KABABRBURSA.COM - Indonesian Business Council (IBC) menaruh perhatian mendalam pada perkembangan terbaru pasar modal Indonesia. Fokus utama tertuju pada dinamika kepemimpinan di institusi-institusi strategis, bersamaan dengan respons pelaku pasar terhadap agenda reformasi serta kebijakan tata kelola yang tengah bergulir. IBC menilai dinamika ini sebagai bagian inheren dari proses institusional. Wajar, namun menuntut pengelolaan yang prudent, predictable, serta berorientasi jangka menengah hingga panjang agar kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga.
IBC menegaskan, pasar modal yang kredibel tidak semata berfungsi sebagai arena transaksi. Lebih dari itu, ia merupakan fondasi pembiayaan investasi, pendorong pendalaman pasar keuangan (financial deepening), sekaligus pengungkit daya saing ekonomi nasional. Peran tersebut kian krusial di tengah lanskap global yang sarat volatilitas, friksi geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan.
Chief Operating Officer IBC, William Sabandar, menyampaikan bahwa kepercayaan investor bertumpu pada konsistensi kebijakan, kepastian hukum, serta kekokohan tata kelola institusional. Menurutnya, pasar sejatinya adaptif terhadap perubahan. Namun, perubahan hanya akan diterima apabila dikelola dengan kejelasan arah, proses yang transparan, dan komitmen teguh pada prinsip good governance.
“Policy credibility dan institutional continuity adalah prasyarat utama stabilitas pasar. Tanpa keduanya, sentimen investor mudah terdistorsi,” ujar William dalam pernyataan dikutip KabarBursa.com, Jakarta 31 Januari 2026.
Sebagai kontribusi konstruktif dari perspektif dunia usaha, IBC merumuskan enam rekomendasi strategis guna memperkuat ketahanan dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Kepastian dan Predictability Kebijakan Pasar Modal
IBC berpandangan bahwa stabilitas jangka panjang mensyaratkan lingkungan kebijakan yang konsisten dan dapat diprediksi. Setiap inisiatif, termasuk rencana peningkatan free float, perlu disertai peta jalan yang terdefinisi dengan baik, tahapan implementasi yang realistis, serta komunikasi yang terbuka agar tidak menimbulkan distorsi ekspektasi pasar.
IBC mendorong proses penunjukan pejabat pengganti di lembaga strategis pasar modal dilakukan secara tepat waktu, profesional, dan berbasis meritokrasi. Kepastian kepemimpinan dinilai krusial untuk menjaga kesinambungan kebijakan dan mencegah terjadinya policy vacuum yang berpotensi menggerus kepercayaan investor.
Koordinasi antarlembaga dinilai esensial untuk menjaga stabilitas pasar, dengan tetap menghormati independensi masing-masing otoritas. IBC menekankan pentingnya penguatan market surveillance berbasis data serta penerapan pendekatan risk-based supervision guna meningkatkan kemampuan deteksi dini terhadap potensi disrupsi pasar.
IBC menyoroti urgensi penegakan regulasi yang independen, profesional, konsisten, dan proporsional. Upaya ini harus ditopang oleh kejelasan mandat serta perlindungan hukum yang memadai bagi aparat pengawas, sehingga fungsi pengawasan berjalan efektif tanpa menciptakan ketidakpastian regulasi yang berlebihan bagi pelaku pasar.
Kepercayaan investor, baik domestik maupun global, sangat bergantung pada kepastian hukum, perlindungan hak milik, penghormatan terhadap kontrak, serta penerapan due process of law yang konsisten dan non-diskriminatif. Prinsip-prinsip tersebut merupakan fondasi iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan.
IBC memandang stabilitas sistem keuangan sebagai common good yang harus dijaga melalui kebijakan yang selaras, tata kelola yang kokoh, serta kolaborasi erat antara otoritas, pelaku pasar, dan dunia usaha. Partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memelihara kepercayaan pasar.
Menutup pernyataannya, Chief Economist IBC Denni Purbasari menegaskan komitmen organisasi untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut akan diwujudkan melalui dialog kebijakan yang konstruktif, masukan berbasis riset, serta perspektif dunia usaha, guna memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia dan meningkatkan daya tariknya bagi investor jangka panjang.(*)