KABARBURSA.COM - Pasar saham global bergerak melemah pada perdagangan Kemarin. Tekanan terjadi di dua pusat keuangan utama dunia, yakni Wall Street dan bursa saham Eropa. Seiring lonjakan harga minyak yang kembali mendekati USD100 per barel di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi sekaligus menambah ketidakpastian bagi prospek kebijakan moneter global.
Di Amerika Serikat, indeks-indeks utama Wall Street turun sekitar satu persen. Sektor keuangan menjadi yang paling terpukul, sementara investor juga mencermati meningkatnya risiko di pasar kredit swasta.
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat merosot 582,01 poin atau sekitar 1,23 persen ke level 46.835,26. Indeks S&P 500 melemah 76,10 poin atau 1,12 persen menjadi 6.699,50, sedangkan Nasdaq Composite turun 312,95 poin atau 1,38 persen ke posisi 22.403,18.
Indeks volatilitas CBOE naik 2,53 poin ke 26,77. Sementara itu, indeks Russell yang merepresentasikan saham berkapitalisasi kecil dan sensitif terhadap suku bunga melemah sekitar 1,8 persen.
Lonjakan harga minyak dipicu laporan mengenai dua kapal tanker yang terbakar di perairan Irak, yang diduga terkait serangan Iran. Insiden tersebut menjadi bagian dari rangkaian serangan terhadap fasilitas energi dan jalur transportasi di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan geopolitik.
Dampaknya langsung terasa pada sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya bahan bakar. Indeks maskapai penerbangan dalam S&P 500 anjlok sekitar 3,4 persen dan berpotensi mencatat kerugian bulanan terbesar dalam setahun terakhir. Operator kapal pesiar Norwegian dan Royal Caribbean juga turun lebih dari 2,5 persen.
Sebaliknya, saham perusahaan energi justru menguat mengikuti lonjakan harga minyak. Occidental Petroleum naik 3,3 persen, sementara ConocoPhillips menguat lebih dari 1,4 persen.
Perusahaan ekuitas swasta Swiss, Partners Group, memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar dalam sektor kredit swasta berpotensi meningkat hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang.
Tekanan juga terlihat pada saham Morgan Stanley yang turun 4,3 persen setelah perusahaan tersebut membatasi penarikan dana dari salah satu reksa dana kredit swastanya. Langkah ini mengikuti kebijakan serupa yang sebelumnya dilakukan oleh Blackstone dan BlackRock pada awal bulan.
Saham Blackstone dan BlackRock masing-masing turun lebih dari satu persen. Sementara itu, JPMorgan Chase dilaporkan menurunkan nilai beberapa pinjaman yang terkait dengan reksa dana kredit swasta.
Secara keseluruhan, sektor keuangan dalam indeks S&P 500 turun sekitar 1,5 persen. Saham bank besar seperti Citigroup dan Goldman Sachs masing-masing melemah lebih dari tiga persen.
“Pertanyaannya, berapa banyak pihak yang memiliki instrumen ini di dalam portofolio mereka? Bagaimana metode penilaian asetnya? Apakah dalam bentuk derivatif? Kita harus mengawasi situasi ini dengan sangat ketat karena bisa berubah dengan cepat,” ujar Joe Saluzzi, co-head ekuitas trading di Themis Trading.
Sementara itu di Eropa, sentimen negatif juga menyelimuti pasar saham regional. Investor menghadapi tekanan tambahan dari lonjakan harga energi yang berpotensi memperburuk inflasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Indeks acuan kawasan, STOXX Europe 600, turun sekitar 0,5 persen ke level 599 pada pukul 08.14 GMT. Pelemahan ini menempatkan indeks tersebut di jalur penurunan untuk ketujuh kalinya dalam sembilan sesi perdagangan sepanjang bulan ini.
Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar memperkirakan bank sentral kawasan euro, European Central Bank, akan kembali menaikkan suku bunga pada Juli mendatang. Pasar uang bahkan menilai peluang kenaikan suku bunga tambahan hingga Desember mencapai sekitar 85 persen.
Secara sektoral, saham perbankan yang sensitif terhadap kondisi ekonomi memimpin pelemahan pasar. Indeks sektor bank Eropa turun sekitar 1,1 persen. Sebaliknya, meningkatnya ketegangan geopolitik justru mendorong saham sektor pertahanan naik sekitar 1,3 persen.
Di level emiten, saham produsen mobil Jerman BMW melemah 2,3 persen setelah perusahaan memperkirakan laba sebelum pajak grup akan turun secara moderat tahun ini, sementara pengiriman kendaraan diproyeksikan stagnan.
Sebaliknya, saham Daimler Truck menguat 0,7 persen setelah perusahaan memproyeksikan margin laba bisnis industrinya pada 2026 akan relatif stabil.
Secara keseluruhan, sektor otomotif Eropa masih berada di zona merah dengan penurunan sekitar 1,2 persen, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan dampak lanjutan dari lonjakan harga energi.(*)