KABARBURSA.COM – IHSG tidak sekadar menguat pada perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, tetapi melesat dengan dorongan yang merata di berbagai sektor. Sejak awal sesi, indeks bergerak stabil di zona hijau hingga akhirnya ditutup naik 195 poin atau 2,75 persen ke level 7.302.
Sepanjang sesi, aktivitas pasar terjaga tinggi dengan volume mencapai 377,4 juta lot dan nilai transaksi sebesar Rp24,94 triliun.
Penguatan indeks ditopang oleh pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar yang mendominasi sektor siklikal dan berbasis komoditas. Saham seperti ASII, BUMI, PTBA, TLKM, AMMN, ADRO, dan ITMG masuk dalam jajaran top gainers LQ45, mencerminkan rotasi yang mengarah ke sektor yang sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Di sisi lain, tekanan masih terlihat pada saham-saham seperti BBNI, MDKA, ANTM, UNVR, MEDC, PGAS, dan HEAL yang berada di kelompok top losers.
Dari sisi sektoral, penguatan paling signifikan terjadi pada sektor perindustrian yang melonjak 5,98 persen, didorong oleh lonjakan saham INDS dan ASII. Pergerakan ini menunjukkan adanya aliran dana yang cukup besar ke sektor yang memiliki eksposur langsung terhadap aktivitas ekonomi riil.
Sementara itu, sektor basic industry justru menjadi satu-satunya yang terkoreksi tipis, mencerminkan adanya distribusi terbatas di tengah penguatan pasar secara keseluruhan.
Pasar Asia Kompak Hijau Terdorong Sinyal “Damai” Trump
Sentimen eksternal menjadi salah satu faktor utama yang membentuk arah pasar hari ini. Bursa Asia secara luas bergerak menguat, dengan indeks Nikkei 225 naik 2,87 persen, Taiex 2,54 persen, hingga Hang Seng yang menguat 1,09 persen.
Penguatan ini muncul seiring meningkatnya harapan pasar terhadap kemungkinan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, setelah muncul laporan mengenai proposal penyelesaian 15 poin yang diajukan Washington.
Kabar tersebut mendorong perubahan persepsi risiko di pasar global, meskipun masih disertai ketidakpastian. Pernyataan yang saling bertentangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait proses negosiasi menunjukkan bahwa arah perkembangan masih belum sepenuhnya jelas.
Dalam kondisi tersebut, pasar terlihat lebih banyak merespons berita yang muncul dibandingkan mengantisipasi hasil akhir dari proses tersebut.
Perubahan sentimen ini juga tercermin pada pergerakan harga minyak dan pasar obligasi. Harga minyak mengalami tekanan seiring harapan bahwa potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah dapat mereda, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menunjukkan penurunan.
Yield obligasi tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,35 persen, sementara tenor dua tahun berada di kisaran 3,87 persen, mencerminkan adanya penyesuaian ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga.
Rupiah di Level 16.911
Di sisi mata uang, pergerakan di kawasan Asia relatif terbatas dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS. Yen, dolar Singapura, dolar Australia, yuan, hingga rupee tercatat mengalami pelemahan tipis, sementara rupiah berada di kisaran 16.911 per dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih ada, meskipun tidak cukup kuat untuk menahan penguatan pasar saham.
Dalam satu rangkaian, penguatan IHSG yang terjadi sepanjang hari mencerminkan kombinasi antara dorongan internal dan perubahan sentimen global. Aliran dana yang masuk ke sektor-sektor tertentu, penguatan bursa Asia, serta perubahan ekspektasi terhadap kondisi geopolitik dan suku bunga membentuk arah pergerakan pasar yang cenderung positif.
Namun, dinamika global yang masih bergerak cepat membuat pergerakan tersebut tetap berada dalam lingkungan yang sensitif terhadap perubahan sentimen berikutnya.(*)