KABARBURSA.COM — Penguatan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia belum tentu menjadi sinyal bahaya telah berlalu. Di balik lonjakan pasar yang membuat investor bernapas lega, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan justru dinilai menjadi penentu apakah reli ini bisa bertahan atau hanya euforia sesaat.
Stockbit Sekuritas menilai pelaku pasar perlu mencermati arah nilai tukar rupiah setelah Bank Indonesia kembali mengambil langkah agresif untuk menahan tekanan di pasar keuangan.
“Kami menilai bahwa investor perlu memantau pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan, mengingat sebelumnya nilai tukar rupiah hanya sempat menguat sesaat ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada 20 Mei 2026, sebelum akhirnya kembali melemah,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya, Selasa, 9 Juni 2026, malam.
Peringatan tersebut muncul setelah Bank Indonesia secara mengejutkan mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa, 9 Juni 2026. Keputusan itu berada di luar ekspektasi pasar karena diumumkan di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur bulanan yang baru akan berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
Kenaikan terbaru ini juga menjadi yang kedua dalam waktu kurang dari satu bulan setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei lalu.
Bank Indonesia menjelaskan langkah tersebut diambil sebagai respons atas pelemahan rupiah yang terjadi lebih cepat dan lebih dalam dari perkiraan sebelumnya.
“Keputusan tersebut merupakan langkah pre-emptive untuk mendukung nilai tukar rupiah yang melemah lebih dari yang diperkirakan sejak Rapat Dewan Gubernur pada Mei 2026,” tulis Stockbit mengutip penjelasan Bank Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah memang tidak bisa dianggap ringan. Pada Senin, 8 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup di level terlemah sepanjang sejarah pada Rp18.178 per dolar AS. Posisi itu mencerminkan pelemahan sekitar 3,2 persen sejak rapat BI bulan Mei dan turun 8,2 persen sejak awal tahun.
Kondisi tersebut membuat rupiah masuk jajaran mata uang dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini. Karena itu, Bank Indonesia memandang perlu mengambil langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar, termasuk dengan meningkatkan tingkat imbal hasil agar kembali menarik minat investor asing masuk ke pasar domestik.
Respons pasar terhadap kebijakan tersebut terbilang luar biasa. Yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun melonjak 14 basis poin ke level 7,4 persen, tertinggi sejak November 2022. Di sisi lain, rupiah berhasil menguat 0,65 persen ke level Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Selasa.
Yang paling mencuri perhatian adalah pergerakan IHSG. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu melesat 7,6 persen dalam sehari, menjadi kenaikan harian terbesar sejak Maret 2020 ketika pasar pulih dari kepanikan awal pandemi Covid-19.
Menurut Stockbit, penguatan tersebut terjadi hampir di seluruh lini pasar. “Kenaikan IHSG pada hari ini terjadi secara menyeluruh, dengan 678 saham mengalami penguatan harga sementara hanya 90 saham yang turun,” tulis Stockbit.
Riset tersebut menilai pasar menyambut positif langkah regulator yang mulai bergerak agresif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan setelah tekanan berkepanjangan sepanjang tahun ini. Apalagi sebelum reli Selasa kemarin, IHSG telah terkoreksi sekitar 38 persen sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan 8 Juni 2026.
Selain faktor kebijakan moneter, pasar juga mencermati perkembangan lain dari sektor keuangan. Bloomberg Technoz melaporkan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menggelar pertemuan dengan perwakilan Danantara, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BPJS, dan perusahaan asuransi BUMN.
Menurut Dasco, pertemuan tersebut membahas rencana buyback saham perbankan Himbara. Meski demikian, Stockbit mengingatkan ujian sebenarnya belum selesai. Jika penguatan rupiah mampu bertahan dalam beberapa hari ke depan, optimisme pasar berpotensi berlanjut. Namun bila mata uang domestik kembali melemah seperti setelah kenaikan suku bunga pada Mei lalu, reli IHSG kali ini bisa menghadapi tantangan baru.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.