Logo
>

Penguatan Dolar AS Empat Hari Berturut-turut, Euro dan Pound Melemah

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun 23 ribu menjadi 206 ribu

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Penguatan Dolar AS Empat Hari Berturut-turut, Euro dan Pound Melemah
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan kekuatan, menguat untuk hari keempat berturut-turut pada perdagangan Kamis. Lonjakan ini dipicu oleh data ekonomi AS yang menegaskan pasar tenaga kerja tetap tangguh, sekaligus memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun 23 ribu menjadi 206 ribu, jauh di bawah perkiraan ekonom yang sebelumnya memproyeksikan 225 ribu, demikian laporan Reuters dari New York, Kamis 19 Februari atau Jumat 20 Februaru 2026 pagi WIB. Data ini menandakan ekonomi masih bertahan meski berada dalam tekanan suku bunga tinggi.

Joseph Trevisani, analis FXStreet di New York, menekankan bahwa angka tersebut belum menunjukkan tekanan signifikan pada perekonomian. “Meskipun ada dorongan politik dari Gedung Putih untuk menurunkan suku bunga, pasar belum menemukan alasan kuat bagi bank sentral untuk segera bertindak. Tanpa katalis baru, pelaku pasar cenderung bersikap konservatif,” ujarnya.

Namun di sisi lain, laporan Departemen Perdagangan menunjukkan defisit perdagangan melebar ke USD 70,3 miliar, jauh di atas ekspektasi USD 55,5 miliar.

Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mencerminkan kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,19 persen ke level 97,88. Sebaliknya, euro melemah 0,14 persen ke posisi USD 1,1766. Jika tren ini berlanjut, penguatan empat hari berturut-turut akan menjadi yang terpanjang sejak awal Januari.

Euro melemah untuk hari kedua berturut-turut setelah sebelumnya mencatat penurunan harian terbesar sejak 30 Januari. Tekanan datang dari laporan Financial Times yang menyebut Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, diperkirakan akan meninggalkan jabatannya sebelum masa tugas delapan tahun berakhir. Meski demikian, sejumlah sumber menegaskan Lagarde tetap fokus pada pekerjaannya dan akan menginformasikan lebih dahulu jika berencana mundur.

Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menyatakan pasar tenaga kerja masih kuat dan bank sentral hampir mencapai dua mandat utamanya, yakni lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pasar belum memperkirakan peluang lebih dari 50 persen untuk pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin sebelum pertemuan Juni mendatang.

Risalah pertemuan Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan para pembuat kebijakan masih terbagi terkait arah suku bunga, dengan indikasi bahwa ketua baru yang mulai menjabat pada Mei kemungkinan menghadapi tantangan dalam mendorong pemangkasan suku bunga.

Investor juga mencermati laporan pengerahan pasukan Amerika di Timur Tengah dan potensi konflik dengan Iran, yang turut mengerek harga minyak. Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa skenario buruk akan terjadi jika tidak ada kesepakatan dengan Iran, namun ia optimistis Amerika akan mencapai kesepakatan dengan satu cara atau lainnya.

Terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,06 persen menjadi 154,92. Sementara poundsterling melemah 0,25 persen ke USD 1,3457. Anggota Komite Penetapan Suku Bunga Bank of England, Catherine Mann, menilai data inflasi Inggris yang dirilis pekan ini positif, meski perbaikan pada indikator inti belum sebesar ekspektasi bank sentral.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.