KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis, 23 April 2026, setelah kombinasi faktor geopolitik dan penurunan stok bahan bakar di Amerika Serikat memicu kekhawatiran pasar.
Dilansir dari Reuters, minyak mentah Brent ditutup naik USD3,43 menjadi USD101,91 per barel atau sekitar Rp1.722.279 per barel. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate menguat USD3,29 ke level USD92,96 per barel atau setara Rp1.571.024 per barel.
Kenaikan ini terjadi di tengah laporan penurunan stok bensin dan distilat di Amerika Serikat yang lebih besar dari perkiraan. Data menunjukkan stok bensin turun 4,6 juta barel, jauh di atas ekspektasi penurunan sekitar 1,5 juta barel. Stok distilat juga turun 3,4 juta barel, lebih dalam dari perkiraan 2,5 juta barel.
Di sisi lain, stok minyak mentah justru naik 1,9 juta barel menjadi 465,7 juta barel. Namun penurunan pada produk turunan seperti bensin dan distilat lebih dominan memengaruhi sentimen pasar.
Tekanan harga semakin diperkuat oleh situasi di Selat Hormuz yang kembali memanas. Sedikitnya tiga kapal kontainer dilaporkan terkena serangan tembakan. Di saat yang sama, Iran menyita dua kapal yang disebut melanggar aturan maritim dan membawanya ke wilayahnya.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur krusial yang sebelumnya mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di jalur ini langsung berdampak pada kekhawatiran pasokan global.
Ketegangan semakin meningkat setelah pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran tidak menunjukkan perkembangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perpanjangan gencatan senjata, namun langkah itu dilakukan sepihak dan belum mendapat kepastian dari Iran maupun Israel.
Pimpinan parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menilai pembukaan kembali jalur Hormuz sulit dilakukan dalam kondisi saat ini. “Pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan jika pelanggaran gencatan senjata seperti ini terus terjadi.”
Situasi di kawasan juga semakin memanas dengan serangan militer di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya empat orang. Kelompok Hizbullah dilaporkan membalas dengan serangan drone ke pasukan Israel.
Di tengah ketidakpastian ini, Rusia juga mengubah arah pasokan minyaknya. Sebagian suplai dari Kazakhstan yang sebelumnya dikirim ke Jerman melalui pipa Druzhba akan dialihkan ke jalur lain mulai 1 Mei.
Sementara itu, Amerika Serikat memperpanjang pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia selama 30 hari atas permintaan negara-negara yang rentan terhadap krisis pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.
Di Eropa, kekhawatiran serupa mulai muncul. Uni Eropa bahkan mempertimbangkan kebijakan cadangan bahan bakar pesawat untuk mengantisipasi potensi kekurangan energi di kawasan tersebut. Kombinasi gangguan pasokan, konflik geopolitik, dan tekanan pada stok energi membuat pasar minyak kembali berada dalam tekanan tinggi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.