KABARBURSA.COM – Pasar saham Jepang mencetak rekor baru, seiring reli kuat yang didorong oleh ekspektasi kebijakan fiskal longgar dan membaiknya kepercayaan investor terhadap fundamental korporasi.
Kenaikan tersebut mengangkat valuasi saham Jepang melampaui sejumlah pasar Asia lainnya, meski analis menilai arus modal masih berpotensi berlanjut.
Pekan lalu, Nikkei Stock Average sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di 54.341,23, sementara indeks Topix menembus 3.600. Lonjakan ini terjadi di tengah perkembangan politik domestik dan prospek pertumbuhan laba perusahaan yang dinilai semakin solid.
Reli pasar saham Jepang terutama dipicu oleh kebijakan Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang sejak menjabat pada Oktober lalu menyampaikan komitmen terhadap kebijakan fiskal yang lebih longgar.
Langkah tersebut memicu optimisme investor, terlebih ketika Takaichi berencana membubarkan majelis rendah parlemen pada 23 Januari untuk menggelar pemilu dadakan.
Jika pemilu tersebut dimenangkan, Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa akan memperoleh mandat politik yang lebih kuat, sehingga mempermudah pengesahan anggaran dan implementasi kebijakan ekonomi.
Meski koalisi pemerintah masih menghadapi tantangan karena tidak menguasai mayoritas di majelis tinggi, pasar menilai kondisi politik saat ini tetap kondusif bagi aset berisiko.
“Jalur dengan hambatan paling kecil saat ini adalah Nikkei yang lebih tinggi, yen yang melemah, dan obligasi pemerintah Jepang yang tertekan, dalam kerangka klasik dari apa yang disebut sebagai Takaichi trade,” ujar Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management.
Kenaikan tajam indeks turut mendorong valuasi pasar saham Jepang. Dalam waktu sedikit lebih dari tiga bulan, Nikkei telah melonjak lebih dari 9.000 poin, atau sekitar 20 persen, sehingga mendorong rasio price-to-earnings (P/E) mendekati 20 kali.
Sebagai perbandingan, indeks Taiex Taiwan saat ini memiliki rasio P/E forward di atas 18 kali, sementara pasar Korea Selatan dan Hong Kong masih diperdagangkan di kisaran 10–11 kali, meskipun keduanya juga mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025. Namun, valuasi Jepang masih berada di bawah Amerika Serikat, di mana reli saham berbasis kecerdasan buatan mendorong rasio P/E forward S&P 500 ke sekitar 22 kali.
“Valuasi Jepang memang sedikit tinggi dibanding kisaran historisnya, tetapi jika dilihat secara global, Jepang masih menjadi tempat yang masuk akal untuk diversifikasi risiko,” kata Hisashi Arakawa, Head of Japan Equities di Aberdeen Investments.
Dari sisi fundamental, pemulihan laba korporasi menjadi penopang utama reli. Konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan laba dua digit pada tahun fiskal yang dimulai April mendatang, didorong oleh inflasi yang menopang pertumbuhan pendapatan.
“Inflasi telah mendorong pertumbuhan pendapatan bagi banyak perusahaan,” ujar Ryota Sakagami, Strategist di Citigroup Tokyo. Ia menambahkan, bagi sektor non-manufaktur, inflasi juga membantu memperbaiki margin keuntungan. “Secara keseluruhan, inflasi telah menjadi faktor positif bagi dunia usaha Jepang dan itu akan mendorong pasar saham lebih tinggi,” katanya.
Selain itu, reformasi struktural seperti revisi Corporate Governance Code, peningkatan fokus pada buyback saham, serta efisiensi penggunaan modal diperkirakan terus memperkuat daya tarik pasar saham Jepang di mata investor global.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa ruang ekspansi valuasi tidak sepenuhnya tanpa batas. HSBC menilai Jepang memiliki “ruang terbatas untuk ekspansi valuasi”, dengan mencatat bahwa return on equity (ROE) perusahaan Jepang belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Secara historis, ROE perusahaan Jepang sulit menembus level 10 persen, jauh di bawah perusahaan Amerika Serikat yang ROE-nya naik dari 15 persen pada 2015 menjadi sekitar 21 persen saat ini, menurut laporan UBS SuMi TRUST Wealth Management. Dalam periode yang sama, rasio P/E pasar AS meningkat dari kisaran 15–17 kali menjadi sekitar 22 kali.
UBS menilai 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi Jepang untuk mengadopsi struktur pasar yang lebih menyerupai Amerika Serikat, di mana saham memperoleh dorongan dari kombinasi pertumbuhan laba dan ekspansi valuasi.
“Jika ROE Jepang mampu menembus kisaran saat ini, pasar dapat mengantisipasi re-rating yang berpotensi menarik arus dana investor asing,” tulis UBS dalam laporannya.
Di kawasan Asia secara keseluruhan, valuasi saham masih dinilai relatif wajar. Lorraine Tan, Director of Asia Equity Research di Morningstar, menyebut saham Asia “diperdagangkan di sekitar nilai wajar”, meski memperingatkan potensi volatilitas dan rotasi sektor, terutama di sektor kecerdasan buatan dan material.
Sementara itu, Sakagami menilai bahwa meskipun Korea Selatan dan Taiwan memiliki valuasi lebih rendah dibanding Jepang, kedua pasar tersebut sangat terkonsentrasi pada sektor teknologi.
“Jika reli teknologi berlanjut, kinerja saham Korea Selatan dan Taiwan kemungkinan akan lebih baik,” ujarnya.
“Namun, dari sudut pandang alokasi aset global, sulit bagi investor untuk hanya membeli pasar-pasar tersebut,” imbuh dia.
Ia menambahkan bahwa saham Jepang masih menawarkan ruang bagi investor global sebagai bagian dari portofolio yang terdiversifikasi. (*)