KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Rabu pagi dengan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat. Pergerakan tersebut diduga kuat dipengaruhi langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing.
Mengacu pada data Bloomberg per Rabu, 13 Mei 2026 pukul 09.05 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp17.515 per dolar AS. Posisi itu menguat 14 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.529 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan tipis mata uang domestik lebih banyak ditopang intervensi otoritas moneter ketimbang sentimen fundamental pasar.
“Karena intervensi,” ujar Lukman.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai belum sepenuhnya mereda. Lukman memperkirakan mata uang Garuda masih berpotensi kembali melemah seiring penguatan dolar AS pasca rilis data inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Di saat bersamaan, sentimen negatif lain datang dari hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Mei 2026. Jumlah emiten Indonesia yang terdepak dari indeks global tersebut disebut jauh lebih besar dibandingkan proyeksi awal pelaku pasar maupun regulator.
Selain faktor eksternal, kenaikan harga minyak mentah dunia yang belum menunjukkan tanda pelandaian juga dipandang menjadi beban tambahan bagi rupiah. Lukman memperkirakan pergerakan kurs hari ini berada dalam rentang Rp17.450 hingga Rp17.600 per dolar AS.
MSCI sebelumnya resmi merilis hasil tinjauan indeks terbarunya. Dalam evaluasi tersebut, sejumlah saham Indonesia keluar dari MSCI Global Standard Index maupun MSCI Global Small Cap Index.
Tercatat enam emiten dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Khusus saham AMRT, meski tersingkir dari MSCI Global Standard Index, emiten tersebut tetap masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Index.
Sementara itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Index. Emiten-emiten tersebut meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), hingga PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA).
Selain itu, ada pula PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Seluruh perubahan hasil rebalancing MSCI tersebut akan diterapkan pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan mulai efektif berlaku pada 1 Juni 2026.(*)