Logo
>

OPEC Pangkas Proyeksi Permintaan, Harga Minyak Dunia Melemah

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, terkoreksi tajam sebesar USD2,14 atau sekitar 2 persen ke level USD105,63 per barel.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
OPEC Pangkas Proyeksi Permintaan, Harga Minyak Dunia Melemah
Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Rabu, di tengah meningkatnya kecemasan pasar terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat yang bertahan lebih lama serta penantian hasil pertemuan strategis antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, terkoreksi tajam sebesar USD2,14 atau sekitar 2 persen ke level USD105,63 per barel, berdasarkan laporan Reuters dari Houston, Jumat 15 Mei 2026.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan utama Amerika Serikat turut tergelincir USD1,16 atau 1,14 persen menjadi USD101,02 per barel.

Pelemahan harga energi terjadi ketika pelaku pasar mulai mengantisipasi sikap Federal Reserve yang berpotensi mempertahankan bahkan kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum juga melandai. Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins, pada Rabu menegaskan bank sentral masih membuka peluang pengetatan kebijakan moneter bila inflasi tetap membandel.

Situasi tersebut mempertebal kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akibat konflik Iran mulai menjalar ke denyut ekonomi Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak sebelumnya telah memicu lonjakan biaya bahan bakar, dan sejumlah ekonom memprediksi dampaknya akan semakin terasa dalam beberapa bulan mendatang.

Data inflasi terbaru turut memperkuat kegelisahan pasar. Harga produsen di Amerika Serikat sepanjang April mencatat kenaikan paling agresif dalam empat tahun terakhir, didorong meroketnya biaya barang dan jasa. Di saat bersamaan, inflasi konsumen juga meningkat signifikan selama dua bulan beruntun sehingga menghasilkan kenaikan tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun.

Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi lantaran biaya pinjaman bagi dunia usaha dan konsumen menjadi semakin mahal. Kondisi itu pada akhirnya dikhawatirkan menekan permintaan minyak global.

Dari sisi geopolitik, perhatian investor tertuju pada kunjungan Trump ke Beijing. Presiden AS tersebut tiba pada Rabu dan dijadwalkan menggelar pertemuan dengan Xi Jinping pada Kamis hingga Jumat, di tengah upaya mempertahankan gencatan dagang yang rapuh sekaligus meningkatnya eskalasi konflik Iran.

China sendiri masih menjadi pembeli utama minyak Iran meski terus dibayangi tekanan sanksi dari Washington. Pada saat bersamaan, Iran dilaporkan memperketat pengawasan terhadap Selat Hormuz, jalur maritim vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Analis Rystad Energy, Janiv Shah, menilai pasar minyak global masih akan menghadapi tekanan pasokan struktural setidaknya hingga penghujung tahun. Situasi itu mencerminkan ketimpangan yang terus melebar antara suplai dan permintaan global.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC pada Rabu memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026. Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa pasokan minyak global diperkirakan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tahun ini akibat gangguan produksi di kawasan Timur Tengah.

Di Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah anjlok 4,3 juta barel pada pekan lalu. Penurunan itu jauh lebih besar dibanding estimasi analis yang sebelumnya memperkirakan penyusutan sekitar 2,1 juta barel.

Persediaan bensin juga susut 4,1 juta barel, melampaui proyeksi pasar sebesar 2,9 juta barel. Namun, stok distilat yang mencakup minyak diesel dan minyak pemanas justru bertambah 0,2 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan sebesar 2,7 juta barel.

Data tersebut sempat memberikan katalis positif singkat terhadap harga minyak sebelum akhirnya kembali ditekan sentimen makroekonomi global.

Sehari sebelumnya, Selasa, harga minyak sempat melonjak lebih dari 3 persen setelah memudarnya harapan terhadap tercapainya gencatan senjata jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi itu mengurangi peluang pembukaan penuh Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Di tengah ketegangan yang belum mereda, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuding Kuwait melakukan tindakan ilegal terhadap kapal Iran di kawasan Teluk serta menahan empat warga negaranya. Teheran juga menuntut pembebasan mereka secepatnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan pihaknya melihat adanya perkembangan positif dalam proses negosiasi dengan Iran guna mengakhiri konflik. Pernyataan itu muncul meski sebelumnya Trump menolak proposal terbaru dari Teheran karena dianggap tidak dapat diterima.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.