KABARBURSA.COM - Tekanan pasar yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan terperosok tajam justru membuka ruang pergerakan yang berbeda pada sejumlah saham tertentu. Di tengah koreksi dalam dan sentimen domestik yang memburuk, tiga saham ini masih tercatat diserap investor asing dalam jumlah besar, meski harga bergerak turun dan volatilitas meningkat.
Situasi inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan di pasar: apakah penurunan harga ini diperlakukan asing sebagai “harga bonus”?
Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan pembelian bersih signifikan pada GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Lippo Karawaci (LPKR), dan Merdeka Battery Materials (MBMA).
GOTO menjadi yang paling menonjol dengan net foreign buy sekitar 559,1 juta saham, di tengah total pembelian asing yang mencapai lebih dari 2,45 miliar saham. Angka ini muncul saat GOTO terkoreksi 6,15 persen ke level 61, dengan volume transaksi harian melonjak menjadi 6,22 miliar saham, jauh di atas rata-rata harian sekitar 4,99 miliar.
Artinya, di balik tekanan harga dan status notasi khusus, likuiditas tetap deras dan saham berpindah tangan dalam skala besar.
Pola serupa terlihat pada LPKR. Saham properti ini melemah 7,27 persen ke level 102, namun volume perdagangan mencapai 572,1 juta saham, melampaui rata-rata harian 377,6 juta. Di tengah tekanan tersebut, investor asing masih membukukan pembelian bersih sekitar 155,8 juta saham.
Tekanan jual yang terjadi justru diimbangi oleh serapan asing, membuat pergerakan LPKR hari ini lebih mencerminkan distribusi dan akumulasi yang berjalan bersamaan, bukan pelemahan sepihak.
MBMA pun berada dalam pola yang sejalan. Saham ini terkoreksi 4,58 persen ke level 730, dengan volume transaksi 429,25 juta saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 295,4 juta. Di tengah koreksi tersebut, asing mencatatkan net foreign buy sekitar 126,2 juta saham.
Tekanan harga tidak menghentikan arus beli, melainkan terjadi bersamaan dengan peningkatan aktivitas transaksi, menandakan minat tetap hadir meski pasar sedang tidak ramah.
Jika ketiga saham ini dibaca dalam satu bingkai, benang merahnya terletak pada waktu masuknya dana asing. Pembelian terjadi bukan saat harga menguat atau pasar stabil, melainkan ketika IHSG jatuh lebih dari 7 persen dan mayoritas saham berada di zona merah.
Asing tampak selektif, hanya masuk ke saham-saham dengan likuiditas besar dan ruang transaksi luas, sehingga koreksi harga diperlakukan sebagai kesempatan untuk menyerap saham tanpa harus mengejar harga di atas.
Namun, serapan ini tidak otomatis berbicara soal pembalikan arah dalam waktu dekat. Harga ketiganya masih bergerak turun dan belum menunjukkan pemulihan intraday yang tegas. Data hari ini lebih tepat dibaca sebagai indikasi bahwa pada level-level tersebut, saham-saham ini dinilai cukup menarik untuk dikoleksi secara bertahap, meski risiko pasar secara keseluruhan masih tinggi.
Dengan kondisi seperti ini, narasi “harga bonus” lebih merefleksikan sudut pandang perilaku asing yang masuk di tengah tekanan, bukan jaminan bahwa harga akan segera berbalik arah. GOTO, LPKR, dan MBMA menjadi contoh bagaimana di tengah pasar yang runtuh, arus dana tidak sepenuhnya keluar, melainkan berpindah secara selektif ke saham-saham tertentu yang dianggap layak diserap meski sentimen masih gelap.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.