Logo
>

Reli Wall Street Berlanjut, Investor Abaikan Ancaman Inflasi

Di tengah euforia tersebut, pelaku pasar tetap mencermati tekanan inflasi Amerika Serikat yang masih menunjukkan tensi tinggi.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Reli Wall Street Berlanjut, Investor Abaikan Ancaman Inflasi
Ilustrasi wall street. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Pasar ekuitas Wall Street tampil bergairah pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali menorehkan rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah setelah beredar laporan mengenai rancangan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran. Di tengah euforia tersebut, pelaku pasar tetap mencermati tekanan inflasi Amerika Serikat yang masih menunjukkan tensi tinggi.

Dow Jones Industrial Average ikut menutup sesi di teritori positif meski pergerakannya cenderung stagnan sepanjang hari perdagangan. Indeks Dow Jones naik tipis 24,69 poin atau 0,05 persen ke level 50.668,97. Adapun S&P 500 menguat 43,27 poin atau 0,58 persen menjadi 7.563,63, sementara Nasdaq Composite melesat 242,74 poin atau 0,91 persen ke posisi 26.917,47.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa draf kesepakatan tersebut masih menunggu lampu hijau dari Presiden Donald Trump. Pada saat bersamaan, kantor berita Iran, Tasnim, mengabarkan bahwa nota kesepahaman potensial dengan Washington belum rampung dan masih berada dalam tahap finalisasi.

Managing Partner Harris Financial Group, Jamie Cox, menilai pasar bergerak amat responsif terhadap setiap dinamika dalam proses negosiasi geopolitik tersebut. Menurut dia, investor memilih mempertahankan posisi beli demi mengantisipasi kemungkinan hasil yang lebih konstruktif dibanding proyeksi awal.

Meski demikian, Cox mengingatkan bahwa tantangan berikutnya berasal dari tekanan inflasi yang diperkirakan tidak akan melandai dalam waktu singkat. Pasar, kata dia, mungkin terlalu optimistis terhadap kecepatan penurunan inflasi.

Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi Amerika sepanjang April meningkat pada laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan harga energi akibat konflik Iran menjadi pemicu utama akselerasi tersebut. Pada sisi lain, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal pertama direvisi turun menjadi 1,6 persen secara tahunan. Momentum ekonomi pun diperkirakan mulai kehilangan tenaga memasuki kuartal berjalan.

Sektor kesehatan menjadi salah satu katalis utama penguatan S&P 500. Saham Eli Lilly melompat 4 persen setelah CVS Health mengumumkan akan kembali memasukkan suntikan penurun berat badan Zepbound ke dalam cakupan layanannya. Perusahaan itu juga menambahkan pil obesitas terbaru Eli Lilly, Foundayo, ke dalam daftar layanan kesehatan mereka.

Saham-saham teknologi turut melaju impresif. Microsoft melonjak 3,5 persen setelah media The Information melaporkan perusahaan tersebut bersiap meluncurkan model kecerdasan buatan terbaru untuk kebutuhan coding pada pekan depan.

Di saat bersamaan, saham Marvell Technology terangkat 3 persen setelah UBS menaikkan target harga saham perusahaan itu menjadi USD230 dari sebelumnya USD195. Sejak awal tahun, kapitalisasi saham Marvell telah melesat lebih dari dua kali lipat.

Reli paling spektakuler terjadi pada saham Snowflake. Emiten analitik data tersebut melambung 36 persen setelah menaikkan proyeksi pendapatan produk tahunan sekaligus mengumumkan kerja sama infrastruktur AI senilai USD6 miliar selama lima tahun bersama Amazon Web Services.

Sentimen positif juga merembet ke perusahaan sejenis. Saham Datadog dan MongoDB sama-sama mencatat penguatan seiring meningkatnya optimisme terhadap prospek industri berbasis kecerdasan buatan.

Deputi CIO Solutions and Multi-Assets Morgan Stanley Investment Management, Jitania Kandhari, mengatakan optimisme terhadap pertumbuhan industri AI serta kinerja laba korporasi masih menjadi motor utama reli pasar global. Menurut dia, investor sejauh ini masih mampu mengesampingkan berbagai risiko geopolitik meski konflik Timur Tengah memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi.

Kandhari menilai ekonomi global dan performa laba perusahaan tetap berada dalam kondisi relatif resilien. Situasi tersebut membuat pasar memiliki ruang untuk mempertahankan reli meski dibayangi ketidakpastian geopolitik.

Ia juga menambahkan bahwa instabilitas geopolitik justru berpotensi mempercepat arus investasi pada sektor-sektor strategis seperti kecerdasan buatan, keamanan siber, teknologi pertahanan, infrastruktur energi, hingga ketahanan rantai pasok global.

Menurut Kandhari, valuasi S&P 500 memang saat ini diperdagangkan di kisaran 21 hingga 22 kali laba per saham, lebih tinggi dibanding rerata 10 tahun terakhir sebesar 19,7 kali. Namun investor belum melihat kondisi itu sebagai ancaman serius lantaran ekspektasi pertumbuhan laba bergerak lebih cepat dibanding kenaikan harga saham.

Di luar sektor teknologi, saham Dollar Tree meroket hampir 18 persen setelah perusahaan ritel diskon tersebut menaikkan proyeksi laba tahunan. Sementara itu, Best Buy melesat 15,8 persen usai memproyeksikan penjualan kuartal kedua yang diperkirakan mampu melampaui estimasi para analis pasar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.