KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke zona merah pada perdagangan sesi I Senin, 2 Maret 2026. IHSG turun 131 poin atau 1,60 persen ke level 8.103, di tengah tekanan eksternal yang membayangi pasar global.
Meskipun demikian, aktivitas transaksi tercatat cukup padat dengan volume mencapai 332,7 juta lot dan nilai perdagangan sebesar Rp16,61 triliun.
Tekanan terhadap indeks terjadi di tengah pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45. Deretan saham yang mencatat pelemahan terdalam antara lain MAPI, INCO, BRPT, EMTK, ASII, EXCL, dan SCMA.
Sektor konsumer primer menjadi penekan utama dengan koreksi 5,12 persen, dipimpin penurunan MAPI sebesar 7,46 persen dan ASII sebesar 4,49 persen. Saham lain seperti AMRT turun 2,69 persen, ERAA melemah 0,91 persen, RALS terkoreksi 0,80 persen, GJTL turun 0,45 persen, dan AUTO melemah 0,34 persen.
Di tengah tekanan tersebut, sektor energi justru bergerak berlawanan arah dan menjadi penopang indeks sektoral dengan kenaikan 1,60 persen. Saham INDY memimpin penguatan dengan lonjakan 8,72 persen, diikuti ELSA naik 7,65 persen dan MEDC menguat 5,80 persen.
PTBA juga ikut terkerek 3,08 persen, ADRO bertambah 2,99 persen, dan HRUM menguat 0,85 persen. Selain itu, saham AADI, MEDC, ANTM, JFPA, PTBA, ADRO, dan AKRA masuk dalam daftar top gainers LQ45 pada sesi ini.
Bursa Asia Ikut Melemah
Tekanan pasar domestik sejalan dengan pelemahan bursa Asia. Saham maskapai penerbangan memimpin penurunan regional di tengah gangguan wilayah udara Timur Tengah dan kekhawatiran lonjakan biaya bahan bakar.
Saham Singapore Airlines turun 6 persen, Japan Airlines melemah 4 persen, Cathay Pacific terkoreksi 3,63 persen, sementara Qantas dan Eva Air masing-masing turun sekitar 4 persen.
Indeks utama Asia bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Nikkei 225 turun 1,38 persen dan Topix melemah 1,35 persen. Hang Seng terkoreksi 1,58 persen, Shenzhen Composite turun 0,75 persen, dan CSI 300 melemah 0,10 persen.
Shanghai malah bergerak datar, sementara ASX200 turun 0,12 persen dan Taiex melemah 0,45 persen. Indeks Kospi tidak diperdagangkan karena libur.
Saham energi di kawasan Asia mencatat penguatan seiring lonjakan harga minyak mentah. Woodside Energy di Australia dan Inpex di Jepang masing-masing melonjak sekitar 5 persen, sementara China National Offshore Oil Corporation di Hong Kong naik lebih dari 3 persen.
Harga minyak Brent sebelumnya melonjak sekitar 9 persen ke USD79,41, memicu rotasi sektor ke saham berbasis energi.
Rupiah Terkulai
Di pasar valuta Asia, mayoritas mata uang bergerak melemah terhadap dolar AS. Yen turun 0,31 persen ke 156,54 per USD, dolar Singapura melemah 0,25 persen ke 1,2683 per USD, dan dolar Australia terkoreksi 0,32 persen ke 0,7094 per USD.
Rupiah turun 0,37 persen ke level 16.849 per USD. Rupee India melemah 0,45 persen ke 91,3887 per USD, yuan terkoreksi 0,14 persen ke 6,8714 per USD, ringgit melemah 0,35 persen ke 3,9072 per USD, dan baht Thailand mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,99 persen ke 31,3510 per USD.
Secara keseluruhan, sesi I perdagangan mencerminkan tekanan risiko di pasar saham Asia dengan rotasi menuju sektor energi, sementara mata uang kawasan bergerak defensif terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.(*)