KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia dibuka cenderung melemah pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026 di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, dan ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat.
Sentimen pasar kawasan juga tertekan setelah inflasi Amerika Serikat kembali meningkat dan memicu kekhawatiran suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Indeks Nikkei Jepang dibuka di level 62.398,02 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 62.729,22. Namun indeks bergerak di bawah posisi penutupan sebelumnya yang berada di level 62.742,57.
Di Korea Selatan, indeks Kospi dibuka di level 7.513,65 dan sempat naik ke posisi tertinggi 7.519,28. Namun tekanan jual membuat indeks turun hingga menyentuh level terendah 7.402,36. Sebelumnya Kospi ditutup di level 7.643,15.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite dibuka di level 4.229,28 dan bergerak terbatas. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 4.230,18 sebelum turun ke posisi terendah 4.199,34. Adapun penutupan sebelumnya berada di level 4.225,02.
Tekanan di pasar Asia terjadi setelah Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan sebelumnya di tengah lonjakan inflasi Amerika Serikat dan memanasnya konflik AS-Iran.
Harga minyak dunia yang masih bertahan di atas USD100 per barel juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global dan risiko perlambatan ekonomi.
Reuters pada 12 Mei 2026, melaporkan harga minyak Brent naik ke level USD107,77 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi USD102,18 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi di Selat Hormuz.
Sebelumnya, pasar Asia sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir didorong reli saham teknologi dan optimisme sektor artificial intelligence (AI).
Sumber yang sama juga melaporkan indeks Nikkei bahkan sempat menembus level 63.000 untuk pertama kalinya pekan lalu setelah ditopang penguatan saham teknologi dan harapan meredanya konflik Timur Tengah.
Di Korea Selatan, reli saham chipmaker juga sempat membawa Kospi mencetak rekor tertinggi baru di atas level 7.000, didukung penguatan saham Samsung Electronics dan SK Hynix.
Namun, sentimen pasar kembali berubah setelah ketegangan geopolitik meningkat dan investor mulai mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat.
Pasar juga mulai memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama setelah inflasi AS April 2026 kembali meningkat.(*)