Logo
>

Net Buy Ritel Tembus Rp635 Miliar, Saham Apa Jadi Favorit?

BBCA menyerap lebih dari separuh akumulasi ritel sepanjang 9–13 Februari 2026, sementara saham komoditas mencatat distribusi bersih.

Ditulis oleh Syahrianto
Net Buy Ritel Tembus Rp635 Miliar, Saham Apa Jadi Favorit?
Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp28,9 triliun, dengan total beli Rp14,8 triliun dan jual Rp14,2 triliun dalam lima hari perdagangan. (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Investor ritel mencatat akumulasi bersih Rp635,1 miliar sepanjang 9–13 Februari 2026. Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp28,9 triliun, dengan total beli Rp14,8 triliun dan jual Rp14,2 triliun dalam lima hari perdagangan.

Dari angka tersebut, satu saham menonjol jelas. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyerap Rp342,7 miliar dana ritel, setara lebih dari separuh total net buy sepekan.

Volume pembelian BBCA mencapai 465.958 lot pada harga rata-rata 7.382. Konsentrasi dana pada satu emiten ini membuat BBCA menjadi penopang utama akumulasi ritel dalam periode tersebut.

Di bawah BBCA, aliran dana ritel tersebar lebih merata. PT Petrosea Tbk (PTRO) dibeli Rp62,1 miliar dengan volume 78.255 lot dan harga rata-rata 7.036.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut masuk radar dengan pembelian Rp54,8 miliar. Volume transaksi mencapai 146.542 lot pada harga rata-rata 3.760.

PT Indospring Tbk (INDS) mencatat akumulasi Rp51,5 miliar. Sementara PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menyusul dengan Rp37,2 miliar.

Jika lima saham tersebut digabungkan, nilainya mendominasi arus beli ritel dalam sepekan. Polanya menunjukkan preferensi ke saham perbankan dan energi tertentu.

Namun di sisi lain, ritel juga aktif melakukan distribusi. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi saham yang paling banyak dilepas dengan nilai Rp75,8 miliar.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menyusul dengan penjualan Rp53,9 miliar. PT Timah Tbk (TINS) dan PT Sumber Global Energy Tbk (EMAS) masing-masing dilepas Rp37,7 miliar dan Rp36,1 miliar.

PT United Tractors Tbk (UNTR) turut masuk daftar jual dengan nilai Rp33,7 miliar. Distribusi tersebut terjadi di tengah akumulasi kuat pada sektor lain.

Total volume transaksi ritel selama periode ini mencapai 91,1 miliar saham dengan frekuensi 9 juta kali. Aktivitas tersebut mencerminkan dinamika yang aktif meski indeks bergerak fluktuatif.

Data ini menunjukkan net buy ritel tidak tersebar merata. BBCA menjadi titik konsentrasi, sementara saham komoditas justru mengalami tekanan jual bersih.

Sepanjang 9–13 Februari 2026, pola akumulasi dan distribusi berlangsung bersamaan dalam komposisi sektor yang berbeda. Arah dana ritel dalam sepekan memperlihatkan rotasi yang terukur di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI). (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.