KABARBURSA.COM - Kinerja keuangan Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA) sepanjang 2025 menunjukkan kombinasi pertumbuhan yang solid dengan kualitas laba yang semakin menguat. Hal ini tercermin dari capaian EBITDA yang melampaui ekspektasi pasar.
Berdasarkan keterangan manajemen, EBITDA indikatif tahun buku 2025 tercatat sekitar Rp2,1 triliun, tumbuh 13,3 persen secara tahunan dan setara dengan 103 persen dari estimasi internal maupun konsensus.
Pendapatan MIKA pada 2025 juga diperkirakan tumbuh 10,1 persen, mencapai Rp5,44 triliun. Pertumbuhan top line ini terutama didorong oleh lonjakan pendapatan layanan berkompleksitas tinggi yang meningkat 27,8 persen secara tahunan, yang jauh melampaui pertumbuhan layanan general care yang berada di kisaran 5,4 persen.
Pergeseran bauran pendapatan ini menjadi faktor utama di balik penguatan margin, dengan EBITDA margin meningkat 109 basis poin secara tahunan ke level 38,8 persen.
Jika ditarik ke kuartal keempat 2025, kinerja MIKA memperlihatkan dinamika yang lebih berimbang. EBITDA indikatif pada 4Q25 tercatat Rp539 miliar, turun 2,9 persen secara kuartalan namun masih tumbuh 13,2 persen secara tahunan.
EBITDA margin berada di level 38,8 persen, terkoreksi tipis 32 basis poin dibanding kuartal sebelumnya, tetapi tetap lebih tinggi 93 basis poin secara tahunan. Pada periode yang sama, pendapatan kuartalan mencapai Rp1,4 triliun, turun 2,1 persen secara kuartalan namun tumbuh 10,5 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh peningkatan inpatient days sebesar 7,6 persen secara tahunan, mencerminkan kuatnya trafik pasien rawat inap.
Struktur pendapatan kuartal akhir juga menunjukkan pergeseran yang menguntungkan. Pendapatan pasien private meningkat menjadi Rp1,2 triliun, tumbuh 14,9 persen secara tahunan, sementara pendapatan dari segmen JKN turun menjadi Rp146 miliar atau terkoreksi 16,4 persen secara tahunan.
Pelemahan JKN ini terkait dengan pengetatan sistem rujukan yang mulai berlaku sejak kuartal ketiga 2024. Meski demikian, penurunan kontribusi JKN justru berdampak positif terhadap margin, mengingat segmen private memberikan kontribusi profitabilitas yang lebih tinggi.
MIKA Konsisten Bertumbuh
Secara historis, tren kinerja MIKA juga mencerminkan konsistensi pertumbuhan. Dalam periode 2023 hingga proyeksi 2027, pendapatan diperkirakan meningkat dari Rp4,26 triliun menjadi Rp6,75 triliun, sementara EBITDA naik dari Rp1,50 triliun menjadi Rp2,62 triliun.
Laba bersih diproyeksikan tumbuh dari Rp916 miliar pada 2023 menjadi sekitar Rp1,65 triliun pada 2027, sejalan dengan peningkatan efisiensi dan skala usaha. EPS diperkirakan naik konsisten dari Rp64 menjadi Rp116, sementara ROE dan ROIC bergerak ke level yang semakin sehat, masing-masing mendekati 20 persen dan 30 persen pada 2027F.
Memasuki 2026, prospek MIKA dinilai semakin cerah. Manajemen memandu pertumbuhan pendapatan dua digit dengan target EBITDA margin di kisaran 38,8–39,5 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025.
Sekitar separuh pertumbuhan pendapatan 2026 diperkirakan berasal dari kenaikan average selling price dan intensitas pendapatan, sementara sisanya dari pertumbuhan volume. Panduan ini sudah memperhitungkan pembukaan dua rumah sakit baru pada kuartal keempat 2026 yang diperkirakan bersifat dilutif terhadap margin sekitar 50 basis poin.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, MIKA menyiapkan belanja modal di kisaran Rp800 miliar hingga Rp1 triliun.
Dari sisi valuasi, saham MIKA diperdagangkan dengan estimasi EV/EBITDA sekitar 18 kali untuk 2026, sedikit di bawah rata-rata historis lima tahunnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.