KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia masih bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir meski mengalami koreksi tipis pada perdagangan Selasa, 25 Februari 2026.
Harga tersebut terjadi seiring pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta ketidakpastian kebijakan perdagangan global.
Berdasarkan laporan pasar energi global, harga minyak Brent berada di kisaran USD70,77 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sekitar USD65,63 per barel.
Kedua acuan tersebut tercatat turun sekitar 1 persen pada sesi terakhir setelah sebelumnya menguat tajam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Penurunan harga terjadi setelah Iran menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah menuju kesepakatan dengan AS menjelang putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa. Pernyataan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Namun demikian, sejumlah analis menilai risiko geopolitik masih menjadi faktor penting dalam pembentukan harga minyak. Analis Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan bahwa peluang dialog memang meningkat, tetapi ketegangan belum sepenuhnya mereda.
“Itu tampaknya menunjukkan bahwa mereka lebih terbuka untuk membicarakan program nuklir mereka. Namun, risiko serangan terhadap Iran masih tinggi,” kata Flynn seperti dikutip dari Reuters, Senin, 23 Februari 2026.
Selain faktor geopolitik, pasar juga memperhatikan kebijakan perdagangan global Amerika Serikat, termasuk rencana tarif sebesar 10 persen yang berpotensi menambah ketidakpastian bagi permintaan energi global.
Di sisi lain, sejumlah pelaku industri menilai harga minyak saat ini mencerminkan kebutuhan struktural pasar energi. CEO Occidental Petroleum Vicki Hollub mengatakan industri minyak membutuhkan harga yang relatif tinggi untuk mendorong peningkatan produksi.
“Industri minyak membutuhkan harga minyak mentah naik dan bertahan di angka USD70 per barel untuk bisa meningkatkan produksi,” ujar Hollub dalam laporan Reuters.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik, kebijakan perdagangan global, serta kebutuhan harga yang lebih tinggi bagi produsen minyak, pelaku pasar menilai pergerakan minyak masih akan tetap sensitif terhadap perkembangan politik dan ekonomi global dalam waktu dekat.(*)