KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis setelah sepanjang sesi bergerak labil di tengah silang informasi mengenai negosiasi perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Dinamika geopolitik kembali menjadi episentrum perhatian pasar energi global.
Minyak mentah Brent kontrak Juli, yang menjadi acuan internasional dan akan jatuh tempo pada Jumat, ditutup melemah 58 sen atau 0,6 persen ke level USD93,71 per barel. Sementara itu, kontrak Brent Agustus yang lebih aktif diperdagangkan justru menguat 72 sen menjadi USD92,97 per barel pada pukul 24.20 WIB.
Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berakhir di zona positif. Kontrak WTI naik 22 sen atau 0,3 persen menjadi USD88,90 per barel pada akhir perdagangan di New York.
Dalam beberapa sesi terakhir, pasar minyak bergerak dalam volatilitas tinggi. Sentimen berubah cepat seiring munculnya sinyal yang saling bertentangan mengenai peluang berakhirnya konflik Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan serta kemungkinan dibukanya kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Hingga kini, arus pelayaran di kawasan tersebut masih berada jauh di bawah tingkat normal sebelum pecahnya perang. Kondisi itu membuat pasar tetap dibayangi kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Empat sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan mengatakan kepada Reuters bahwa rancangan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari di Timur Tengah telah tercapai. Sebelumnya, media Axios juga melaporkan perkembangan serupa.
Namun demikian, kepastian diplomatik masih belum sepenuhnya terbentuk. Sumber Reuters menyebutkan rancangan kesepakatan tersebut masih membutuhkan persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pada saat yang sama, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa teks nota kesepahaman potensial dengan Washington masih belum rampung maupun dikonfirmasi secara resmi.
Pada awal sesi perdagangan, harga Brent dan WTI sempat melonjak lebih dari 2 persen. Kenaikan tajam itu dipicu pernyataan Garda Revolusi Iran yang mengklaim telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat sebagai balasan atas serangan Washington terhadap kota pelabuhan Bandar Abbas.
Firma konsultan perdagangan energi Ritterbusch and Associates menilai pasar minyak saat ini sangat rentan terhadap setiap perkembangan terkait Iran maupun Selat Hormuz. Menurut mereka, sentimen pasar dapat berubah drastis hanya dalam hitungan jam.
Dalam catatan risetnya, firma tersebut menyebut pasar masih berhati-hati terhadap katalis bullish dari konflik Iran. Akan tetapi, harga minyak juga berpotensi anjlok sewaktu-waktu apabila muncul sinyal kecil mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh.
Mereka menilai pola respons pasar yang kontras terhadap kabar positif maupun negatif kemungkinan akan terus berlangsung selama gencatan senjata tetap bertahan dalam situasi yang rapuh.
Tekanan tambahan terhadap harga minyak datang dari data resmi pemerintah Amerika Serikat. Laporan tersebut menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 3,3 juta barel pada pekan lalu. Penurunan itu menjadi yang keenam secara beruntun, meski masih lebih rendah dibanding ekspektasi analis dalam survei Reuters yang memperkirakan penyusutan sebesar 4,1 juta barel.
Cadangan bensin dan bahan bakar distilat Amerika Serikat juga tercatat mengalami penurunan. Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan energi domestik masih relatif solid meski ekonomi global dibayangi ketidakpastian.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan pasar minyak saat ini lebih banyak digerakkan faktor geopolitik dibanding data fundamental persediaan energi Amerika Serikat. Menurut dia, perhatian investor tetap tertuju pada perkembangan Timur Tengah yang dinilai memiliki dampak lebih besar terhadap stabilitas pasokan global.
Staunovo menambahkan, meskipun stok minyak AS kembali mencatat penurunan signifikan, pasar tetap lebih sensitif terhadap setiap berita yang datang dari kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut membuat volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan bertahan dalam waktu dekat.(*)