Logo
>

IHSG ke Level 7.048, Bursa Asia Loyo, Harga Minyak Bikin Tegang

Rupiah melemah, Stoxx 600 dibuka naik tipis, sementara pasar menimbang dampak perang Timur Tengah terhadap inflasi, suku bunga, dan arus dana global.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG ke Level 7.048, Bursa Asia Loyo, Harga Minyak Bikin Tegang
IHSG dekati level 6.000-an, sementara pasar Asia bergerak volatil. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, berjalan dengan irama yang tidak benar-benar tenang sejak awal. IHSG memang tidak jatuh dalam-dalam, tetapi pergerakannya sepanjang hari sangat mengkhawatirkan.

Di sini, pasar sedang bertahan di tengah arus sentimen global yang lebih berat, mulai dari tekanan bursa Asia, pembukaan Eropa yang rapuh, lonjakan kecemasan inflasi, hingga harga minyak yang masih berayun liar akibat konflik di Timur Tengah .

Pada penutupan perdagangan, IHSG melorot 43 poin atau 0,61 persen ke level 7.048. Aktivitas pasar masih terjaga dengan volume 263,6 juta lot dan nilai transaksi Rp14,44 triliun. Likuiditas belum mengering, tetapi arah dana yang masuk juga belum cukup kuat untuk mengangkat indeks keluar dari tekanan jual .

Pergerakan ini terasa penting karena pelemahan IHSG hari ini tidak berdiri sendiri. Pasar domestik bergerak di tengah suasana regional yang sedang kehilangan pijakan. Bahkan, investor global mulai menggeser fokus dari harapan pelonggaran suku bunga menuju kekhawatiran baru soal inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang bisa melambat bila perang berlarut dan harga energi tetap mahal .

Dari dalam negeri, arah sektor juga memberi gambaran menarik tentang bagaimana pelaku pasar membaca risiko. Sektor konsumer non-primer justru menjadi kampiun dengan kenaikan 1,48 persen, ditopang oleh penguatan INDF 6,72 persen, KLBF 3,19 persen, GGRM 3,11 persen, ICBP 1,73 persen, MLBI 1,35 persen, dan HMSP 0,69 persen. 

Sebaliknya, sektor energi menjadi beban terdalam setelah turun 2,75 persen, dengan tekanan paling terasa pada BIPI yang turun 6,74 persen, MEDC 5,44 persen, HRUM 5,12 persen, INDY 3,35 persen, ADRO 1,53 persen, dan ITMG 1,16 persen .

Rotasi seperti ini memperlihatkan bahwa pasar tidak semata-mata memburu saham yang dekat dengan tema minyak. Ketika harga minyak masih tinggi tetapi saham-saham energi justru tertekan, pasar sedang memberi sinyal bahwa pelaku dana lebih berhati-hati terhadap risiko volatilitas lanjutan.

Sementara, sebagian aliran sedang berpindah ke saham-saham konsumer yang dianggap lebih defensif dalam menghadapi fase ketidakpastian.

Di jajaran unggulan LQ45, pasar juga menampilkan wajah yang campuran. MBMA, INDF, AMRT, INCO, MAPI, CTRA, dan EXCL masuk kelompok top gainers. Sedangkan MEDC, BUMI, EMTK, BREN, JPFA, AADI, dan NCKL menjadi top losers

Susunan ini menunjukkan bahwa pelemahan indeks hari ini bukan hasil pukulan seragam ke semua saham besar, melainkan lebih berupa seleksi ketat terhadap emiten yang dinilai paling rentan terhadap perubahan sentimen global jangka pendek .

MSCI Asia Turun, Kospi Anjlok

Bila ditarik ke kawasan, tekanan di Jakarta sesungguhnya masih relatif tertahan dibandingkan sejumlah bursa Asia lain. MSCI Asia di luar Jepang turun 1,43 persen dan berada di jalur penurunan bulanan lebih dari 13 persen, yang disebut menjadi yang paling tajam sejak Maret 2020. 

Bursa-bursa utama juga mayoritas finis di zona merah, dengan Nikkei 225 turun 1,58 persen, Topix melemah 1,26 persen, Shanghai turun 0,80 persen, Shenzhen Composite jatuh 1,81 persen, CSI 300 turun 0,93 persen.

Kospi anjlok 4,26 persen, dan Taiex Taiwan turun 2,45 persen. Hanya Hang Seng yang mampu naik 0,15 persen dan ASX200 Australia menguat 0,25 persen .

Dari potret itu, pasar Asia terlihat menutup bulan dengan luka yang cukup dalam. Korea Selatan dan Taiwan menjadi contoh paling keras dari gelombang risk-off, sementara Jepang dan China juga tetap berada di bawah tekanan. 

Kenaikan tipis di Hong Kong dan Australia lebih tampak sebagai jeda sesaat, belum cukup untuk mengubah arah besar bahwa kawasan sedang diguncang kekhawatiran yang sama. Inflasi berpotensi lebih panas, suku bunga bisa bertahan lebih lama, dan perang belum menunjukkan jalur penyelesaian yang benar-benar pasti.

Sentimen itu diperkuat oleh komentar para pelaku pasar global yang dikutip dalam data tersebut. Vishnu Varathan dari Mizuho menyebut pasar telah bergerak ke mode yang lebih diliputi rasa takut dan mengurangi risiko. 

Kekhawatiran Pasar Meluas

Thomas Mathews dari Capital Economics juga menilai inflasi menjadi kekhawatiran jangka pendek yang lebih besar bagi pasar global, dan bila harga minyak tidak turun dalam beberapa bulan ke depan, maka perhatian akan bergeser lebih jauh ke ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Di titik ini, pasar mulai memikul dua beban sekaligus. Yang pertama adalah ketakutan bahwa kenaikan harga energi akan kembali mendorong inflasi. Yang kedua adalah kesadaran bahwa jika tekanan itu berkepanjangan, dunia tidak hanya berhadapan dengan inflasi, tetapi juga dengan risiko perlambatan ekonomi yang lebih terasa.

Arah ekspektasi suku bunga pun ikut bergeser. Federal Reserve kini diperkirakan mempertahankan suku bunga tetap tahun ini, berbalik dari proyeksi sebelum perang yang masih membuka ruang pelonggaran lebih dari 50 basis poin. 

Ketua The Fed Jerome Powell juga menyatakan bank sentral AS dapat menunggu untuk melihat seberapa jauh perang Iran memengaruhi ekonomi dan inflasi.

Bagi IHSG, perubahan ekspektasi ini sangat relevan. Saat pasar tidak lagi yakin pemangkasan suku bunga akan datang cepat, aset berisiko di emerging markets otomatis menghadapi tekanan tambahan. Valuasi menjadi lebih sensitif, arus dana asing lebih selektif, dan mata uang negara berkembang cenderung ikut berada di bawah tekanan.

Rupiah Turun, Yen Jepang Menguat

Itu terlihat jelas di pasar currencies Asia. Rupiah turun 0,23 persen ke level 17.041 per dolar AS, ringgit melemah 0,37 persen ke 4,0463 per dolar AS, dan baht turun 0,28 persen ke 32,896 per dolar AS. 

Di sisi lain, yen menguat 0,06 persen ke 159,62 per dolar AS, dolar Singapura naik 0,06 persen ke 1,2902 per dolar AS, dolar Australia naik 0,07 persen ke 0,6858 per dolar AS, dan yuan menguat 0,08 persen ke 6,9069 per dolar AS, sementara rupee India stagnan di 94,8112 per dolar AS .

Pelemahan rupiah di atas level 17.000 per dolar AS menjadi salah satu bagian penting dari cerita hari ini. Saat indeks saham turun dan rupiah juga melemah, pasar sedang menunjukkan bahwa tekanan eksternal belum surut. 

Ini bukan sekadar koreksi harga saham biasa, melainkan respon terhadap kombinasi risiko global yang masuk bersamaan ke pasar finansial domestik.

Stoxx 600 Dibuka Naik Tipis

Sementara itu, dari Eropa, pembukaan perdagangan memberi kesan sedikit lebih tenang tetapi belum benar-benar aman. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 naik sekitar 0,2 persen pada awal sesi, meski sempat turun ke wilayah negatif setelah bel pembukaan. 

Namun, kendati ada pemulihan tipis, indeks itu tetap berada di jalur penurunan bulanan 8,5 persen untuk Maret, yang akan menjadi kinerja bulanan terburuk sejak awal 2020 saat pandemi Covid-19 memaksa penutupan wilayah di berbagai negara Eropa.

Dengan kata lain, Eropa pagi ini belum sedang merayakan pemulihan. Yang terjadi lebih menyerupai upaya menahan kepanikan agar tidak meluas. 

Rebound tipis di awal sesi belum cukup untuk menghapus fakta bahwa bursa regional di sana juga sedang menutup bulan dengan tekanan terburuk dalam enam tahun.

Harga Brent dan WTI Terus Bergolak

Di pasar energi, minyak tetap menjadi pusat gravitasi seluruh sentimen. Harga Brent naik 65 sen ke USD113,43 per barel, dengan pergerakan intraday yang liar antara kenaikan 2 persen hingga penurunan 1 persen. 

Sementara itu, WTI AS untuk pengiriman Mei naik tipis 2 sen ke USD102,90 per barel setelah sempat membalikkan penurunan sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak 9 Maret.

Pergerakan harga minyak yang sangat fluktuatif ini mencerminkan pasar yang sedang berdagang berdasarkan berita perang, bukan sekadar keseimbangan pasokan dan permintaan biasa. 

Harga sempat bergerak merespons laporan bahwa Presiden AS Donald Trump bersedia mengakhiri perang melawan Iran, tetapi analis yang dikutip Reuters menegaskan perubahan besar baru akan benar-benar terasa jika pengiriman melalui Selat Hormuz pulih sepenuhnya.

Di sinilah seluruh benang merah perdagangan hari ini bertemu. IHSG melemah bukan karena satu faktor tunggal, melainkan karena berada di tengah pusaran besar yang mempertemukan tekanan bursa Asia, kehati-hatian Eropa, pelemahan sebagian mata uang kawasan, perubahan ekspektasi suku bunga global, dan harga minyak yang masih bisa bergerak tajam hanya karena satu perkembangan geopolitik.

Karena itu, koreksi 0,61 persen pada IHSG justru terasa sebagai cerminan pasar yang masih menahan diri di tengah situasi yang belum bersahabat. Indeks memang turun, tetapi belum runtuh. 

Pasar seolah masih mencoba membaca apakah gejolak ini akan berhenti sebagai shock jangka pendek, atau berubah menjadi fase yang lebih panjang dengan biaya inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan global yang lebih lemah.

Sepanjang hari ini, jawaban yang terlihat dari pasar masih condong ke arah kewaspadaan. Uang belum benar-benar lari, tetapi juga belum berani masuk agresif. Bursa Asia menutup sesi dengan luka, Eropa membuka hari dengan langkah hati-hati, rupiah masih tertekan, dan minyak tetap menjadi sumber kegelisahan yang belum selesai. 

Dalam suasana seperti itu, IHSG menutup Maret dengan satu nada yang paling jujur, bahwa pasar masih berdagang di bawah bayang-bayang risiko global yang belum reda.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79