KABARBURSA.COM – PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat pertumbuhan kinerja keuangan signifikan sepanjang tahun buku 2025 dengan lonjakan laba bersih dan peningkatan pendapatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan aktivitas pada segmen penambangan serta konstruksi dan rekayasa.
Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD28,8 juta. Nilai tersebut meningkat 197,02 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang sebesar USD9,69 juta.
Pertumbuhan laba terjadi seiring kenaikan pendapatan perseroan. Sepanjang 2025, PTRO membukukan pendapatan sebesar USD886,45 juta, naik 28,32 persen dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar USD690,81 juta.
Kontribusi terbesar terhadap pendapatan berasal dari segmen penambangan yang mencatatkan nilai sebesar USD389,25 juta. Segmen konstruksi dan rekayasa juga memberikan kontribusi besar dengan pendapatan sebesar USD379,74 juta.
Selain dua segmen utama tersebut, pendapatan juga berasal dari segmen EPCI minyak dan gas lepas pantai sebesar USD32,86 juta. Segmen jasa menyumbang USD30,06 juta, sementara pendapatan lain-lain tercatat sebesar USD2,51 juta.
Perseroan juga mencatat kontribusi dari penjualan batu bara pada waktu tertentu yang menghasilkan pendapatan sebesar USD52,01 juta sepanjang tahun.
Beban Usaha Meningkat
Di sisi biaya, beban usaha meningkat menjadi USD774,23 juta pada 2025 dari sebelumnya USD600,52 juta pada 2024. Kenaikan beban tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan aktivitas operasional seiring pertumbuhan pendapatan.
Meski demikian, laba kotor Petrosea tetap menunjukkan peningkatan. Sepanjang 2025, laba kotor tercatat sebesar USD112,22 juta, naik dibandingkan laba kotor tahun sebelumnya yang sebesar USD90,28 juta.
Dari sisi neraca, total aset Petrosea per 31 Desember 2025 tercatat sebesar USD1,58 miliar. Nilai tersebut meningkat dibandingkan posisi aset pada akhir 2024 yang sebesar USD867,26 juta.
Kenaikan aset terjadi bersamaan dengan peningkatan liabilitas yang tercatat sebesar USD1,27 miliar, naik dari USD617,51 juta pada tahun sebelumnya. Sementara itu, ekuitas juga mengalami pertumbuhan menjadi USD307,45 juta dibandingkan posisi tahun 2024 yang sebesar USD249,75 juta.
Pergerakan Saham Belum Tunjukkan Rebound
Di pasar saham, pergerakan harga saham PTRO pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026 ditutup melemah. Saham Petrosea berada di level Rp4.960 per saham atau turun 265 poin setara 5,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pada perdagangan hari tersebut, saham PTRO dibuka di level Rp5.200 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp5.225. Sepanjang sesi perdagangan, harga bergerak turun hingga menyentuh level terendah Rp4.890 sebelum akhirnya ditutup di Rp4.960.
Kapitalisasi pasar Petrosea tercatat sekitar Rp50,03 triliun dengan rasio price to earnings sebesar 216,44. Saham ini memiliki dividend yield sekitar 0,33 persen dengan nilai dividen kuartalan sebesar Rp4,09 per saham.
Secara historis, saham PTRO sempat menyentuh level tertinggi dalam 52 pekan di posisi Rp13.000 per saham, sementara level terendah dalam periode yang sama tercatat di Rp1.850 per saham.
Pergerakan saham PTRO sepanjang tahun berjalan juga menunjukkan tekanan yang cukup dalam. Berdasarkan data perdagangan hingga penutupan Jumat, 6 Maret 2026, saham PT Petrosea Tbk berada di level Rp4.960 per saham.
Sementara itu, dalam periode year-to-date (YTD), harga saham PTRO tercatat turun sekitar 55,71 persen atau terkoreksi sebesar Rp6.240 dibandingkan posisi awal tahun. Penurunan ini terjadi setelah saham sempat bergerak pada kisaran di atas Rp11.000 hingga Rp12.000 pada awal Januari.
Memasuki paruh kedua Januari, harga saham mulai mengalami koreksi tajam dan turun hingga kisaran Rp8.000. Tren pelemahan berlanjut pada awal Februari ketika harga bergerak turun ke sekitar Rp6.000 per saham.
Pada pertengahan Februari, saham PTRO sempat mengalami pemulihan terbatas dan bergerak di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.500. Namun momentum tersebut tidak bertahan lama, dengan harga kembali bergerak melemah hingga mendekati level Rp5.000 pada awal Maret.
Pergerakan tersebut menempatkan saham PTRO berada di area terendahnya sepanjang periode tahun berjalan. Hingga penutupan perdagangan terakhir, harga saham berada di kisaran Rp4.960 per saham dengan tren penurunan yang terlihat sejak awal tahun.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.