Logo
>

IHSG Terseret Energi, Kospi Ambruk Pasar Asia Bergejolak

IHSG berbalik merah di sesi I saat sektor energi tertekan, sementara pasar Asia kompak melemah dipicu perubahan arah harga minyak dan sinyal meredanya konflik Timur Tengah.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Terseret Energi, Kospi Ambruk Pasar Asia Bergejolak
Rencana Presiden AS Donald Trump berdamai dengan Iran bukan memberi angin segar bagi pasar bursa, justru semakin membawa ketidakpastian. IHSG serta bursa Asia terus rontok. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Pergerakan IHSG pada sesi I Selasa, 31 Maret 2026, tidak hanya mencerminkan tekanan jual domestik, tetapi juga Upaya tarik-menarik sentimen global yang belum menemukan arah pasti. 

Indeks sempat dibuka dengan optimisme dan menyentuh level tertinggi 7.155, namun tidak bertahan lama sebelum akhirnya berbalik arah dan turun ke zona merah. Pada penutupan sesi I, IHSG terkoreksi 37 poin atau 0,53 persen ke level 7.053, mendekati titik terendah intraday di 7.050.

Di balik pelemahan tersebut, aktivitas perdagangan tetap tinggi dengan volume mencapai 156,2 juta lot dan nilai transaksi sekitar Rp7,46 triliun, disertai frekuensi hampir menyentuh satu juta kali transaksi. 

Komposisi pasar juga menunjukkan tekanan yang lebih dominan, dengan 403 saham melemah berbanding 282 saham menguat, sementara 273 saham bergerak stagnan. Tekanan jual tampak menyebar luas ke berbagai sektor, meskipun tidak sepenuhnya tanpa perlawanan.

Sektor konsumer non primer menjadi satu-satunya yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,94 persen ke level 726. Penguatan ini ditopang oleh saham-saham seperti INDF yang melonjak 5,46 persen, GGRM naik 4,02 persen.

Begitu pula dengan saham KLBF dan MLBI yang turut menguat masing-masing 3,19 persen dan 1,35 persen. Di tengah tekanan pasar yang meluas, sektor ini justru menjadi titik penahan yang menjaga agar pelemahan IHSG tidak berlangsung lebih dalam.

Sebaliknya, sektor energi mencatatkan tekanan paling dalam dengan penurunan 1,69 persen ke level 3.731. Saham-saham seperti HRUM turun 4,19 persen, BIPI melemah 4,15 persen, MEDC terkoreksi 3,89 persen, hingga ADRO dan ITMG juga bergerak negatif. 

Pelemahan ini terjadi seiring dengan perubahan arah harga minyak global yang menjadi salah satu faktor dominan dalam pergerakan pasar hari ini.

Tekanan juga terlihat merata di sektor lain, mulai dari transportasi yang turun 3,86 persen, industri melemah 1,45 persen, hingga teknologi yang terkoreksi 1,01 persen. Sektor keuangan dan properti pun tidak luput dari pelemahan, masing-masing turun 0,28 persen dan 0,33 persen.

Di sini tekanan tidak hanya terfokus pada satu sektor saja, namun menyebar secara luas di pasar.

Pergerakan saham-saham unggulan di indeks LQ45 turut memperlihatkan dinamika yang beragam. Di sisi penguatan, saham seperti INDF, MAPI, KLBF, hingga EXCL dan INCO masuk dalam jajaran top gainers.

Di sisi lain, tekanan terlihat pada HEAL, AADI, BREN, MEDC, DSSA, PGAS, hingga EMTK yang masuk dalam kelompok top losers. Bahkan ESSA turut tercatat melemah 4,61 persen ke level 725, menambah tekanan pada sektor energi dan berbasis komoditas.

Pasar Asia Fluktuatif, Kospi Rontok

Dinamika domestik tersebut berjalan seiring dengan kondisi pasar Asia yang bergerak fluktuatif dan cenderung melemah. Indeks Kospi di Korea Selatan mencatat penurunan paling dalam sebesar 3,54 persen, diikuti Taiex Taiwan yang turun 2,19 persen serta Nikkei Jepang yang melemah 1,33 persen. 

Indeks lainnya seperti Hang Seng, Shanghai, dan CSI 300 juga berada di zona merah, mencerminkan tekanan regional yang cukup merata.

Sentimen utama datang dari perubahan arah harga minyak dunia, yang sebelumnya melonjak akibat konflik di Timur Tengah. Namun belakangan mulai terkoreksi setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang untuk mengakhiri konflik dengan Iran. 

Pernyataan tersebut memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap risiko geopolitik, terutama terkait stabilitas pasokan energi global.

Komentar dari Chief Investment Officer Fed Watch Advisors Ben Emons, menyoroti bahwa sinyal untuk meredakan konflik semakin menguat seiring harga minyak Brent yang mendekati USD120 per barel. 

Dalam kondisi tersebut, pasar mulai membaca kemungkinan pergeseran dari fase ketegangan menuju fase pemulihan, yang pada gilirannya mengubah arah pergerakan aset berisiko secara global.

Rupiah Menguat Tipis Diikuti Yen Jepang

Di pasar valuta Asia, pergerakan mata uang cenderung terbatas dengan kecenderungan defensif. Yen Jepang menguat tipis 0,05 persen ke 159,63 per dolar AS, sementara yuan China juga menguat 0,03 persen ke 6,9103 per dolar AS. 

Rupiah tercatat menguat tipis 0,01 persen ke level 17.001 per dolar AS, di tengah pergerakan mata uang lain seperti dolar Australia dan ringgit Malaysia yang justru melemah masing-masing 0,10 persen dan 0,22 persen.

Kombinasi antara tekanan sektoral di dalam negeri, pelemahan pasar Asia, serta perubahan sentimen global dari sisi energi membentuk pergerakan IHSG yang tidak stabil sejak awal sesi. 

Indeks yang sempat berada di zona hijau akhirnya kembali melemah, yang mencerminkan bahwa arah pasar masih berada dalam fase penyesuaian terhadap dinamika global yang bergerak cepat dan belum sepenuhnya menemukan keseimbangan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79