KABARBURSA.COM – Reli saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dalam beberapa pekan terakhir kembali menarik perhatian pasar. Kenaikan harga yang cepat, disertai lonjakan minat investor ritel, membuat saham kontraktor tambang ini masuk radar spekulasi jangka pendek hingga menengah.
Dalam sepekan terakhir, saham DEWA tercatat melonjak lebih dari 21 persen dan bergerak di kisaran 815. Pergerakan ini menempatkan DEWA jauh di atas level historisnya, sekaligus mendahului berbagai proyeksi kinerja yang baru akan terealisasi dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Secara teknikal, data Stockbit per 6 Januari 2026 menunjukkan DEWA bergerak konsisten di atas rata-rata pergerakan 50 dan 100 hari. Pola harga memperlihatkan fase akselerasi setelah periode konsolidasi panjang, dengan volatilitas yang mulai melebar, ciri khas saham yang sedang memasuki fase re-rating pasar.
Namun di balik pergerakan harga tersebut, pasar tidak hanya membaca grafik. Ekspektasi terhadap lonjakan kinerja keuangan menjadi bahan bakar utama reli. Salah satu pemicunya datang dari proyeksi tim analis Henan Putihrai Sekuritas yang menempatkan DEWA dalam fase pertumbuhan laba yang sangat agresif.
“Kami memproyeksikan laba bersih DEWA melonjak 2.448 persen menjadi Rp418 miliar pada 2025, dari hanya Rp16,4 miliar pada tahun sebelumnya,” tulis tim sekuritas tersebut.
Proyeksi tersebut datang dari analis Henan Putihrai Sekuritas, yang menilai bahwa perbaikan struktural di tubuh perusahaan mulai menunjukkan hasil. Tidak berhenti di 2025, estimasi pertumbuhan juga diperpanjang hingga 2026. “Pada 2026, laba bersih diperkirakan meningkat menjadi Rp515 miliar dengan pendapatan mencapai sekitar Rp6,5 triliun,” tulis tim sekuritas.
Lonjakan laba yang sangat tajam ini membuat DEWA dipersepsikan pasar sebagai emiten turnaround story. Dari perusahaan dengan margin tipis dan laba terbatas, DEWA kini dibaca sedang bertransformasi menjadi kontraktor tambang dengan kendali biaya yang lebih kuat.
Namun, analis juga menekankan bahwa kenaikan kinerja tersebut tidak datang secara instan, melainkan ditopang perubahan model operasional. Fokus utama berada pada cara DEWA mengeksekusi proyek. “Kenaikan laba ini didorong oleh peningkatan produksi, efisiensi proyek, serta ekspansi kontrak yang semakin luas,” tulis tim analis.
Salah satu perubahan paling signifikan adalah strategi mengurangi ketergantungan pada subkontraktor. Hingga September 2025, DEWA mampu mengeksekusi pekerjaan sebesar 125 juta bcm secara mandiri, melonjak tajam dibanding periode sebelumnya. “DEWA kini mengurangi ketergantungan pada subkontraktor dan mulai mengeksekusi proyek secara mandiri,” catat mereka.
Sebaliknya, volume pekerjaan yang dikerjakan subkontraktor justru turun 32,9 persen, dari 61,9 juta bcm menjadi 36,4 juta bcm. Pergeseran ini memberi perusahaan kontrol yang lebih besar atas biaya, produktivitas, dan kualitas pekerjaan—tiga faktor krusial dalam bisnis jasa pertambangan.
Dari sisi aset operasional, perusahaan juga telah menerima seluruh unit alat berat XCMG yang dipesan. Meski pemanfaatannya sempat terhambat cuaca ekstrem, keberadaan alat ini dipandang menjadi fondasi penting untuk menjaga kapasitas produksi ke depan.
Di titik ini, pasar mulai membangun narasi bahwa DEWA bukan sekadar saham teknikal, melainkan saham yang sedang mengalami perubahan fundamental. Namun persoalannya, harga saham sudah bergerak lebih cepat dibanding pembuktian kinerja.
Data Stockbit menunjukkan valuasi DEWA telah naik signifikan. Price to Earnings (TTM) berada di kisaran 194,95—jauh di atas rata-rata historis dan menandakan bahwa pasar sedang mendiskon pertumbuhan laba masa depan secara agresif. Sementara itu, Price to Book Value telah menembus 6 kali, level yang menempatkan saham ini di zona premium dibanding mayoritas emiten kontraktor tambang.
Dari sisi konsensus analis, terdapat jurang yang patut dicermati investor. Target harga rata-rata analis berada di Rp640, dengan estimasi tertinggi Rp750 dan terendah Rp509. Artinya, harga pasar saat ini sudah melampaui konsensus tertinggi.
Kondisi ini menegaskan satu hal: reli DEWA saat ini lebih mencerminkan optimisme pasar terhadap masa depan, bukan refleksi kinerja yang sudah terealisasi. Risiko utama bukan lagi pada cerita pertumbuhan, melainkan pada kemampuan perusahaan memenuhi ekspektasi tinggi tersebut.
Jika realisasi laba 2025 dan 2026 berjalan sesuai proyeksi, valuasi tinggi saat ini bisa terjustifikasi. Namun jika terjadi keterlambatan proyek, gangguan operasional, atau tekanan biaya, koreksi harga berpotensi terjadi dengan cepat—seiring pasar menyesuaikan ulang ekspektasinya.
Dengan demikian, saham DEWA kini berada di fase krusial. Pasar sudah memberi kepercayaan lebih dulu, sementara perusahaan dituntut membuktikan transformasi operasionalnya lewat angka nyata. Reli boleh berlanjut, tetapi ruang toleransi terhadap kekecewaan semakin menyempit.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.