Logo
>

IHSG Lompat 1,22 Persen, Sentimen Asia dan Rupiah Menguat Dorong Reli

Penguatan IHSG ke level 8.031 ditopang reli bursa Asia, lonjakan Nikkei ke rekor tertinggi, serta penguatan rupiah yang meredakan tekanan eksternal dan mendorong minat risiko investor domestik.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Lompat 1,22 Persen, Sentimen Asia dan Rupiah Menguat Dorong Reli
IHSG dibuka di level 7.000an dan berhasil menguat hingga ditutup di level 8.031. Foto: R Fadli/KabarBursa.

KABARBURSA.COM - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan Senin, 9 Februari 2026, ditutup dengan nada optimistis. IHSG mengakhiri sesi di zona hijau pada level 8.031, menguat 96 poin atau 1,22 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. 

Sepanjang hari, aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai. Volume transaksi mencapai 399,9 juta lot saham dengan nilai transaksi sekitar Rp17,08 triliun. Aliran transaksi terlihat menyebar di berbagai sektor, meski motor utama penguatan datang dari sektor-sektor siklikal dan saham-saham berkapitalisasi besar.

Di kelompok saham unggulan LQ45, penguatan ditopang oleh sejumlah nama besar. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatatkan kenaikan tajam, disusul PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), hingga PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ikut mendorong kenaikan. 

Sebaliknya, tekanan masih terlihat pada sebagian saham LQ45 lainnya. Saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) ditutup melemah. 

Secara sektoral, sektor industri dasar atau basic industry menjadi penopang utama IHSG dengan lonjakan mencapai 4,41 persen. Penguatan sektor ini didorong oleh naiknya sejumlah saham seperti PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang melesat 6,50 persen, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang menguat 6,08 persen.

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang naik 3,67 persen, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menguat 2,57 persen, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang naik 2,00 persen, serta PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang menguat 1,94 persen. 

Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang ditutup di zona merah dengan penurunan tipis 0,23 persen. Pelemahan ini terseret oleh saham-saham seperti PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), hingga PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO). 

Nikkei 225 Cetak Rekor Tertinggi

Sentimen positif tidak hanya datang dari dalam negeri. Bursa Asia pada perdagangan hari ini bergerak kompak menguat dan memberikan dukungan kuat bagi pasar regional, termasuk Indonesia. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 3,89 persen ke level 56.363 dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, sementara Topix menguat 2,29 persen ke 3.783. 

Penguatan pasar Jepang dipicu oleh kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu, yang dipersepsikan membuka jalan bagi stimulus fiskal lebih besar, pemotongan pajak, serta dukungan agresif terhadap sektor strategis seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan keamanan energi.

Di China, Shanghai Composite menguat 1,41 persen ke 4.123, Shenzhen Component naik 2,17 persen ke 14.208, dan CSI300 menguat 1,63 persen ke 4.719. Hong Kong juga bergerak positif dengan Hang Seng naik 1,76 persen ke 27.027. 

Di kawasan Asia lainnya, Kospi Korea Selatan melonjak 4,10 persen, Taiex Taiwan menguat 1,96 persen, dan ASX200 Australia naik 1,85 persen. Penguatan yang merata ini mencerminkan suasana risk-on global yang sedang menguat.

Dari sisi global, sentimen pasar turut ditopang oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat. Penurunan suku bunga Federal Reserve pada Juni kini dipandang semakin mungkin, seiring proyeksi data ekonomi AS yang diperkirakan cukup jinak. 

Pasar menantikan data ketenagakerjaan, inflasi, dan penjualan ritel AS pekan ini, yang diharapkan cukup kuat untuk menjaga prospek pemangkasan suku bunga, namun tidak terlalu lemah hingga mengganggu permintaan konsumen dan laba korporasi.

Yen dan Rupiah Menguat

Di pasar valuta Asia, mayoritas mata uang regional menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,34 persen, dolar Singapura menguat 0,20 persen, dolar Australia naik 0,30 persen, dan rupiah terapresiasi 0,42 persen ke level 16.805 per dolar AS. 

Penguatan rupiah ini memberikan tambahan sentimen positif bagi pasar saham domestik, karena meredakan kekhawatiran terkait arus modal keluar dan stabilitas makro.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79