KABARBURSA.COM – Ramadan 1447 Hijriah resmi dimulai pada 19 Februari 2026 di tengah koreksi sektor konsumsi dan pelemahan indeks utama.
Indeks IDX Consumer Non-Cyclicals (IDXNONCYC) ditutup di level 796,25 atau turun 3,74 persen dalam satu bulan terakhir, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di 8.271,77 dan masih terkoreksi 4,34 persen secara year to date (ytd).
Di tengah tekanan tersebut, data historis satu dekade terakhir justru menunjukkan pola yang berbeda pada Maret. Ketika Ramadan berada di rentang Februari–Maret, probabilitas penguatan sektor konsumsi meningkat hingga 75 persen.
Berdasarkan data yang dihimpun Kabarbursa.com, pola historis sektor konsumsi menunjukkan kecenderungan pergeseran momentum dari Februari ke Maret. Secara statistik, Februari untuk IDXNONCYC dalam 10 tahun terakhir mencatat rata-rata minus 2,40 persen dengan probabilitas naik hanya 40 persen, sedangkan Maret memiliki probabilitas penguatan hingga 75 persen.
Kondisi makro awal tahun juga menjadi variabel penting dalam membaca potensi pergerakan sektor. Januari 2026 mencatat deflasi bulanan 0,15 persen meski inflasi tahunan berada di 3,55 persen. Artinya tekanan harga secara tahunan terkendali, tetapi permintaan jangka pendek belum sepenuhnya pulih.
Deflasi Januari dan IHSG Minus Year to Date
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di level 109,75.
Namun secara bulanan terjadi deflasi 0,15 persen, sementara inflasi inti tercatat 2,45 persen secara year on year (yoy) dan 0,37 persen secara month to month (mtm).
Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Januari 2025 mencatat inflasi tahunan 0,76 persen dengan deflasi bulanan 0,76 persen. Data ini menunjukkan pergerakan harga awal tahun tidak sepenuhnya mengikuti pola peningkatan konsumsi menjelang Ramadan.
Di pasar keuangan, IHSG ditutup di level 8.271,77 pada 20 Februari 2026 atau turun 0,03 persen secara harian dan masih terkoreksi 4,34 persen secara ytd.
Nilai tukar rupiah berada di 16.862,9 per USD, menguat 0,25 persen secara harian namun masih melemah 3,44 persen dalam 12 bulan terakhir.
Statistik 10 Tahun: Februari Lemah, Maret Menguat
Data historis 10 tahun terakhir menunjukkan pola pergerakan sektor konsumsi tidak selalu sejalan dengan awal Ramadan.
Untuk indeks IDX Consumer Non-Cyclicals, rata-rata kinerja Februari tercatat minus 2,40 persen dengan probabilitas kenaikan 40 persen.
Sebaliknya, Maret mencatat rata-rata kenaikan 0,75 persen dengan probabilitas penguatan mencapai 75 persen. April juga mencatat rata-rata positif 0,68 persen dengan probabilitas naik 50 persen, meski tidak setinggi Maret.
Pola berbeda terlihat pada IHSG yang tidak menunjukkan konsistensi penguatan selama periode Ramadan.
Rata-rata Februari IHSG tercatat minus 0,85 persen dan Maret minus 1,97 persen, sementara April mencatat rata-rata kenaikan 1,10 persen dengan probabilitas naik 67 persen.
Meski terkoreksi dalam satu bulan terakhir, kinerja sektor konsumsi relatif lebih stabil dibanding indeks utama. IDXNONCYC tercatat turun 0,44 persen secara year to date, sementara indeks IDX Consumer Cyclicals berada di minus 1,34 persen, lebih baik dibanding IHSG yang terkoreksi 4,34 persen.
Volume transaksi di sektor non-siklikal mencapai 2,31 miliar saham pada 20 Februari 2026 dengan rata-rata volume harian 1,09 miliar saham. Pada sektor siklikal, volume tercatat 11,63 miliar saham dengan nilai transaksi signifikan, menunjukkan likuiditas tetap terjaga di tengah koreksi indeks.
Namun, pada level saham, pergerakan harga dan arus dana asing menunjukkan dinamika berbeda. Beberapa saham mencatat penguatan harga disertai akumulasi asing, sementara lainnya mengalami distribusi meski sektor secara keseluruhan relatif defensif.
Valuasi dan Arus Asing Lima Saham Konsumsi
Pada level emiten, pergerakan harga menunjukkan variasi yang cukup lebar. Saham PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ) ditutup di level 1.655 atau menguat 14,93 persen secara ytd.
Emiten ini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PE) 14,15 kali dengan net foreign buy Rp7,04 miliar dalam sepekan terakhir.
Pada daftar kedua, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) berada di level 8.025 atau terkoreksi 2,13 persen ytd. Saham ini mencatat net foreign buy Rp14,82 miliar dengan PE 15,50 kali dan dividend yield 3,12 persen, sementara laba annualised 2025 berada di atas realisasi 2024.
Lebih lanjut, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) ditutup di level 2.230 atau naik 4,69 persen sejak awal tahun. Namun dalam periode 14–20 Februari 2026 tercatat net foreign sell Rp36,26 miliar, dengan PE 17,59 kali dan dividend yield 2,47 persen.
Di sektor ritel, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) berada di level 1.815 atau turun 8,10 persen ytd. Meski harga terkoreksi, saham ini mencatat net foreign buy Rp110,94 miliar dalam satu pekan dengan PE 24,60 kali dan market cap Rp75,37 triliun.
Sementara itu, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) ditutup di level 680 atau menguat 1,49 persen ytd.
Emiten ini diperdagangkan pada PE 13,70 kali dengan earnings yield 7,30 persen dan net foreign sell Rp6,71 miliar dalam sepekan terakhir.
| Emiten | Harga | YTD | PE TTM | Net Foreign 1 Minggu | Market Cap |
|---|---|---|---|---|---|
| MYOR | 2.230 | +4,69% | 17,59x | -Rp36,26 miliar | Rp49,86 T |
| ICBP | 8.025 | -2,13% | 15,50x | +Rp14,82 miliar | Rp93,59 T |
| ULTJ | 1.655 | +14,93% | 14,15x | +Rp7,04 miliar | Rp17,21 T |
| AMRT | 1.815 | -8,10% | 24,60x | +Rp110,94 miliar | Rp75,37 T |
| MAPA | 680 | +1,49% | 13,70x | -Rp6,71 miliar | Rp19,38 T |
Periode Februari–Maret dalam Statistik Ramadan
Ramadan 2026 berlangsung pada rentang Februari hingga Maret, periode yang secara historis menunjukkan perbedaan kinerja antarbulan.
Data 10 tahun terakhir mencatat Februari sebagai fase dengan rata-rata kinerja negatif untuk sektor konsumsi, sementara Maret memiliki probabilitas kenaikan yang lebih tinggi.
Pada saat yang sama, kondisi makro menunjukkan inflasi tahunan tetap terkendali di 3,55 persen dengan deflasi bulanan 0,15 persen pada Januari 2026.
IHSG masih berada dalam fase koreksi ytd, sedangkan sektor konsumsi mencatat pelemahan yang lebih terbatas dibanding indeks utama.
Pergerakan harga saham dan arus dana asing pada lima emiten konsumsi memperlihatkan variasi antara akumulasi dan distribusi.
Data sektoral dan historis tersebut menjadi acuan dalam membaca dinamika pergerakan sektor konsumsi sepanjang periode Ramadan tahun ini. (*)