KABARBURSA.COM – Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai peringatan yang diberikan MSCI terhadap pasar modal Indonesia ikut memengaruhi minat investor asing terhadap aset-aset domestik, termasuk rupiah dan pasar saham.
Menurut Josua, tekanan terhadap aset Indonesia tidak hanya berasal dari kondisi global, tetapi juga dipengaruhi penilaian lembaga internasional terhadap transparansi dan struktur pasar keuangan nasional.
“Kita bisa lihat tadi bahwa rentetan-rentetan dari risiko-risiko global, ditambah lagi tadi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif kepada risk appetite dari investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdominasi rupiah kita,” ujar Josua.
Ia menyebut, meningkatnya risiko geopolitik global, penguatan dolar AS, hingga peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia ikut memengaruhi minat investor asing terhadap aset-aset berbasis rupiah.
“Jadi sebenarnya tema besarnya bukan rupiah satu-satunya yang lemah terhadap dolar, tapi memang kondisi globalnya tadi,” ujar Josua.
Ia mengatakan tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset negara berkembang.
Lebih lanjut, tekanan terhadap pasar keuangan domestik, kata dia, terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong investor global memindahkan dana ke aset safe haven atau instrumen yang dianggap lebih aman.
Josua menilai, dampak konflik Timur Tengah terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kini lebih besar dibanding tekanan yang sebelumnya muncul akibat perang dagang global.
“Namun kalau kita mencermati bagaimana transmisi dari resiko global yang ada saat ini, memang shock dari perang dagang ini memang sudah relatif bisa diantisipasi, tapi memang konflik di Timur Tengah ini, ini yang memberikan tekanannya yang relatif lebih cepat dan lebih kuat,” katanya.
Menurut Josua, tekanan global tersebut merambat melalui sejumlah jalur, mulai dari kenaikan inflasi energi, ekspektasi suku bunga global, hingga meningkatnya permintaan terhadap dolar Amerika Serikat.
“Dan jalur transmisi yang tadi sudah kami sampaikan, inflasi energi, ekspektasi suku bunga global, dan juga permintaan dolar. Dan juga pada akhirnya akan ada shifting, ataupun perpindahan dari investor yang sebelumnya menempatkan di negara yang belum berkembang akan memindahkannya kepada aset-aset yang aman,” ujar Josua.