Logo
>

Jalan Sempit ADRO ke MSCI 2026, Antara Kapitalisasi dan Risiko Bursa

Peluang ADRO masuk MSCI Global Standard 2026 terbuka, tetapi sangat bergantung pada target kapitalisasi pasar dan disiplin teknis perdagangan di BEI.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Jalan Sempit ADRO ke MSCI 2026, Antara Kapitalisasi dan Risiko Bursa
ADRO berpeluang masuk MSCI Global Standard 2026. Namun syarat kapitalisasi pasar, cutoff harga, dan risiko suspensi jadi penentu utama. Foto: IG @hamdanirukiah

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Peluang PT AlamTri Resources Indonesia Tbk atau ADRO untuk kembali masuk ke MSCI Global Standard Index pada 2026 tidak sesederhana cerita harga saham yang naik atau likuiditas yang ramai. Di balik ekspektasi investor, ada serangkaian syarat mekanis yang ketat dan sangat sensitif terhadap waktu, mulai dari ukuran kapitalisasi pasar hingga disiplin perdagangan di bursa.

    Analisis itu disampaikan oleh analis pasar modal dari Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27. Ia menilai ADRO memang tampak seperti kandidat alami secara ukuran dan transaksi, namun penilaian MSCI tidak bertumpu pada narasi pasar.

    “Di atas kertas, ADRO terlihat seperti kandidat natural karena ukuran dan transaksi sudah ramai. Tapi MSCI itu bukan lomba cerita, mereka pakai aturan mekanis yang sering mematahkan ekspektasi pasar,” tulis Skydrugz27.

    Menurutnya, peluang ADRO bersifat kondisional. Bisa terbuka, tetapi sangat bergantung pada kedisiplinan teknis di tanggal-tanggal kunci. Ia mengingatkan investor agar tidak terjebak pada asumsi bahwa kenaikan harga otomatis berarti aman. “Kalau investor hanya lihat harga naik lalu merasa aman, itu justru jebakan yang paling sering terjadi,” tulis Skydrugz27.

    Risiko terbesar justru datang dari sisi non-fundamental. Skydrugz27 menyebut suspensi perdagangan dan status pengawasan bursa sebagai faktor paling menentukan sekaligus paling berbahaya. Jika ADRO tersuspensi tepat pada Tanggal Cutoff Harga, atau pernah tersuspensi 50 hari bursa berturut-turut dalam 12 bulan terakhir, maka saham ini otomatis dianggap tidak layak masuk Market Investable Equity Universe pada periode peninjauan MSCI.

    Konteks ini menjadi relevan karena ADRO sempat mendapat perhatian dari Bursa Efek Indonesia meski kenaikan harga sahamnya hanya sekitar 7 persen dalam sepekan. “Kita tahu bersama ADRO sempat kena semprit BEI padahal harga sahamnya cuma naik 7 persen dalam seminggu,” tulis Skydrugz27.

    Ia menilai situasi tersebut sebagai sinyal peringatan awal, meski belum sampai pada level sanksi berat. “Ini sudah ada kartu abu-abu dari BEI hanya karena naik 7 persen, belum dapat kartu kuning UMA dan kartu merah Suspend jadi harusnya ADRO masih aman untuk masuk MSCI Mei 2026,” tulisnya.

    Dengan catatan, menurut Skydrugz27, sepanjang 2026 ADRO tidak boleh terkena suspensi sama sekali jika ingin menjaga peluang inklusi.

    Ancaman Papan Pemantauan Khusus

    Selain suspensi, ada satu filter tambahan khusus Indonesia yang kerap luput dari perhatian investor ritel. Jika ADRO masuk Papan Pemantauan Khusus atau papan FCA BEI karena Kriteria 10, maka MSCI tidak akan menambah atau memigrasi segmen ukuran, sehingga peluang inklusi bisa gugur.

    “Ini sisi buruknya, karena bukan soal fundamental, melainkan soal kondisi perdagangan dan pengawasan bursa,” tulis Skydrugz27.

    Meski begitu, ia menilai risiko ADRO masuk papan FCA relatif kecil, selama perdagangan tetap normal hingga periode cutoff.

    Dari sisi ukuran, Skydrugz27 menyebut ambang batas MSCI bersifat jelas dan bisa dihitung. Untuk pasar negara berkembang, EM Global Minimum Size Reference berada di USD7,153 miliar atau sekitar Rp120,54 triliun. Syarat masuk mensyaratkan full market cap minimal USD3,577 miliar atau sekitar Rp60,28 triliun, serta float-adjusted market cap minimal USD1,788 miliar atau sekitar Rp30,12 triliun.

    Dengan free float ADRO sebesar 28,67 persen, target yang harus dikejar bukan lagi batas bawah USD3,577 miliar, melainkan angka yang lebih tinggi agar syarat float terpenuhi. “Karena free float ADRO 28,67 persen, maka untuk menembus USD1,788 miliar float-adjusted, ADRO butuh full market cap sekitar USD6,236 miliar,” kata Skydrugz27.

    Dengan kurs Rp16.850 per USD, target tersebut setara dengan Rp105,39 triliun. Sementara itu, kapitalisasi pasar pembanding yang sering dijadikan acuan investor masih berada di kisaran Rp70 triliun, sehingga terdapat gap sekitar 50,56 persen.

    Secara matematis, Skydrugz27 menghitung bahwa dengan jumlah saham 29,39 miliar lembar, harga saham yang mengunci target tersebut berada di kisaran Rp3.607 per lembar, yang realistis pada fraksi BEI menjadi Rp3.600 atau Rp3.610.

    Timeline yang Sangat Presisi

    Soal waktu, Skydrugz27 menekankan bahwa proses MSCI adalah permainan presisi, bukan perasaan. Akhir Februari 2026 menjadi cutoff untuk equity universe dan ukuran minimum. Selanjutnya, pada 10 hari kerja terakhir April 2026, MSCI akan memilih satu hari sebagai Tanggal Cutoff Harga yang menentukan inklusi final. Pengumuman dilakukan awal Mei dan efektif 31 Mei 2026 setelah penutupan pasar.

    Dengan demikian, syarat ideal bagi ADRO menjadi jelas. Saham ini harus mampu bertahan di sekitar kapitalisasi pasar Rp105,39 triliun pada periode cutoff, tanpa satu pun masalah suspensi dan tanpa memicu masuk Papan Pemantauan Kriteria 10.

    Dari sisi likuiditas, Skydrugz27 justru melihat ADRO relatif unggul. Syarat ATVR minimal 15 persen dinilai realistis, mengingat transaksi harian ADRO yang kerap melampaui Rp200 miliar. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa bukti final tetap berada pada perhitungan resmi MSCI.

    Bottleneck ADRO bukan di likuiditas, melainkan di kombinasi ukuran yang harus naik dan risiko teknis bursa yang tidak boleh terjadi tepat di jendela akhir April 2026,” tulis Skydrugz27.

    Ia merangkum kondisi yang bisa membuat ADRO gugur secara instan, mulai dari suspensi di Tanggal Cutoff Harga, suspensi 50 hari bursa berturut-turut dalam 12 bulan terakhir, hingga masuk Papan Pemantauan Khusus BEI Kriteria 10.

    Dengan kata lain, jalan ADRO menuju MSCI Global Standard 2026 masih terbuka, tetapi sempit. Bukan soal cerita pertumbuhan atau optimisme sektor, melainkan soal menjaga angka dan disiplin perdagangan tepat di momen yang ditentukan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).