KABARBURSA.COM – PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) memaparkan capaian kinerja 2025 serta arah bisnis 2026 dalam paparan publik yang disampaikan pada 20 Januari 2026, dengan menegaskan keberhasilan pembalikan kinerja dari rugi menjadi laba serta penetapan strategi pertumbuhan berkelanjutan untuk periode selanjutnya.
Direktur MMIX, Mengky Mangarek, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 MMIX berhasil melakukan turnaround kinerja melalui penguatan efisiensi biaya dan perbaikan struktur bisnis, sehingga perusahaan membukukan laba pada kuartal III 2025 setelah sebelumnya berada dalam posisi rugi.
“Sepanjang 2025, MMIX fokus pada efisiensi biaya produksi, logistik, dan operasional, disertai perbaikan bauran produk dan pengelolaan persediaan yang lebih disiplin, sehingga kinerja berbalik dari rugi menjadi laba Rp2,1 miliar pada kuartal III 2025,” ujar Mengky, dikutip Minggu, 25 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa kinerja pendapatan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan pada periode tersebut.
“Pendapatan kuartal III 2025 tumbuh 85 persen secara tahunan menjadi Rp137,9 miliar, dengan segmen baby care, khususnya produk popok bayi, menjadi kontributor utama, sementara personal care turut menopang melalui peningkatan permintaan dan distribusi yang lebih optimal,” kata Mengky.
Manajemen menyampaikan bahwa capaian laba tersebut ditopang oleh penerapan efisiensi menyeluruh di seluruh lini usaha, mulai dari produksi hingga operasional, serta fokus pada kualitas pendapatan.
Penguatan jaringan distribusi dan peningkatan penetrasi pasar turut mendukung pertumbuhan pendapatan selama 2025. Tahun buku 2025 diposisikan sebagai fase pemulihan fundamental dengan target menjaga keberlanjutan laba dan perbaikan margin hingga akhir periode.
Memasuki 2026, MMIX menetapkan arah bisnis dengan menempatkan segmen baby care sebagai penggerak utama pertumbuhan. Strategi tersebut disertai diversifikasi produk secara selektif pada kategori personal care dan adult care, dengan pendekatan pertumbuhan yang terkontrol dan berorientasi pada kualitas.
Arah tersebut diselaraskan dengan proyeksi pasar Fast Moving Consumer Goods (FMCG) Indonesia yang diperkirakan tumbuh 6 hingga 9 persen secara tahunan pada 2026.
Dalam paparan tersebut, manajemen menyebutkan bahwa segmen Baby and Child Care diproyeksikan tumbuh 8 hingga 11 persen secara tahunan pada 2026, dengan nilai pasar mencapai USD 1,8 miliar.
Sementara itu, segmen Personal Care and Beauty diperkirakan tumbuh 9 hingga 12 persen secara tahunan dengan nilai pasar sekitar USD2,5 miliar. Proyeksi ini menjadi dasar penetapan fokus pengembangan portofolio produk MMIX.
Kontribusi segmen Mom and Baby diperkirakan tetap dominan pada 2026, dengan porsi sekitar 40 hingga 50 persen dari total pendapatan MMIX. Kontribusi tersebut didukung oleh peningkatan produktivitas fasilitas manufaktur popok bayi dan dewasa.
Di sisi lain, lini tisu basah dan produk hygiene diproyeksikan menyumbang 15 hingga 20 persen terhadap pendapatan 2026, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk kebersihan dan kebutuhan harian.
Manajemen juga memaparkan perubahan perilaku konsumen yang tercermin dari data penjualan periode 2023 hingga 2025. Konsumen, khususnya dari generasi Gen Z dan Alpha, dinilai semakin rasional dan berorientasi pada nilai, dengan preferensi terhadap produk praktis dan multifungsi.
Fleksibilitas kemasan, baik dalam bentuk small pack maupun value pack, disebut semakin relevan dalam menjawab kebutuhan pasar.
Selain itu, penguatan kanal digital dan penerapan pendekatan omnichannel mendorong penyesuaian strategi produk FMCG MMIX pada 2026 agar lebih adaptif dan transparan. Penyesuaian tersebut diarahkan untuk menjaga keselarasan antara karakter produk dan pola belanja konsumen yang semakin berbasis informasi.
Dalam jangka menengah hingga panjang, MMIX menargetkan transformasi menjadi perusahaan FMCG berbasis manufaktur dan merek. Untuk periode 2026 hingga 2030, perusahaan menetapkan target pertumbuhan pendapatan sebesar 10 hingga 15 persen per tahun.
Struktur pendapatan dirancang agar lebih seimbang antara segmen mom and baby, hygiene, dan beauty care, dengan fokus pada diferensiasi produk, efisiensi manufaktur lokal, serta penguatan profitabilitas dan arus kas.
Terkait strategi produk, Mengky menjelaskan bahwa perbedaan pendekatan antara house brand dan private label terletak pada tingkat kendali pengembangan produk. House brand memberikan kontrol penuh terhadap inovasi, kualitas, dan pengelolaan merek jangka panjang, sementara private label berfokus pada pemenuhan spesifikasi mitra ritel.
“Private label di Indonesia dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan dengan catatan konsistensi kualitas dan efisiensi biaya tetap terjaga,” pungkas dia. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.