KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa hari terakhir selalu ditutup koreksi. Namun, pelemahan indeks ini dinilai bisa menjadi peluang emas bagi investor yang memiliki dana menganggur.
Padan sesi I perdagangan hari ini, Jumat, 5 Juni 2026 , IHSG terpantau tersungkur usai melemah 2,53 persen atau 147 poin ke level 5.692
BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan, koreksi IHSG dalam beberapa hari terakhir dapat menjadi momentum bagi investor untuk mulai mengakumulasi saham karena dinilai sedang menarik.
BRI Danareksa mencatat koreksi tajam menyeret turun sejumlah saham konglomerasi big caps. Menurut mereka, sebagian kini diperdagangkan di PE yang lebih wajar dan mulai masuk radar value.
"IHSG di kisaran 5.715 pada Jumat, 5 Juni 2026, bikin valuasi banyak emiten berkualitas lebih menarik. Bagi yang punya dana nganggur, ini peluang akumulasi, asal disiplin," tulis BRI Danareksa dalam keterangannya.
Terkait hal itu, BRI Danareksa mengimbau agar investor memperhatikan sejumlah hal sebelum membeli saham. Pertama, fokus fundamental kuat, neraca sehat, arus kas stabil, prospek solid dan bukan sekadar yang turun dalam.
Kedua, cicil bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA), jangan all-in dan tidak perlu tebak bottom. Ketiga, investor diingatkan untuk menyisakan cadangan cash untuk mengantisipasi pelemahan lanjutan.
"Koreksi sama dengan kesempatan beli aset berkualitas di harga lebih murah. Sabar, bertahap, basis fundamental," ungkap BRI Danareksa.
IHSG Dalam Tekanan, BEI Beri Penjelasan
Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya angkat bicara merespons tekanan yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir. Di tengah volatilitas pasar dan meningkatnya kekhawatiran investor, BEI menegaskan bahwa kondisi fundamental emiten domestik masih berada dalam tren yang solid serta meminta pelaku pasar tetap rasional dalam mengambil keputusan investasi.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menekankan bahwa investor perlu kembali berpegang pada data dan fundamental perusahaan, bukan sentimen jangka pendek maupun informasi yang belum terverifikasi.
“Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada investor untuk dapat mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan juga berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor,” ujar Jeffrey di pressroom media Gedung BEI, Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa kondisi fundamental emiten saat ini masih tergolong kuat. Berdasarkan laporan keuangan yang telah dirilis, kinerja perusahaan tercatat menunjukkan pertumbuhan yang konsisten hingga akhir 2025, bahkan berlanjut pada awal 2026.
“Fundamental dari perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini dalam kondisi baik,” kata Jeffrey.
Ia memaparkan, laba emiten secara agregat tumbuh lebih dari 21 persen pada akhir 2025. Sementara itu, khusus kelompok saham LQ45, pertumbuhan laba bersih pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 29,9 persen.
Tidak hanya itu, kualitas kinerja emiten juga tercermin dari tingginya jumlah perusahaan yang mencatatkan laba. Pada kuartal I 2026, sekitar 80 persen emiten membukukan laba bersih, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63 persen emiten yang mencatatkan laba, sementara pada 2021 hingga 2025 berada di kisaran 73 hingga 76 persen.
Menurut BEI, data tersebut menunjukkan bahwa kondisi fundamental pasar modal Indonesia masih kuat dan dapat menjadi pijakan bagi investor dalam mengambil keputusan di tengah fluktuasi pasar.
Selain menyoroti fundamental, BEI juga menegaskan bahwa sejumlah kebijakan pengamanan pasar yang telah diterapkan sejak tahun sebelumnya masih berlaku. Kebijakan tersebut mencakup fasilitas buyback tanpa RUPS, penundaan pelaksanaan short selling, serta berbagai langkah stabilisasi lainnya.
“Nggak, semua kebijakan masih tetap sama,” ujar Jeffrey saat ditanya mengenai kemungkinan perubahan kebijakan perdagangan. (*)