Logo
>

Ketegangan Timur Tengah Picu Volatilitas, Harga Emas Turun

Lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi membuat pelaku pasar bersikap lebih waspada terhadap prospek emas

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Ketegangan Timur Tengah Picu Volatilitas, Harga Emas Turun
Ilustrasi emas perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga emas berbalik arah pada perdagangan Kamis setelah sempat melesat tajam di awal sesi. Penguatan dolar Amerika Serikat serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan kinerja logam mulia itu. Di saat yang sama, bayang-bayang inflasi kembali mencuat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas.

Harga emas spot tercatat merosot 1,2 persen menjadi USD5.076,59 per ons pada pukul 01.32 WIB. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya logam kuning tersebut sempat menanjak hingga USD5.194,59 per ons pada awal perdagangan, menurut laporan Reuters dari Bengaluru, Jumat 6 Maret 2026.

Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April juga ikut terkoreksi. Harga ditutup turun 1,1 persen ke posisi USD5.078,70 per ons.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, menilai lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi membuat pelaku pasar bersikap lebih waspada terhadap prospek emas. Menurutnya, pasar tengah mempertimbangkan kemungkinan kenaikan harga energi yang berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, sementara kenaikan imbal hasil obligasi umumnya menjadi faktor yang kurang menguntungkan bagi emas.

Ketegangan geopolitik terus meningkat seiring operasi militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang kini memasuki hari keenam. Sejumlah warga melaporkan intensitas serangan udara semakin meningkat. Di sisi lain, pemerintah Teheran menyatakan akan melakukan pembalasan setelah serangan Amerika terhadap sebuah kapal yang berada jauh dari pusat zona konflik.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Ketidakpastian ini turut mengerek harga minyak, memperbesar ancaman inflasi, dan sekaligus mempersempit peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Selama ini emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka panjang. Namun demikian, performa logam mulia ini biasanya lebih kuat ketika suku bunga berada dalam tren penurunan.

Tekanan tambahan juga datang dari penguatan dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) naik sekitar 0,5 persen, membuat harga emas—yang diperdagangkan dalam denominasi dolar—menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat.

Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Kenaikan yield tersebut meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk menyimpan emas, yang tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen pendapatan tetap.

Meski mengalami tekanan jangka pendek, Melek menilai fondasi fundamental emas masih tergolong solid. Ia menyoroti potensi pelebaran defisit anggaran Amerika Serikat serta ketidakpastian global yang berkelanjutan sebagai faktor yang tetap menopang harga emas dalam horizon jangka panjang.

Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran di Amerika Serikat tidak berubah pada pekan lalu. Pada saat yang sama, jumlah pemutusan hubungan kerja tercatat menurun tajam sepanjang Februari.

Laporan terkini dari Federal Reserve juga menggambarkan aktivitas ekonomi yang sedikit meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Harga barang dan jasa masih mengalami kenaikan, sementara kondisi pasar tenaga kerja tetap relatif stabil.

Pasar kini memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan yang dijadwalkan berlangsung 18 Maret mendatang. Para investor juga menanti laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk periode Februari yang akan dirilis pada Jumat, guna mendapatkan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter.

Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya turut mengalami pelemahan. Harga perak spot turun 1,8 persen menjadi USD81,91 per ons. Platinum juga melemah 1,1 persen ke level USD2.125,10, sedangkan paladium terperosok lebih dalam dengan penurunan 2,4 persen menjadi USD1.634,15 per ons.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.