KABARBURSA.COM – Koreksi tajam yang dialami saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, terakhir tidak hanya memicu sorotan pasar terhadap pergerakan harga, tetapi juga terhadap dinamika internal perusahaan.
Di tengah pelemahan hampir 5 persen, salah satu anggota direksi tercatat melakukan pelepasan saham, bersamaan dengan struktur perdagangan yang menunjukkan tekanan jual masih dominan.
Pada penutupan perdagangan, AKRA melemah 65 poin atau 4,83 persen ke level 1.280. Sejak pembukaan, saham ini langsung bergerak di bawah tekanan setelah dibuka di level 1.340, sempat menyentuh harga tertinggi di level yang sama, lalu turun hingga ke area terendah 1.245 sebelum menetap di zona bawah harian.
Nilai transaksi tercatat sekitar Rp42 miliar dengan volume perdagangan mencapai 328,93 ribu lot, mencerminkan aktivitas jual yang cukup aktif di tengah pelemahan harga.
Di tengah kondisi tersebut, jajaran direksi AKRA Jimmy Tandyo tercatat melakukan penjualan saham. Berdasarkan keterbukaan informasi, Jimmy melepas sebanyak 1,75 juta saham AKRA, sehingga jumlah kepemilikannya berkurang dari 48 juta saham atau setara 0,24 persen menjadi 46,25 juta saham atau 0,23 persen dari total saham beredar.
Dengan transaksi ini, porsi hak suara yang dimilikinya turut menyusut sebesar 0,01 persen.
Antre Jual Tebal di Rentang 1.280-1.315
Aksi divestasi tersebut berlangsung seiring dengan tekanan pasar yang masih terasa kuat pada saham AKRA. Data orderbook memperlihatkan antrean jual yang relatif tebal di sejumlah level harga, terutama di rentang 1.280 hingga 1.315.
Di sisi lain, minat beli terlihat lebih tipis dan tersebar di level yang lebih rendah, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam menyerap suplai saham yang masuk.
Ketidakseimbangan antara sisi penawaran dan permintaan tercermin dari struktur antrean, di mana total antrean jual tercatat lebih dari 113 ribu lot, jauh di atas antrean beli yang berada di kisaran 50 ribu lot.
Kondisi ini membuat ruang pemulihan harga menjadi terbatas sepanjang sesi, meskipun frekuensi transaksi tercatat cukup aktif dengan lebih dari 1.500 kali transaksi.
Jika dibaca dari struktur chart harian, pergerakan AKRA pascakoreksi justru menunjukkan pola yang lebih mendatar. Pada penutupan terakhir, harga berada di area 1.280–1.285, yang secara historis merupakan area tengah dari rentang pergerakan sejak akhir 2025.
Posisi ini bukan mencerminkan breakdown baru, namun juga belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang kuat.
Struktur candle beberapa hari terakhir memperlihatkan pergerakan harga yang relatif datar dengan ekor atas dan bawah yang seimbang. Pola tersebut mengindikasikan bahwa tekanan jual pascakoreksi tajam belum berlanjut secara agresif, namun di sisi lain dorongan beli juga belum cukup kuat untuk mendorong rebound berarti.
Volume perdagangan harian pun tidak menunjukkan lonjakan lanjutan setelah hari koreksi besar, menandakan intensitas tekanan jual mulai melambat.
Secara visual, area 1.260–1.270 menjadi rentang terdekat yang berpotensi diuji jika tekanan jual ringan masih berlanjut. Selama harga mampu bertahan di atas zona tersebut, pergerakan cenderung bersifat konsolidatif.
Sementara itu, area 1.300–1.320 masih terlihat sebagai supply terdekat, terlihat dari beberapa upaya kenaikan sebelumnya yang gagal bertahan di atas rentang tersebut.
Dengan struktur tersebut, pergerakan AKRA pada perdagangan berikutnya lebih mencerminkan fase penyesuaian pascakoreksi. Harga cenderung bergerak sideways dengan volatilitas yang lebih sempit di kisaran 1.260–1.300, sambil menunggu dorongan baru dari volume perdagangan atau sentimen pasar yang lebih luas.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.