KABARBURSA.COM – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN mencatat kebutuhan kredit sebesar 10,07 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp345,70 triliun hingga akhir 2025. Capaian ini paralel dengan kenaikan laba bersih 16,42 persen menjadi Rp3,50 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, sepanjang 2025, BTN membukukan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp18,43 triliun, meningkat 57,46 persen dibandingkan Rp11,70 triliun pada 2024. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan net interest margin (NIM) menjadi 4,20 persen dari 2,86 persen pada tahun sebelumnya.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp437,40 triliun, tumbuh 14,60 persen dibandingkan Rp381,67 triliun pada 2024. Komposisi DPK terdiri atas giro Rp169,24 triliun, tabungan Rp43,88 triliun, dan deposito Rp224,27 triliun.
Rasio loan to deposit ratio (LDR) berada pada level 91,28 persen, turun dari 93,79 persen pada 2024.
BTN juga membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp4,38 triliun, meningkat 16,14 persen dibandingkan Rp3,77 triliun pada tahun sebelumnya.
Kinerja ini ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga serta penguatan margin, meski beban operasional dan kerugian penurunan nilai aset keuangan meningkat.
Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) gross tercatat 3,17 persen, relatif stabil dibandingkan 3,16 persen pada 2024. Sementara itu, NPL net berada pada level 1,85 persen, turun dari 1,89 persen pada tahun sebelumnya.
Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) meningkat menjadi 19,02 persen dari 18,50 persen pada 2024.
Sebagai anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BTN memiliki fokus pada pembiayaan sektor perumahan nasional.
Hingga akhir 2025, total aset BTN tercatat sebesar Rp527,79 triliun, meningkat 12,39 persen dibandingkan Rp469,61 triliun pada tahun sebelumnya.
Di samping itu, dari lantai bursa, saham BBTN ditutup menguat 1,93 persen ke level 1.320 pada perdagangan terakhir sesi I Rabu, 11 Februari 2026.
Saham BBTN dibuka di level 1.310, sempat menyentuh level tertinggi 1.335 dan terendah 1.310 dalam sesi perdagangan tersebut.
Total volume transaksi tercatat 443,33 ribu lot dengan nilai transaksi sekitar Rp58,6 miliar, dan harga rata-rata di kisaran 1.322. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.