Logo
>

RKAB Pertambangan Belum Terbit, Vale (INCO) Kehilangan Momentum?

Harga nikel global sedang reli dan saham tambang menguat, namun operasional INCO tertahan karena RKAB 2026 belum terbit, membuat peluang kenaikan kinerja masih dibatasi faktor regulasi.

Ditulis oleh Yunila Wati
RKAB Pertambangan Belum Terbit, Vale (INCO) Kehilangan Momentum?
PT Vale Indonesia Tbk. Foto: Dok Perusahaan.

KABARBURSA.COM – Apa yang terjadi pada PT Vale Indonesia Tbk, berkode emiten INCO, di awal 2026, sungguh menjadi ironi. Ketika harga komoditas sedang reli, tetapi aktivitas produksi Vale justru tertahan oleh faktor regulasi.

Dalam keterbukaan informasinya, manajemen menjelaskan bahwa persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 belum diterbitkan. Artinya, Perseroan belum diperkenankan melakukan kegiatan operasional pertambangan.

Corporate Secretary Vale Anggun Kara Nataya, menjelaskan bahwa penghentian ini bersifat sementara dan dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik. 

Dengan begitu, seluruh kegiatan operasi di wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dihentikan hingga izin resmi terbit. 

Dengan kejadian ini, manajemen menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak menimbulkan dampak material langsung terhadap keuangan saat ini. Mereka juga meyakini jika keterlambatan persetujuan RKAB tidak akan mengganggu keberlanjutan usaha secara keseluruhan.

Harga Nikel Melambung VS Pembatasan Produksi

Di saat yang bersamaan, pasar nikel global sedang menguat tajam. Harga nikel forward tiga bulan di London Metal Exchange (LME) telah naik 5,2 persen sejak awal pekan ke level USD16.646 per ton per 31 Desember 2025. Kenaikan ini menjadi level mingguan tertinggi dalam sembilan bulan terakhir. 

Secara bulanan, harga bahkan sudah melonjak 13,5 persen month on month, dan menandai perubahan sentimen yang cukup signifikan setelah periode tekanan panjang.

Akan tetapi Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, secara terbuka menyampaikan rencana pengurangan pasokan bijih nikel nasional pada 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi rencana tersebut. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan global. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa era oversupply ekstrem akan mulai dikoreksi.

Sinyal yang lebih konkret sebelumnya datang dari Asosiasi Penambang Nikel Indonesia. Pada pertengahan Desember 2025, disebutkan bahwa target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 diperkirakan sekitar 250 juta ton, turun sekitar 34 persen dibanding target RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton. 

Jika realisasi kebijakan ini konsisten, maka pengetatan pasokan nikel Indonesia berpotensi menjadi katalis struktural bagi harga global.

Harga Saham Masih Reli

Dari perspektif global, riset S&P Global yang dirilis pada 29 Desember 2025 memberi konteks tambahan. Sistem RKAB dinilai turut berkontribusi pada persepsi oversupply nikel yang berlebihan. 

Bahkan, menurut Industrial and Commercial Bank of China, sebagian pelaku industri memanfaatkan RKAB untuk menimbun kuota secara spekulatif, dan menciptakan apa yang disebut sebagai paper surplus. Fenomena ini membuat pasar semakin sensitif terhadap kebijakan kuota dan persetujuan administratif.

Meski demikian, S&P Global tetap memproyeksikan dominasi Indonesia akan terus meningkat, dengan pangsa pasar global diperkirakan naik dari 59,9 persen pada 2025 menjadi 74,1 persen pada 2035. 

Dalam horizon tersebut, harga nikel kontrak tiga bulan di LME bahkan diproyeksikan mencapai USD17.600 per ton, dan mengindikasikan bahwa tren jangka panjang masih konstruktif.

Respons pasar saham mencerminkan optimisme tersebut, meski disertai kehati-hatian. Pada perdagangan Jumat, 2 Januari 2026, sejumlah saham nikel menguat signifikan. NICL melonjak hampir 14 persen, MBMA naik 8,77 persen, DKFT menguat 6,90 persen, dan NCKL bertambah 3,56 persen. 

Saham INCO sendiri naik 2,42 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tetap mengapresiasi posisi strategis Vale di tengah reli harga nikel, meski menyadari adanya hambatan operasional jangka pendek.

Secara keseluruhan, keberlanjutan reli harga nikel sangat bergantung pada keputusan RKAB 2026, baik dari sisi jumlah kuota maupun timing penerbitannya. Selama persetujuan belum turun, emiten tambang, termasuk Vale Indonesia, berada dalam posisi unik, diuntungkan oleh harga yang naik, tetapi dibatasi secara hukum untuk memproduksi. 

Dalam kondisi tersebut, reli harga berisiko tidak sepenuhnya terkonversi menjadi kenaikan pendapatan dan laba bersih.

Di sisi lain, pasar juga masih mencermati faktor pembatas tambahan berupa tingginya stok nikel LME, yang telah melampaui 250 ribu ton per akhir Desember 2025, jauh di atas rata-rata sepanjang 2025. Level stok ini berpotensi menahan kenaikan harga lebih agresif jika tidak diimbangi pengetatan pasokan yang nyata.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79