Logo
>

Isu MSCI Jadi Pemantik Jual Massal Saham-saham Konglomerat

Tekanan IHSG hampir 7 persen dipicu kekhawatiran pasar atas transparansi kepemilikan saham, membuat investor global melepas saham-saham berkapitalisasi besar.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Isu MSCI Jadi Pemantik Jual Massal Saham-saham Konglomerat
Isu MSCI memicu aksi jual massal saham konglomerat. IHSG tertekan hampir 7 persen di tengah kekhawatiran transparansi dan arus dana asing. Foto: IG @maruararsirait

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Tekanan berat yang melanda pasar saham Indonesia pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, tidak bisa dibaca semata sebagai reaksi spontan atas satu keputusan indeks global. Namun, pengumuman hasil konsultasi Morgan Stanley Capital International atau MSCI terkait penilaian free float saham Indonesia menjadi katalis yang mempercepat aksi jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar dan kelompok konglomerasi.

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  anjlok ke level 8.355,41 pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026 pukul 10.48 WIB, melemah 624,82 poin atau setara 6,96 persen. Sepanjang sesi, IHSG bergerak sangat volatil dengan rentang terendah di 8.344,74 dan tertinggi sempat menyentuh 8.596,17 sebelum tekanan jual kembali mendominasi.

    Total transaksi pasar tercatat mencapai 339,81 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp23,68 triliun dari sekitar 2,18 juta transaksi. Tekanan jual terjadi sejak awal perdagangan dan semakin intensif menjelang penutupan, seiring respons negatif investor terhadap kebijakan pembekuan sementara yang diterapkan MSCI.

    Saham-saham konglomerasi menjadi korban utama koreksi. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) ditutup turun ke level 7.150, melemah 350 poin atau 4,67 persen. Penurunan BBCA menjadi salah satu penyumbang terbesar pelemahan IHSG, mengingat bobotnya yang signifikan dalam indeks.

    Tekanan juga menyasar sektor tambang dan sumber daya alam. Saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) turun 5,42 persen ke level 4.360. Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) ambruk 14,53 persen ke posisi 294, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) terkoreksi 14,67 persen ke level 1.105. Saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) ikut melemah 7,81 persen ke posisi 1.830.

    Di sektor properti dan teknologi, tekanan tidak kalah dalam. Saham PT Sentul City Tbk. (BKSL) anjlok 14,53 persen ke level 153. PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) turun 14,73 persen ke posisi 382, sementara saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) melemah 14,64 persen ke level 1.195.

    Tekanan pasar dipicu keputusan MSCI yang membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares saham Indonesia, baik yang berasal dari peninjauan indeks maupun aksi korporasi.

    MSCI juga menahan penambahan saham baru Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes serta menunda kenaikan segmen ukuran saham, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index.

    Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai langkah tersebut menjadi pukulan serius bagi sentimen pasar. “Pembekuan ini menahan aliran dana pasif dan meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap pasar Indonesia,” ujar Hendra dalam analisisnya pada Rabu, 28 Januari 2026.

    Ia menambahkan bahwa kekhawatiran MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi transaksi yang bersifat terkoordinasi membuat investor global menaikkan persepsi risiko terhadap pasar Indonesia. Dampaknya, saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi tujuan utama dana indeks justru mengalami tekanan jual paling besar.

    Dari sisi teknikal, IHSG saat ini berada dalam fase koreksi tajam. Selama indeks belum mampu kembali ke atas area psikologis 9.000, pergerakan pasar dinilai masih rentan terhadap tekanan lanjutan. Meski demikian, tekanan ini lebih dipicu oleh sentimen dan isu tata kelola, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi domestik.

    MSCI menyatakan akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi kepemilikan saham. Risiko penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets, bahkan potensi perubahan klasifikasi pasar, menjadi faktor yang mulai diantisipasi investor sejak dini.

    Dalam kondisi tersebut, pergerakan pasar diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Investor cenderung bersikap selektif dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat, likuid, dan memiliki struktur kepemilikan yang relatif transparan, sambil menunggu kejelasan langkah konkret dari otoritas pasar dalam merespons kekhawatiran MSCI.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Desty Luthfiani

    Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

    Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

    Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

    Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".