresif. Namun jika justru terjadi penolakan di area tersebut, koreksi menuju 8.900-an harus dibaca sebagai bagian dari proses normal, bukan sinyal bahaya.(*)