KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia bergerak lambat dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu, 29 April 2026. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya tekanan dari lonjakan harga minyak dan pelemahan Wall Street pada sesi sebelumnya.
Pergerakan indeks utama menunjukkan volatilitas sejak awal perdagangan. Indeks Kospi dibuka turun 0,33 persen ke level 6.619,00 dari penutupan sebelumnya di 6.641,02, sebelum sempat menguat hingga 6.667,14 atau naik 0,39 persen.
Di Jepang, Nikkei 225 bergerak lebih tertekan. Indeks dibuka relatif datar di 60.531,78 dibanding penutupan sebelumnya di 60.537,36, sempat menguat ke 60.634,66, namun kemudian terkoreksi hingga 59.701,84 atau turun 1,38 persen secara intraday.
Sementara itu, Hang Seng mencatat penguatan terbatas. Indeks dibuka naik 0,63 persen ke 25.842,63 dari posisi sebelumnya di 25.679,78, dengan rentang perdagangan di kisaran 25.811,46 hingga 25.853,14.
Di China daratan, Shanghai Composite cenderung melemah. Indeks dibuka turun 0,41 persen ke 4.061,82 dari penutupan sebelumnya di 4.078,64, dan hanya bergerak naik tipis hingga 4.066,57, mengindikasikan koreksi lanjutan.
Sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan pasar Asia. Lonjakan harga minyak menjadi perhatian setelah kontrak Brent untuk Juni ditutup naik USD3,03 atau 2,8 persen ke USD111,26 per barel pada 28 April 2026, sementara WTI menguat USD3,56 atau 3,7 persen ke USD99,93 per barel.
Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap pasokan global akibat gangguan di Selat Hormuz. Reuters melaporkan jalur pengiriman energi utama tersebut masih belum sepenuhnya pulih, sementara pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan kemajuan.
Tekanan juga datang dari pasar saham Amerika Serikat. Pada penutupan 28 April, indeks Dow Jones turun 0,06 persen ke 49.136,15, S&P 500 melemah 0,49 persen ke 7.138,78, dan Nasdaq terkoreksi 0,90 persen ke 24.663,80, terutama akibat pelemahan saham teknologi dan kekhawatiran terhadap belanja kecerdasan buatan.
Di sisi lain, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut membatasi minat risiko investor. Indeks dolar tercatat naik 0,19 persen, seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat harga energi yang tinggi.
Di pasar komoditas, emas bergerak relatif stabil. Harga emas spot naik 0,1 persen ke USD4.598,45 per ons pada pukul 00.55 GMT, sementara kontrak berjangka emas AS juga menguat 0,1 persen ke USD4.612,10 per ons, dengan pelaku pasar menantikan komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Sejumlah analis menilai dinamika pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan energi. “Keluarnya UAE menunjukkan betapa sulitnya menjaga kartel tetap solid pada masa sulit,” kata Brian Jacobsen, Chief Economic Strategist Annex Wealth Management, dilansir Reuters, pada Selasa, 29 April 2026.
Sementara itu, John Kilduff, Partner Again Capital, menyatakan dalam kondisi normal, ini akan menjadi berita yang sangat bearish bagi pasar minyak.
Ke depan, arah pasar Asia diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak, kondisi di Selat Hormuz, kebijakan moneter The Fed, serta laporan kinerja emiten teknologi global.
Goldman Sachs memproyeksikan harga Brent rata-rata di USD90 per barel dan WTI USD83 per barel pada kuartal IV 2026, sedangkan Citi memperkirakan Brent berada di kisaran USD110, USD95, dan USD80 per barel masing-masing untuk kuartal II, III, dan IV 2026.(*)