Logo
>

Pasar Obligasi Menanti Isyarat BI di Tengah Stabilnya Lelang SUN

Stabilitas menjadi kata kunci, terlebih ketika rupiah masih bergerak di tepian level terlemahnya sepanjang sejarah

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Pasar Obligasi Menanti Isyarat BI di Tengah Stabilnya Lelang SUN
Keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia yang diumumkan hari ini menjadi jangkar ekspektasi. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Pasar obligasi Indonesia bersiap membuka perdagangan dengan langkah tertahan. Nada kehati-hatian mengemuka. Hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang relatif stabil memang meredakan sebagian kegelisahan, tetapi belum sepenuhnya memulihkan selera risiko investor.

Sebelumnya, lanskap sentimen sempat bergejolak. Penurunan outlook peringkat kredit oleh Moody’s Investors Service pada awal bulan menjadi katalis kegamangan, menambah lapisan ketidakpastian di tengah dinamika global yang tak menentu.

Kini, sorotan beralih ke Gedung Thamrin. Keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia yang diumumkan hari ini menjadi jangkar ekspektasi. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga acuan untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Stabilitas menjadi kata kunci, terlebih ketika rupiah masih bergerak di tepian level terlemahnya sepanjang sejarah.

Nilai tukar rupiah bertengger di kisaran Rp16.875 per dolar AS. Posisi itu hanya terpaut tipis dari rekor terendah Rp16.985 yang sempat tercapai bulan lalu. Sebuah pengingat bahwa tekanan eksternal belum benar-benar sirna.

Lelang Lampaui Target Indikatif

Di tengah atmosfer tersebut, pemerintah mencatatkan capaian signifikan. Dari lelang obligasi reguler pada Rabu, dana sebesar Rp40 triliun—sekitar USD2,37 miliar—berhasil dihimpun, melampaui target indikatif yang ditetapkan. Ini menjadi penerbitan perdana setelah Moody’s memangkas outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan menyinggung penurunan prediktabilitas kebijakan.

Langkah lembaga pemeringkat itu beriringan dengan sorotan MSCI Inc. terhadap isu transparansi, yang sebelumnya memantik aksi jual di pasar saham dan obligasi domestik. Kombinasi dua sentimen tersebut sempat menekan harga dan mengerek imbal hasil.

Total penawaran yang masuk dalam lelang mencapai Rp63,06 triliun—angka terendah dalam hampir setahun. Meski demikian, otoritas menilai permintaan tetap resilien. Minimnya partisipasi investor dari Singapura dan Hong Kong, akibat libur Tahun Baru Imlek, turut memengaruhi dinamika tersebut.

Frances Cheung, Head of FX and Rates Strategy OCBC, menilai volume penawaran memang menyusut dibanding periode sebelumnya. Namun Kementerian Keuangan tetap menaikkan nilai penerbitan sesuai ekspektasi pasar. Langkah ini dipandang memberi bantalan likuiditas bagi kebutuhan pembiayaan negara. Seperti dilansir reuters di Jakarta, Kamis 19 Februari 2026. 

Asing Masih Selektif, Yield Merangkak Naik

Dari total penawaran investor asing sebesar Rp7,65 triliun, pemerintah menyerap Rp6,2 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding lelang 3 Februari, ketika investor asing hanya memenangkan Rp2,75 triliun dari total penawaran Rp8,4 triliun. Ada indikasi minat yang mulai pulih, meski belum sepenuhnya agresif.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di level 6,424 persen. Sejak awal tahun, yield telah menanjak sekitar 30 basis poin. Kenaikan ini mencerminkan penyesuaian premi risiko sekaligus respons terhadap dinamika global.

Selisih imbal hasil dengan obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat di kisaran 233 basis poin. Spread tersebut masih menawarkan daya tarik komparatif bagi investor global yang berburu imbal hasil di pasar negara berkembang.

Dengan hasil lelang yang relatif solid dan ekspektasi suku bunga yang cenderung stagnan, pelaku pasar kini menunggu artikulasi kebijakan Bank Indonesia. Arah jangka pendek pasar obligasi dan rupiah akan sangat ditentukan oleh nada dan proyeksi yang disampaikan otoritas moneter hari ini.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.